Oleh: Ummu Alvin

Kuputusan Jaksa Penuntut Umum untuk menuntut hukuman mati dan kebiri kimia bagi terdakwa kasus pelecehan seksual, HW sebagai bukti dan komitmen untuk memberi efek jera kepada pelaku atau pihak lain agar tidak melakukan kejahatan serupa. Tuntutan JPU tersebut memunculkan pro dan kontra ditengah masyarakat.

Sampai saat ini perdebatan masih terus bergulir yang menandakan bahwa setiap orang memiliki sudut pandang sendiri, bagi yang setuju terhadap tuntutan hukuman mati merasa bahwa ini adalah momentum yang tepat untuk memberi efek jera bagi pelaku,namun bagi yang kontra terutama disini adalah KOMNAS HAM, mereka menganggap hukuman mati telah melanggar HAM yaitu hak untuk hidup.

Menurut Maidina Rahmawati, Peneliti Institute For Criminal Justice (ICJR), dengan memberikan hukuman mati kepada pelaku akan menghambat fokus pada pemulihan korban untuk kedepannya, bahkan dapat mendatangkan ancaman baru bagi korban. Dan kemungkinan lainnya dengan adanya hukuman mati terhadap pelaku akan menciptakan ketakutan baru bagi korban yang lain untuk melaporkan pengalaman mereka.

Dari berbagai ragam penolakan, pro dan kontra tersebut diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa penetapan hukuman tidak dapat diserahkan pada akal manusia, penilaian manusia akan selalu bertentangan dan untuk mengatasi persoalan besar ini dibutuhkan solusi mendasar baik dari segi pencegahan maupun sanksi yang ditetapkan.

Ketika hukuman mati dan kebiri atas pelaku kejahatan kemanusiaan ini dianggap bertentangan dengan HAM, lalu para pendukung tuntutan JPU ini mempertanyakan dimana HAM bagi para korban kejahatan, apakah penderitaan dan kehancuran psikis yang dialami korban tidak sebanding dengan seberat beratnya hukuman bagi pelaku?.

Inilah bukti cacatnya sistem sekuler demokrasi, memisahkan agama dari kehidupan, penetapan hukum diserahkan pada akal manusia, tidak disandarkan pada Zat Yang Maha Mengetahui hukum terbaik bagi hamba-NYA yaitu Allah SWT.

Perbedaan standar dan pendapat manusia yang mengantarkan pada perbedaan pilihan hukum yang sudah jelas-jelas telah ditentukan hukumnya oleh Allah SWT. Hanya aturan Allah SWT yang akan memberikan keadilan terbaik di dunia maupun di akhirat. Dalam seluruh aspek, yakni baik pada pelaku, korban maupun masyarakat secara keseluruhan.

Hukum yang adil ini hanya akan dapat diterapkan sempurna dalam sistem yang juga menerapkan aturan Allah SWT secara kafah dalam semua bidang kehidupan. Yaitu tegaknya Khilafah Islamiah yang tidak hanya akan melahirkan keadilan dalam perkara kejahatan seksual, atau segala kasus hukum lainnya. Tetapi juga akan meniscayakan tegaknya keadilan dalam seluruh problematik kehidupan lainnya seperti ekonomi, sosial, politik dan lainnya.

Wallahu a'lam bish shawwab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations