Oleh : Lilik Yani
Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Kondisi negeri masih diuji pandemi. Lebih delapan bulan anak-anak tak datang ke sekolah untuk belajar. Sebagai gantinya mereka belajar jarak jauh atau daring.

Awalnya senang, menikmati, namun karena pandemi tak kunjung henti maka kebosanan mulai melanda para anak didik. Apalagi terkadang harus berhadapan dengan kemarahan ibu di rumah, ketika kesulitan mengerjakan tugas daring. Hingga anak merasa semakin rindu untuk segera belajar di sekolah, duduk di bangku kenangan yang sudah lama ditinggalkan. Bisa bertemu bapak ibu guru dan teman-teman.

Ketika ada wacana bahwa sekolah tatap muka akan dibuka. Maka serasa mendapat durian runtuh. Kabar yang membahagiakan itu membuat anak-anak senang. Hanya saja karena kondisi pandemi, maka tak semua orang tua rela melepas anak-anak pergi ke sekolah. Khawatir paparan corona masih merajalela kemana-mana.

Dilansir Kompasiana.com, 16 November 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim beserta Satgas Penanganan Covid-19 sudah memperbolehkan sekolah-sekolah yang berada didaerah zona hijau maupun zona kuning untuk membuka kembali sekolah tatap muka. Namun, Satgas meminta untuk sekolah-sekolah yang berada di daerah zona merah dan oranye untuk tidak membuka sekolah tatap muka terkait dengan risiko penularan Covid-19 sehingga masih harus dilakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Wacana pembukaan sekolah pada Januari 2021 tersebut masih banyak mengundang pro dan kontra di kalangan masyarakat.

Beberapa orang setuju untuk dibukanya sekolah tatap muka pada Januari 2021. Dilihat dari sisi psikologi, para peserta didik sudah mulai merasa jenuh dengan sistem pembelajaran jarak jauh ini. Tidak bisa dipungkiri jika sekolah online justru lebih melelahkan bagi anak-anak. Mendengarkan materi yang dijelaskan bapak atau ibu guru secara online melalui Zoom, lalu mencatat materi tersebut. 

Bahkan beban tugas yang diberikan pun lebih banyak dibandingkan saat sekolah offline yang menyebabkan anak-anak menjadi stres dan tertekan. Suasana belajar di ruang kelas serta bertemu dengan teman-teman disekolah merupakan hal-hal kecil yang tentu saja sangat dirindukan dan ditunggu-tunggu oleh sebagian besar peserta didik. 

Selain itu, pembelajaran jarak jauh seperti ini juga menambah kekhawatiran guru maupun orangtua akan kemampuan peserta didik dalam menyerap materi pembelajaran yang diberikan, karena nyatanya saat praktik langsung saja para peserta didik belum tentu mengerti akan materi yang disampaikan.

Ada beberapa opsi yang dikemukakan jika sekolah kembali dibuka, seperti memberlakukan sistem shifting, membatasi jumlah siswa masuk, serta menerapkan protokol kesehatan. Salah satu negara yang sudah membuka kembali sekolah tatap muka adalah Denmark. Denmark merupakan negara pertama diEropa yang kembali membuka sekolah dan penitipan anak. Pembukaan sekolah telah dilakukan sejak 15 April, di mana anak-anak yang diizinkan kembali ke sekolah adalah mereka yang berusia 2 hingga 12 tahun.

Di samping itu, banyak juga masyarakat khususnya orangtua yang tidak setuju dibukanya sekolah pada Januari 2021 disaat wabah Covid-19 belum tuntas di Indonesia. Sebagian besar orangtua merasa khawatir akan keselamatan anak-anak mereka jika harus kembali ke sekolah dalam waktu dekat. 

Jika sekolah kembali dibuka, maka akan terjadi interaksi secara langsung serta kemungkinan besar terjadinya perkumpulan. Epidemilog dr Dicky Budiman M.Sc.PH, PhD (Cand) Global Health Security tidak menyarankan untuk membuka sekolah pada situasi yang belum benar-benar baik. Menurutnya, membuka sekolah pada masa pandemi ini berisiko memunculkan gelombang kedua virus Covid-19. Ia juga menambahkan, menurut studi yang di terbitkan Sera et al pada tahun 2012, menunjukkan bahwa seluruh sekolah akan tutup jika 0,1 persen populasi mengalami sakit atau pandemi.

Kita dapat mengambil contoh beberapa negara yang kembali menutup sekolah-sekolah akibat adanya penambahan kasus baru terkait virus Covid-19. Seperti di Korea Selatan, melansir BBC News pada bulan Mei lalu yang memulai kembali aktivitas belajar di sekolah setelah negara itu melonggarkan pembatasan. Terdapat 79 kasus tambahan baru sehari setelah dibukanya sekolah dinegara itu. Munculnya kasus baru tersebut sebagian besar dikarenakan beberapa perusahaan yang tidak mematuhi langkah pencegahan infeksi, sehingga diharuskannya 200 sekolah untuk kembali ditutup. 

Detik News.com, Ada tiga pihak yang menentukan apakah sekolah dibuka atau tidak. Pertama, pemerintah daerah setempat. Kedua, kepala sekolah setempat. Ketiga, komite sekolah yang berisi perwakilan orang tua dan wali murid.

Bila nanti sekolah dibuka, maka protokol kesehatan pencegahan COVID-19 harus diterapkan. Kapasitas kelas hanya boleh setengah terisi, jaga jarak minimal 1,5 meter, semua mengenakan masker, hingga pemeriksaan suhu tubuh diwajibkan.

Perlu Dikaji Mendalam

Adanya pro kontra dari wacana sekolah tatap muka yang akan diterapkan bulan Januari 2021, perlu pengkajian mendalam. Bukan sekedar untuk bisa belajar normal dan mendapatkan ilmu pengetahuan semata. Namun sisi lain yang lebih penting untuk dipikirkan adalah masalah jiwa seorang manusia yang harus dilindungi.

Ketika pandemi belum reda, kebijakan pemerintah untuk menerapkan new normal saat itu. Umat menyambut gembira karena merasa bisa aktivitas seperti biasa. Hanya saja anak sekolah yang belum boleh keluar. Pembelajaran tetap dengan daring. Apa yang terjadi? New normal berjalan, namun korban covid-19 berjatuhan. Tak hanya masyarakat biasa, tenaga medis dan para dokter tak lepas dari serangan corona.

Nah, kesimpulannya apa? Saat kondisi dipaksakan. Pandemi masih berjalan, namun dibuat sebagaimana kondisi normal, maka korban yang bermunculan. Itu dalam keadaan anak sekolah tetap di rumah lho.

Bagaimana jika sekolah tatap muka diterapkan? Banyak hal yang harus disiapkan. Sosialisasi yang mendalam hingga paham, tentang protokol kesehatan yang harus dikerjakan. Ada sanksi jika ada yang melanggar. Sarana prasarana juga harus disiapkan demi keamanan dan kenyamanan belajar. Dan hal-hal lain yang harus diperhatikan karena berhubungan dengan jiwa manusia.

Islam Sangat Memperhatikan Jiwa

Dalam pemerintahan Islam, satu jiwa muslim lebih berharga daripada dunia seisinya.

"Hancurnya dunia lebih ringan bagi Allah daripada terbunuhnya satu orang muslim." (HR An Nasa'i)

Dari awal Islam sudah sangat menjaga umatnya. Saat terjadi wabah, pemerintah segera sigap untuk melakukan isolasi. Daerah wabah tidak boleh keluar, semua kebutuhan hidupnya dicukupi negara. Sementara di luar wabah tetap menjalankan aktivitas seperti biasa, termasuk jalannya perekonomian. Juga dalam proses belajar mengajar.

Jadi tidak akan terjadi campur aduk antara yang sakit dan sehat, interaksi dan terjadi penularan. Tidak terjadi defisit apalagi resesi. Tidak pula terjadi stres anak-anak karena lama dikungkung di rumah, karena pandemi tak kunjung usai. Tak ada pro kontra di antara umat karena semua puasdalam periayahan.

Begitu memuaskan jika aturan Islam diterapkan. Ujian pandemi bisa dinikmati karena semua dalam riayah negara. Bagi yang sakit akan mendapat perawatan maksimal, bagi yang sehat tetap bisa menjalankan aktivitas normal.

Wallahu a'lam bishowwab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations