Oleh: Ummu Daris
Komunitas Ibu Bahagia

Sudah menjadi rahasia umum bahwa prostitusi di kalangan publik figur menjadi hal yang wajar, kita sering mendengar berita seperti ini dari tahun ke tahun.

Kaliini kita disuguhkan kembali dengan berita tentang tertangkapnya dua orang publik figur ST (27) dan MA (26) yang terlibat prostitusi online (Republika.co.id,26/11/20). Keduanya ditangkap di dalam kamar hotel di kawasan Jakarta Utara pada saat sedang menunggu pelanggan (Rabu malam, 25/11/20).

Saat ini prostitusi menjadi lahan bisnis yang sangat subur dan menjanjikan, padahal prostitusi ini jelas keharamnnya, tapi mengapa di Indonesia yang notabene negara dengan penduduk mayoritas Islam terbesar di dunia prostitusi menjadi bisnis yang sangat subur dan menjanjikan ? apalagi angka penghasilan dalam bisnis prostitusi di Indonesia menempati urutan ke-12 di dunia dengan nilai sebesar USD 2,25 miliar atau sekitar Rp. 30 triliun per tahun (Liputan6.com, 29/07/20) ini membuat kita merasa miris.

Hedonisme menjadi salah satu faktor utama terjeratnya seseorang dalam prostitusi, apalagi di kalangan publik figur yang terkenal dengan gaya hidup yang mewah dan glamor. Hedonisme sendiri merupakan pandangan hidup yang berasaskan hawa nafsu, menganggap bahwa kesenangan atau kenikmatan adalah tujuan akhir hidup manusia. Gaya hidup hedonis adalah imbas dari sistem sekuler kapitalis yang memisahkan agama dari kehidupan. Mereka yang hedonis ini ingin mendapatkan kebahagiaan dan kenikmatan dunia dengan bebas tanpa peduli apakah perilakunya sesuai dengan aturan Islam apa tidak. Sebenarnya mereka sedang masuk dalam jebakan kapitalisme, yang mana dalam kapitalisme telah menjadikan materi dunia sebagai sarana tolak ukur kebahagiaan termasuk dalam hal 'kepuasan seksual'. Tuntutan glamor para publik figur seolah-olah menjadi sebuah keharusan, yang akhirnya jatuh pada kenestapaan dunia yang menipu.

Sanksi hukum juga tidak pernah tegas membidik orang-orang yang terlibat di dalam prostitusi. Jikapun ada yang terjerat hukum itupun hanya mucikari yang mengambil keuntungan semata. Pelaku perzinahannya bebas, justru inilah yang menjadi pangkal rentetan masalah. Prostitusi menjadi fenomena gunung es, kejahatannya semakin tidak terdeteksi. Penyakit-penyakit seksual bermunculan, kerusakan nasab mengancam tatanan masyarakat dan generasi bahkan berbuah kriminalitas.

Tentu kita semua tidak ingin negeri ini terpuruk dalam jurang kehancuran, karena telah membiarkan kemaksiatan berjalan mulus. Dan kita juga tidak bisa berharap prostitusi akan tuntas di era kapitalis ini, hanya Islam yang mampu membasmi prostitusi sampai keakar-akarnya, kita harus mengubah cara pandang sekuler kapitalis ke cara pandang Islam. Dalam Islam tolak ukur kebahagiaan bukanlah pencapaian materi namun kebahagian dalam Islam adalah hidup sesuai syariat untuk mendapat ridho Allah subhanahu wa taala. Dengan demikian kita akan senantiasa terjaga dan terhindar dari perbuatan yang sia-sia seperti hedonisme, karena kita hanya disibukkan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang Allah sukai saja.

Islam memberi hukuman yang sangat tegas bagi pelaku perzinahan, solusi yang diberikan Islam nyata mampu menghilangkan segala masalah akibat prostitusi ini. Bagaimana tidak? Sebelum menjadi industri prostitusi, pelaku perzinahan secara individual telah telah mendapat hukuman yang setimpal. Hukum rajam (dilempari batu) diberikan pada pelaku perzinahan yang pernah menikah. Sedangkan bagi pelaku perzinahan yang belum menikah dikenai hukuman jilid (cambuk 100 kali) lalu diasingkan selama satu tahun.  Hukuman tersebut memberi efek jera bagi pelaku juga pada orang lain, jadi jangan harap ada orang yang berhasrat untuk menjadikan prostitusi sebagai lahan bisnis karena efeknya sangat mengerikan.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations