Menteri BUMN Erick Thohir menyinggung anak usaha PT Krakatau Steel (Persero) Tbk saat rapat dengan Komisi VI DPR. Menurut Erick BUMN berkode saham KRAS itu memiliki 60 anak usaha, sementara utangnya menumpuk hingga Rp 40 triliun
Gambar: Minningnews

Lantas apa yang membuat Krakatau Steel punya anak usaha begitu banyak? Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu menjelaskan jumlah anak usaha sebanyak itu merupakan akumulasi sejak perusahaan digagas medio 1960-1970-an.

"Dia ini banyak anak usahanya lahir dari akumulasi sejak pembentukannya di zaman orde lama, orde baru. Dari zaman Bung Karno ini pembentukannya, beranak pinak lah dia," ucap Said  Senin (02/12/2019).

Menurut Said, dahulu Krakatau Steel memang perusahaan besar, untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan perusahaan maka dibentuk anak usaha. Dia mencontohkan, untuk mengelola kawasan mereka membuat anak usaha, mengelola pabrik dibuat lagi anak usaha lain.

"Dulu dia memang besar sekali, semua yang dibutuhkan punya PT semua untuk penuhi kebutuhannya. Misalnya, Krakatau Steel kan dia sebagai pengelola kawasan dan pabrik baja, itu pengelola bikin PT, pabrik bikin PT," cerita Said.

Said menyebut hampir semua kebutuhan Krakatau Steel memiliki unit usaha sendiri, bahkan sampai pemasaran saja dibuat anak usaha.

BACA JUGA:

"Dia besar sekali sehingga ada banyak (anak usahanya), hampir semua kebutuhan di-supply anak usaha. Bahkan, termasuk pemasarannya," ucap Said.

Said menilai, mayoritas anak usaha dibentuk sebelum adanya Kementerian BUMN. Maka dari itu, pembentukannya terkesan tanpa pengawasan. Justru kini Said mengatakan Kementerian BUMN mulai menertibkan anak-anak usaha yang kurang kontribusi.

"Tapi memang pembentukan anak usahanya ini saya pikir itu dibentuk sebelum adanya Kementerian BUMN sebelum UU BUMN. Sekarang kan mulai ditertibkan mulai dijualin, anak-anak (usaha) yang kurang," ucap Said.

Said juga menilai kalau melihat dari segi bisnis Krakatau Steel yang sekarang, memang tidak wajar memiliki puluhan anak usaha. Penertiban, menurutnya harus segera dilakukan.

Meski begitu, Said menyatakan beberapa anak usaha Krakatau Steel yang usahanya berjalan sesuai core alias inti bisnis baja masih bisa dipertahankan. Dia memberi contoh, unit usaha pengelola kawasan, pengelola pabrik, ataupun pengelola pelabuhan masih bisa dipertahankan.

"Kalau dilihat ya nggak wajar, harus ditertibkan. Yang ditahan core-nya aja sebagai industri baja. Kayak pengelola kawasan, pabrik, itu penting. Pelabuhan juga sih harus dikuasai," ucap Said.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations