Oleh: Zakiyah Ummu Rosyad
Pemerhati Umat

Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat kembali disesaki pengunjung meski masih dalam masa pandemi Covid-19. Rata-rata para pengunjung datang untuk berburu baju baru jelang Lebaran Idul Fitri 2021.

Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) Pasar Tanah Abang juga disesaki pengunjung yang asyik memilih pakaian. (Liputan6.com 02/05/2021)

Kerumunan dalam jumlah sekala besar pun tak terbendung, meskipun ada pihak keamanan hingga menerjunkan Polda Metro jaya untuk mengatasi kerumunan. Hal ini tidak diindahkan oleh warga yang tetap saja asyik berbelanja.

Fakta membludaknya kerumunan menjelang lebaran dan potensi penyebaran virus tidak bisa dikembalikan pada kesadaran individu rakyatnya. Butuh kebijakan yang tegas dari pemerintah dalam penerapan pencegahaan penyebaran terkait virus ini. Namun, di saat yang sama justru ada kebijakan yang mendorong konsumsi dengan alasan perbaikan ekonomi, sungguh kebijakan penuh ironi bahkan paradoks.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani, punya cara jitu mendongkrak perekonomian yang lagi lesu karena pandemi. Eks Direktur Pelaksana Bank Dunia itu minta rakyat tetap beli baju saat lebaran nanti, meski mudiknya tetap dilarang. (WartaEkonomi.id )

Hal itu disampaikan Sri Mulyani saat menyampaikan keterangan pers APBN Kita, Kamis lalu. Dalam kesempatan itu, Sri Mulyani meminta masyarakat tetap menyambut lebaran dengan penuh sukacita. Jangan lupa, kata dia, kegiatan belanja menjelang lebaran seperti membeli baju baru harus tetap berjalan. Tujuannya agar kegiatan ekonomi tetap berjalan.

Usulan Sri Mulyani itu jadi obrolan hangat di jagat Twitter. Macam-macam komentarnya. Ada yang setuju ada yang mengritik. beberapa warganet membalas dengan komentar yang beragam.

Akun @JacksQuevara malah menganggap usulan Sri Mulyani itu ngejek. "Sampean enak bu gaji gede bonus gede, lah kita," ujarnya. "Lagi cekak begini disuruh belanja. Jeng jeng..," ujar  @nyoiyekan. "Lagi nggak ada duit Bu...tahun ini gak beli baju lebaran," ujar @DsSupriyady.

Senada disampaikan akun @FaruqAbaz. Kata dia, bagaimana mau belanja untuk lebaran, harga karet anjlok, harga gabah juga turun. "Piye jeng...? Mbok pakai nurani gitu loh...," sindirnya.  "Jangan bercanda bu. Bisa beli beras saja Alhamdulillah," timpal @blengger. 

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya seorang imam (kepala negara) laksana perisai, rakyat di belakangnya dan dia menjadi pelindung bagi rakyatnya" (HR Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu, tidak wajar kalau seorang pemimpin membiarkan rakyatnya terlilit berbagai kesulitan, baik dalam bidang ekonomi, sosial kemasyarakatan, maupun keamanan. Penguasa tidak boleh membiarkan rakyat miskin dan lapar. Penguasa juga tidak boleh membiarkan rakyat mengeluh karena sekolah mahal dan biaya kesehatan yang tinggi dan lain sebagainya.

Terkait dengan penangan covid-19 yang sampai saat ini belum bisa secara tegas di lakukan, alih-alih ingin mendongkrak ekonomi rakyat justru upaya itu akan menjadi buah simalakama bagi pemerintah.

Disatu sisi dalam pencegahan penyebaran virus belum sepenuhnya di patuhi rakyatnya, sekarang malah membuat kebijakan yang menimbulkan kerumunan warga hanya sekedar untuk memenuhi keperluan lebaran yang sebenarnya itu bukan perkara urgent pada saat ini.

Lalu bagaimana seorang pemimpin islam dalam menangani kondisi yang sedang terjadi saat ini, islam dan sistem kehidupan yang berasal dari AlQuran dan Islam sudah membuktikan kemampuannya dalam menyelesaikan berbagai masalah kehidupan. Termasuk dalam penanganan wabah yang melanda masyarakat.

Dalam sejarah tercatat bagaimana kesuksesan Khalifah Umar bin Khaththab menyelesaikan serangan wabah thaun yang menimpa rakyatnya di syam. Kesuksesan melawan wabah yang telah diraih khalifah Umar insya Allah akan terulang kembali karena faktor utamanya bukan terletak pada beliau sebagai pribadi, namun disebabkan karena sistem aturan yang diterapkan oleh beliau.

Bagi orang beriman kedatangan wabah adalah bagian dari ujian yang sudah menjadi sunnatullah yang akan diberikan dalam kehidupan dunia sehingga sikap yang mesti dimiliki adalah siap dan bersabar, seperti difirmankan Allah SWT:

﴿وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ﴾

“Sungguh akan Kami uji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan serta kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Karena itu gembirakanlah orang-orang yang sabar.” (TQS al-Baqarah [2]: 155).

Demikian juga wabah Covid-19, salah satu pesannya adalah semakin membuktikan lemahnya manusia dan betapa Mahakuasanya Allah untuk meruntuhkan kesombongan para penguasa zalim. Kemajuan ilmu teknologi yang mereka banggakan tidak ada artinya di sisi keagungan Allah. (muslimahnews)

Dalam menangani masalah wabah, khalifah Umar tidak berhenti hanya menyerahkannya pada takdir Allah saja, namun justru bersegera terikat kepada syariat yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Rasulullah saw bersabda,

«إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ»

“Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri.”

Apa yang telah di contohkan oleh Umar dalam menangani masalah wabah, seharusnya bisa jadi kita jadikan pelajaran dalam penanggulangan pencegahaan penyebaran virus ini.

Sebab Negara hadir sebagai penanggung jawab urusan umat. Negara senantiasa ada dan terdepan dalam setiap keadaan. Negara tidak menyerahkan urusan rakyatnya pada pihak lain. Dalam keadaan apa pun keselamatan rakyat senantiasa akan menjadi pertimbangan utama negara.

Sikap plin-plan dan ragu ragu dalam mengambil langkah solusi menghadapi wabah boleh jadi muncul karena lemah dalam memahami kemahakuasaan Allah SWT dan tidak adanya rasa kepercayaan diri.

Seperti yang sekarang terjadi di negeri ini, pemimpin tertinggi tidak berani mengambil keputusan tegas berupa karantina wilayah yang akan memutus rantai penyebaran virus covid meluas ke tempat lain. Pasalnya, tidak siap menangani implikasi kebijakan ini.

Seperti yang kita ketahui krisis ekonomi ini bukan disebabkan karena datangnya wabah penyakit atau terjadinya bencana alam, keduanya hanya faktor yang mempercepat kemunculannnya. Sebelum ada wabah pun rakyat sudah dililit kesulitan ekonomi yang terus menghimpit.

Dalam hal ini dikarenakan negara masih mengunakan sistem kapitalisme yang membuat negara kehilangan peran nya sebagai pelindung. Sehingga membuat harta kekayaan yang seharusnya milik rakyat justru bisa dengan bebas dimiliki oleh segelintir orang yang berkuasa, entah itu pengusaha lokal maupun investor asing.

Sungguh terdengar ironi namun itulah kenyataan sebenarnya yang terjadi di negeri kita saat ini yang jarang terekspose oleh media. Media justru memilih menyiarkan berita lain yang tidak penting upaya untuk pengalian isu.

Tidak ada yang salah dengan persiapan baju yang serba baru saat idul fitri, namun yang perlu kita ketahui dalam arti Idul Fitri secara bahasa artinya adalah kembali berbuka, hari boleh makan dan minum, setelah berpuasa Ramadhan. 

Idul fitri itu bukan hanya sejedar ganti baju baru akan tetapi kembali kepada fitrah. Menjadi manusia baru yang lebih bertakwa sebagaimana yang disyariatkan, jika individu maka menjadi individu yang bertakwa, jika negara maka negara itupun juga menjadi negara yang bertakwa, sedangkan negara yang bertakwa itu adalah yang mau menggunakan syariat Islam dan menjalankannya.

Sebelum merayakan Idul Fitri, umat Islam wajib membayar zakat yang disebut zakat fitri atau zakat fitrah. Zakat fitri adalah zakat yang wajib dilakukan umat Islam disebabkan berbuka dari puasa Ramadhan. Bertujuan untuk menyucikan diri dan membersihkan perbuatannya.

Inilah lah yang seharusnya kita prioritas untuk menyempurnakan ibadah kita. Jangan sampai kita bisa berbelanja perlengkapan lebaran namun terlupa hingga tidak menunaikan zakat kita. Semoga Allah segera mengangkat wabah dimuka bumi ini. Aamiin.

Wallahu'alam.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations