Oleh : Nurul Hikmah S Pd

"Mudik dilarang, wisata dibiarkan, apa corona bisa memilih kumpulan orang?" demikian salah satu bentuk protes warga terkait kebijakan larang mudik lebaran yang baru diterbitkan pemerintah.

Sudah menjadi budaya orang indonesia mudik menjelang hari raya untuk merayakan hari raya dan bertemu sanak saudara setelah sekian lama merantau di luar kota.

Namun di tahun ini pemerintah memberlakukan larangan mudik karena alasan pandemi, dari situs resminya aturan perjalanan tertuang dalam Addendum SE sadgas Nomor 13/02021 tentang peniadan Mudik Hari Raya Idul Fitri Tahun 1442 H dan upaya Pengendalian Penyebaran  COVID-19 Selama Bulan Suci Ramadhan1442 H. (CNBC,22/4/ 2021).

Menyesakkan ketika Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif  Sandiaga Uno, Justru menegaskan larangan mudik namun berwisata di perbolehkan selama mengacu pada protokol kesehatan dalam bingkai PPKM Skala Mikro (Tribunnews,com,16/4/2021).

Bagaima bisa mudik dilarang dengan alasan covid sedang pariwisata dibuka selebar-lebarnya yang justru sangat berpotensi terjadi kerumunan yang lebih banyak lagi.

Padahal dari kebijakan ini nasib pengusaha trasnportasi, di perkirakan mereka akan mengalami kerugian sekitar Rp 18 miliar, seperti yang disampaikan oleh Iqbal Tosin 

(TEMPO.Ramadhan, 16/4/ 2021).

Namun mereka berharap bukan larangan mudik, tapi bagaimana pemerintah mengatur arus mudik ini, sebab belajar dari tahun lalu banyaknya mobil pribadi dan trevel gelap yang memanfaatkan situasi.

Penerapan sistem kapitalisme yang menjadikan materi sebagai dasar utama sehingga melahirkan kebijakan yang hanya menguntungkan sebagian pihak dan demi kepentingan kelompok tertentu.

"Salus suprema lex esto" (keselamatan sebagai hukum tertinggi) yang menjadi alasan awal pelarangan mudik tampaknya hanya sampai pada lisan semata, namun tidak benar-benar ditampakkan dalam setiap kebijakan yang di ambil.

Berbeda dengan aturan Islam jika diberlakukan karena dalam negara Islam akan melahirkan pemimpin- pemimpin yang amanah terhadap jabatannya. 

Aturan Islam juga akan benar- benar serius menangani pandemi semacam ini, seperti melakukan Lock Down lokal wilayah agar pandemi tidak menyebar. Kedua, mengisolasi yang sakit sehingga siapa pun yang sakit akan segera di tangani dan diobati hingga sembuh, yang sehat bisa beraktifitas normal.

Beginilah Islam menangani warga dengan serius sebab Islam memandang bahwa masalah ini bukan hanya persoalan medis semata tetapi juga keselamatan jiwa manusia, Rasulullah SAW bersabda:

"Hilangnya dunia lebih ringan di hadapan Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim tanpa Hak" (H.R. An-nasai).

Sudah saatnya kita kembali pada aturan sang pencipta yang telah menciptakan dunia dan isinya yang pastinya lebih tahu solusi terbaik untuk manusia.

Walahu'alam

YOUR REACTION?

Facebook Conversations