Oleh: Ummu Nada

Bingung! inilah yang dirasakan masyarakat saat ini. Ketika terjadi kampanye perilaku penyimpangan seksual yang nyata-nyata melanggar syariat dan melawan norma yag berlaku dimasyarakat, sebagian tokoh bersilang pendapat tentang hukuman bagi pelaku LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) dan orang yang mengampanyekannya.

Berawal dari podcast selebritas yang mengundang pasangan sejenis dengan judul yang membuat bergidik “ Tutorial Menjadi G4y di Indo!! “ . Siapapun yang masih waras pasti mengecam podcast viral tersebut, minimal dalam hati. Tayangan podcast yang sangat vulgar mengeksplor perilaku seks menyimpang ini mendapat tanggapan dari berbagai pihak.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengungkapkan pendapatnya bahwa LGBT maupun pihak yang menayangkan LGBT belum dilarang oleh hukum di Indonesia. Tidak ada pasal yang bisa menjerat pelaku dan penyiar LGBT, jadi ini bukan kasus hukum menurutnya ( CNN, 11/5/2022)

Berbeda dengan Pakar Hukum Pidana dari Universitas Indonesia (UI) Chudry Sitompul yang menyatakan LGBT itu dilarang berasal dari semangat UU perkawinan yang secara gamblang menyebut ikatan lahir batin antara pria dan wanita. Chudry menafsirkan perkawinan sesama jenis dilarang maka turunannya juga dilarang. Penafsiran in merupakan bagian dari penemuan hukum, imbuhnya (CNN, 12/05/2022)

Petinggi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Kyai Muhammad Cholil Nafis pun menyampaikan kritik kerasnya terhadap video yuotube selebritas yang mengundang pasangan gay Ragil Mahardika dan Frederik Vollert. Menurut Kyai Cholil, kaum melambai tersebut harus diobati bukan dibiarkan dengan dalih toleransi.

Dari beragam tanggapan diatas dapat ditarik benang merah bahwa hukum produk manusia tidak mencakup semua perbuatan manusia. Ketika muncul kasus yang nyata-nyata terlaknat dan ancaman siksaannya jelas termaktub dalam alquranul karim, mereka masih bersitegang dengan penafsiran masing-masing. Padahal akal yang menafsirkan hukum buatan manusia itu pun terbatas dan lemah maka dipastikan produk hukumnya pun cacat dan tidak akan solutif.

Pakar hukum saja masih beradu argumen untuk menetapkan hukuman bagi pelaku penyimpangan seksual ini, apalagi masyarakat yang awam hukum. Sama sekali tidak tergambar dalam benak masyarakat, hukuman yang pantas bagi perusak moral ini. Padahal dampak dari perbuatan ini bersifat sistemik. Rusaknya tatanan keluarga, hancurnya masa depan generasi hingga penyakit kelamin yang tidak ada obatnya sampai saat ini.

Namun ini menjadi wajar terjadi dalam atmosfir demokrasi liberal. Sistem pemuja kebebasan ini meniscayakan ambruknya benteng keimanan karena paham kebebasan yang dianutnya. Hukuman yang tegas bagi pelaku LGBT tidak akan pernah ada karena menjadi paradoks terhadap paham kebebasan tersebut. Atas nama hak asasi manusia (HAM), pelaku penyimpangan seksual ini berlindung dan dilindungi.

Sangat jauh berbeda dengan sistem Islam. Islam memandang LGBT sebagai perbuatan kriminal dan harus diberi sanksi tegas. Allah SWT menyebut kaum Nabi Luth ini sebagai pelaku kriminal

Allah Ta’ala berfirman:

{وَأَمْطَرْنَاعَلَيْهِمْ مَطَرًا ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ}

Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kriminal itu. [Al-A’raaf: 80].

LGBT dipandang sebagai perbuatan kriminal karena hukumnya haram dalam Islam. Dalam kitab-kitab fikih disebut dengan istilah al liwaath (homoseksual). Tidak ada khilafiyah di kalangan fukaha bahwa liwat hukumnya haram.

Dalil keharamannya antara lain sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan Imam Ahmad nomor hadist 2817,

Allah telah mengutuk siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth, Allah telah mengutuk siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth, Allah telah mengutuk siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth

Sanksi untuk homoseksual adalah hukuman mati, tidak ada khilafiyah di antara para fukaha, Sabda Nabi SAW :

Siapa saja yang kalian dapati melakukan perbuatan kaumnya Nabi Luth, maka bunuhlah keduanya (HR. AlKhamsah, kecuali An Nasa’i)

Hukuman tegas ini akan menjadi benteng yang melindungi masyarakat dari perilaku seks menyimpang. Hukuman ini akan memberikan efek jera pada pelaku LGBT (zawajir) dan mencegah orang lain melakukan perbuatan serupa, juga bisa sebagai penebus dosa (jawabir) pelaku nanti di akhirat di hadapan pengadilan Allah SWT.

Jika hukumannya jelas dan tegas, sudah pasti tidak akan menimbulkan polemik berkepanjangan seperti saat ini. Terbukti nyata bahwa hukum buatan  manusia tidaksolutif memecahkan problematika kehidupan. Jika pembuatan hukum diserahkan pada akal yang serba lemah dan terbatas maka dipastikan hukum tersebut disesuaikan dengan hawa nafsunya. Tak kan ada kemaslahatan sedikitpun.

Namun, memberlakukan sanksi tegas ini harus disertai dengan diberlakukannya semua aturan Islam dalam semua aspek kehidupan. Sehingga Islam benar-benar menjadi rahmatan lil alamin. Dan hanya bisa diterapkan dalam negara dengan bingkai khilafah Islamiyah.

Wallahu a’lam bisshawab

YOUR REACTION?

Facebook Conversations