Oleh: Ulfah, S.T.

Anak muda saat ini merupakan generasi penerus bangsa, negara, dan agama. Oleh karena itu untuk mencetak generasi yang berkualitas serta mempunyai kode etik yang baik diperlukan didikan dari orang tua, lingkungan bahkan negara. Tapi sayangnya diakhir zaman ini sangat sulit membentuk generasi seperti yang kita harapkan.

Ketika didikan orang tua sudah maksimal, tapi dapat dengan mudahnya dihancurkan oleh lingkungan dimana anaknya-anaknya bergaul. Dalam hal ini sering kali didikan orang tua tidak mendapat dukungan dari lingkungan bahkan negara. 

Perusakan generasi saat ini dapat kita jumpai pada konten-konten yang ada disosmed. Dimana generasi muda saat ini lebih tertarik membuat konten viral untuk mendapatkan like serta pujian yang banyak dari netizen daripada mempertimbangkan dampak negatif dari konten tersebut.  Tak heran jika generasi saat ini banyak yang labil bahkan mental healthnya itu rapuh karena video-video viral yang mereka tonton merupakan konten yang rata-rata menampilkan kecantikan, gaya hidup hedon, pacaran, ajang pamer aurat bagi wanita dan masih banyak lagi hal-hal negatif dari video viral yang sering viral (fyp) serta banyak yang menjadikannya panutan.

Alhasil, karena banyaknya konten viral saat ini banyak muda mudi yang ikut ikutan membuat video yang sama dengan lagu serta efek yang sama pula. Membuat konten bukanlah sesuatu yang dilarang atau diharamkan tapi apabilah konten itu isinya merupakan ajakan untuk bermaksiat, atau tidak mempunyai didikan yang baik alangkah baiknya kita hindari atau kurangi, karena ketika video yang kita buat viral kemungkinan besar akan diserap ilmunya bahkan dijadikan contoh oleh netizen.

Seperti fenomena yang viral saat ini Citayem Fashion Week yang merupakan ajang muda mudi untuk menampilkan fashion ala anak muda dengan harga outfit yang murah. 

Hal ini tentu mendapat perhatian dari banyak orang termasuk artis tanah air, namun hal yang menjadi perhatian adalah cara berpakaian dan cara mereka bergaul. Serta event ini menjadi panggung bagi orang dengan paham LGBT sangat miriss karena jika event seperti ini terus terjadi maka LGBT semakin susah dihilangkan karena mereka selalu mendapat panggung. 

Selain itu, event ini banyak ditiru oleh daerah lain. Hal ini menunjukan pengaruh sosial media itu sangat kuat.  Anak muda saat ini sangat mudah berkreasi disosial media dan lebih mengendepankan popularitas  maka konten apapun akan ia buat tidak peduli itu dibolehkan atau diharamkan yang terpenting viral dan mendapatkan banyak like serta pujian. Alasan lain anak muda lebih mengedepankan popularitas adalah agar dengan mudah mengahasilkan uang dan mendapat tawaran endorse dari brand produk terkenal, tentu ini akan membuat mereka semakin mendapat banyak panggung.

Dalam sistem kapitalisme Hal ini wajar terjadi karena dalam benak anak muda saat ini paham itulah yang mereka pahami dan praktekan jadi apapun aktivitas yang mereka lakukan tidak melibatkan ajaran agama dan selama itu tidak merugikan orang lain serta bisa mendapatkan uang tidak peduli halal dan haram lagi.

Berbanding terbalik dalam perspektif Islam semua aktivitas yang kita lakukan harus melibatkan aturan agama atau hubungan dengan sang pencipta. Jadi orientasinya adalah keridhoan Allah SWT. berbeda dengan sistem kaptalisme sekuler orientasinya adalah materi  dan kesenangan semata, dimana aturan agama tidak diterapkan dalam mencari materi.

Dalam Islam membentuk generasi harus ada peran Negara didalamnya dan Negara diharamkan mengambil untung dari aktifitas yang merusak generasi hanya untuk mendapatkan materi. Untuk mewujudkan generasi yang bekualitas orang tua, lingkungan dan Negara harus saling sinkron.

Negara harus lebih aktif karena cakupannya lebih luas dalam menyediahkan fasilitas yang mencerdaskan generasi dan menghilangkan fasilitas yang bersifat merusak seperti konten-konten viral saat ini banyak yang merusak itu seharusnya dihilangkan. 

Namun sayangnya hal itu hanya bisa diterapkan ketika Islam menjadi tolak ukur dalam bertingkah laku juga dalam membuat aturan yang mengatur sistem kehidupan manusia. Bukan seperti saat Ini yang menjadi patokan adalah dalam pembuatan aturan adalah paham sekulerisme. 

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allâh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persanggkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah mengira-ngira saja. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang orang yang mendapat petunjuk.” (TQS.Al-An’am[6]:116-117).

Wallahu ‘alam bishowab

YOUR REACTION?

Facebook Conversations