Oleh : Siti Anisa Ramdhania

REPUBLIKA.CO.ID, Maraknya prostitusi daring yang melibatkan anak-anak di Jakarta dan kota-kota penyangganya, dinilai sudah masuk tahap darurat. Fenomena yang disebut seperti 'puncak gunung es' ini harus ditanggulangi bersama.

REPUBLIKA.CO.ID, Maraknya prostitusi daring yang melibatkan anak-anak di Jakarta dan kota-kota penyangganya, dinilai sudah masuk tahap darurat. Fenomena yang disebut seperti 'puncak gunung es' ini harus ditanggulangi bersama. Awal tahun 2021 disambut dengan terbongkarnya praktik prostitusi anak di Apartemen Green Pramuka, Jakarta Pusat, pada 9 Januari. Sebanyak 12 perempuan di bawah umur diamankan aparat karena terbukti terlibat prostitusi daring dengan menggunakan aplikasi MiChat.

https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/qtrkli396

Astaghfirullah, begitu miris zaman sekarang apalagi di tengah pandemi, kasus prostitusi kian meningkat bahkan terjadi pada anak-anak di bawah umur. Praktik prostitusi anak di bawah umur sudah sangat memprihatinkan, terutama dengan banyaknya kasus eksploitasi anak, baik atas kemauannya sendiri maupun atas paksaan dari para oknum.

Banyak beberapa faktor mengapa kasus tersebut marak dan masuk status darurat. Diantaranya ada dimana  hidup dalam keluarga yang pemahaman agamanya yang kurang, lingkungan keluarga yang tidak ideal,  terpengaruh oleh tontonan, internet, bacaan, tuntutan ekonomi dan sebagainya.
Memang di masa pandemi ini semua serba sulit bahkan kebutuhan hidup pun harus di penuhi setiap hari. Segala cara di tempuh bahkan sampai dengan melanggar syari'at.

Kasus ini tentu bisa saja terjadi karena di paksa oleh  orangtuanya atau bahkan kemauan mereka sendiri demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Selain itu, bukan tidak mungkin kegiatan prostitusi untuk dilakukan oleh anak-anak di bawah umur. Seiring dengan berjalannya perkembangan zaman, faktor yang paling dominan seorang anak menjadi PSK bukanlah sekadar alasan kemiskinan semata, melainkan pula sudah menjadi tuntutan gaya hidup yang dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan negatif. Nauzubillah

Bagaimana peran Negara?

Tentu, kasus tersebut kian menjamur bahkan dalam situasi pandemi. Tidak ada pandemi saja sudah banyak terjadi apalagi saat pandemi, makin meningkat pesat. Maka bagaimana semestinya peran negara? Dimana negara yang harusnya menjadi perisai bagi ummat, justru tidak terpenuhi. Alhasil, ketika terjadi sebuah penyimpangan, malah sibuk mencari solusi tidak kepada akar permasalahan. Padahal, penyebabnya adalah tidak adanya peran negara dalam menjaga umat.

Gambaran kehidupan saat ini sungguh sangat jauh berbeda dengan gambaran kehidupan di masa pemerintahan Islam (khilafah). Islam yang dulu pernah berjaya lebih dari 13 abad yang in syaa Allah akan bangkit kembali telah berhasil melahirkan anak-anak yang sholih dan sholihah menjadi  generasi generasi yang cemerlang dan memiliki jiwa pejuang yang tercermin pada era kekhilafahan. Dan berhasil membina umat menjadi  pendidik dan mendidik  anak-anak nya menjadi umat terbaik. Maa syaa Allah.

Aturan Islam memberikan efek jera bagi para pelaku.  Sebab kita tahu, jika hanya sekedar hukum penjara yang diberikan, maka tidak berefek signifikan. Buktinya, banyak para pelaku yang dijebloskan ke penjara, lalu bebas, dan mereka malah melakukan kasus yang sama lagi. Ya karena tidak ada efek jera. Sebab keadilan itu sendiri hanya diberikan kepada para orang-orang tertentu, hanya yang kaya saja yg diberikan perlindungan, ketika penguasa memakan harta rakyat, ya dihukum seringan-ringannya. Sedangkan mereka yang rakyat jelata ketika melakukan kesalahan kecil, justru dihukum seberat-beratnya. Adil?
Tidak, sebab aturan demikian tidak terlepas dari buatan manusia. Maka, Islam adalah solusi keadilan.

Sebagaimana Allah SWT berfirman :

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًاۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـًٔاۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

Artinya :
"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam). Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”
(QS. An-Nur [24]:55)

Berbanding terbalik dengan kehidupan saat ini,  karena kita hidup dalam sistem kufur. Dimana syariat Islam tidak di terapkan secara menyeluruh. Maka solusi yang paling efektif, tepat dan mengakar adalah dengan menerapkan hukum-hukum Allah.

Sebab, hanya aturan Allah lah sebaik-baik aturan dan seadil-adilnya keadilan. Sehingga, ketika negara siap menerapkan aturan-aturan Allah, maka pasti negara akan dijamin oleh Allah keamanannya sebagaimana sistem Islam yaitu khilafah yang pernah diterapkan dan dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat mulianya dahulu. Semoga dengan tegaknya khilafah dengan menerapkan aturan Islam yang berasal dari Sang pencipta  (Al Kholiq ) Islam akan terus bangkit dan semakin berjaya memimpin dunia. Aamiin
Walahu a'lam bishowab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations