Oleh: Ita Husnawati

Mungkin banyak yang mengira bahwa ketika syari’at Islam ditegakkan dalam sebuah Daulah Khilafah Islamiyah, warga negara non muslim akan terdiskriminasi.

Anggapan tersebut sangatlah keliru, karena pada faktanya, ketika Rasulullah SAW mendirikan  Daulah Islam di Madinah, warga negaranya tdak hanya Muslim, namun terdapat  kaum Yahudi maupuan penganut agama lain.

Bahkan dalam kitab Ad-Daulah disebutkan, seandainya ada seorang anak laki-laki yang memiliki Ayah beragama Islam dan Ibu beragama Nasrani dengan status ayah bukan warga negara Islam dan Ibu memiliki kewarganegaraan Islam, maka yang berhak mendapatkan nafkah adalah Ibunya, sedangkan ayahnya tidak. Begitu baiknya sistem Khilafah memperlakukan warga negaranya tanpa memandang perbedaan agamanya.

Dalam bidang kesehatan, semua warga negara Khilafah dilayani dengan baik. Pernah suatu ketika ada non muslim yang ingin merasakan pelayanan rumah sakit Islam pada masa Khilafah, dia berpura-pura sakit, namun rumah sakit tetap melayani dengan sebaik-baiknya. Dalam sistem Khilafah, setelah pasien dirawat, kemudian dipulangkan ke rumahnya dengan diberikan uang saku sebagai bekal untuk memenuhi hajat hidup selama masa pemulihan. Berbeda beberapa derajat dengan sistem demokrasi yang diterapkan saat ini, yang membebani rakyat dengan iuran BPJS yang sering mengalami kenaikan. Dengan BPJS, setiap peserta harus membayar iuran baik sakit maupun sehat.

Selain itu, bagaimana perlakuan muslim terhadap non muslim lansia, tergambar dari beberapa kisah. Pernah suatu ketika ada orang Yahudi yang sudah tua usianya dan tak mampu lagi bekerja, maka negara Khilafah tidak memungut jizyah darinya namun tetap memberikan jaminan pemenuhan hak-haknya sebagai warga negara. Secara individu, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, pernah terlambat ke Masjid untuk berjama’ah subuh karena menjaga adab terhadap orangtua yang padahal orang tua itu Yahudi, sayyidina Ali tidak berani mendahuluinya. Allah menahan Nabi Muhammad SAW dalam ruku’nya hingga sayyidinaAli r.a. terkejar untuk mendapatkan shalat jama’ah Subuh. Bahkan Rsulullah SAW secara khusus menyuapi seorang kakek Yahudi yang buta namun lisannya sering mencaci maki Beliau. Maa syaa Allah itulah keagungan ajaran Islam dalam memperlakukan non Muslim keika non Muslim itu menjadi warga negara Islam, meskipun tidak masuk Islam namun menjadi bersedia menjadi warga negara Islam.

Belum lagi dalam sistem peradilan. Rakyat mendapat perlakuan seadil-adilnya termasuk non Muslim, diantaranya perkarara yang terkait hilangnya baju besi Khalifah Ali yang dimenangkan oleh Yahudi. Kemudian dalam penaklukkan yang terjadi di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang dibatalkan karena tidak sesuai prosdur, namun mereka sendiri (Nashrani) yang akhirnya menginginkan daerahnya ditaklukkan.

Begitulah tatanan kehidupan yang diatur dengan syari’at Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah. Seluruh warga negara dipenuhi hak-haknya dengan baik. Ditinjau dari kepemimpinannya Khalifah adalah sosok yang sangat bertanggungjawab terhadap rakyatnya, jangankan manusia, jika keledaipun yang terpeleset, betapa takutnya sang Khalifah akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah di akhirat kelak.

"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? (Q.S. Al Maidah: 50)"

Wallahu A’lambishowab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations