Oleh : Alfira khairunnisa
Pemerhati Generasi dan Aktivis Peduli Negeri

Generasi adalah tombak peradaban yang diharapkan dapat melanjutkan estafet perjuangan bangsa dan agama. Semangat muda dan kegigihan yang dimiliki para generasi muda bangsa diharapkan dapat melahirkan para pemuda dan pemudi kebanggaan umat yang dapat berkontribusi untuk memajukan negeri.

Namun, apa jadinya jika generasi yang diharapkan tersebut hidup tanpa aturan yang tepat hingga terjerumus dalam kerusakan?

Seabrek persoalan melanda negeri, terlebih sejak pandemi. Sebelum pandemi saja persoalan demi persoalan datang bertubi, apa lagi sejak pandemi. Termasuk diantara seabrek persoalan itu adalah kondisi remaja saat ini. Meningkatnya angka kenakalan remaja menjadi hal yang patut disoroti dan solusi untuk ditangani. Namun, hingga saat ini tak kunjung terselesaikan. Alih-alih terselesaikan, angka kenakalan remaja semakin melonjak naik. Disamping itu pemerintah justru mempersoalkan terkait pernikahan dini yang meningkat di masa pandemi.

Ya, pernikahan dini memang naik tajam. Ketua Panitera Pengadilan Agama Jepara Jawa Tengah, yakni Taskiyaturobihah menjelaskan bahwa tercatat mulai Januari hingga Juli, sudah ada 240 permohonan dispensasi nikah. Dari 240 pemohon dispensasi nikah, ada yang hamil terlebih dahulu dengan jumlah berkisar 50-an persen, sedangkan selebihnya karena faktor usia yang belum sesuai aturan, namun sudah berkeinginan menikah (JawaPos.com, 27/7/2020)

Di dalam Undang-Undang Nomor 16/2019 tentang Perkawinan dinyatakan bahwa batas minimal seorang perempuan menikah yakni berusia 19 tahun. Berbeda dengan Undang-Undang Perkawinan sebelumnya, yakni batas minimal perempuan menikah adalah berusia 16 tahun. Nah akhirnya, ketika usia belum genap 19 tahun maka harus mengajukan dispensasi nikah terlebih dahulu.

Berbagai kalangan menilai, peningkatan angka pernikahan dini di masa pandemi Covid-19 diantaranya ditengarai akibat masalah ekonomi, faktor geografis, terjadinya insiden hamil di luar nikah, pengaruh kuat dari adat istiadat dan agama, hingga minimnya akses terhadap informasi kesehatan reproduksi.

Namun, sesungguhnya pernikahan dini bukanlah persoalan yang besar hingga menjadi sorotan. Bukan larangan nikah dini dan dispensasi nikah yang ditekan, tapi seharusnya pergaulan generasi yang harus diperhatikan jangan sampai kebablasan hingga akhirnya jatuh pada seks bebas dan sederet kenakalan remaja lainnya.

Bangsa ini membutuhkan pemberlakuan sistem ijtimaiy Islam yaitu tatanan sistem pergaulan yang mengatur terkait interaksi lawan jenis, pengaturan urusan rumah tangga, kewajiban dan tanggung jawab serta hak suami dan istri dan lain sebagainya. Hal ini sangat dibutuhkan agar generasi siap memasuki gerbang keluarga dan mencegah terjadinya seks bebas remaja.

Data ratusan remaja mengajukan dispensasi nikah di berbagai daerah menegaskan 2 problema yang lahir dari kebijakan dispensasi nikah ini. 

Pertama, dijalankan bersamaan dengan pendewasaan usia perkawinan dengan harapan menurunkan angka pernikahan dini. 

Kedua, menjadi 'jalan keluar’ untuk memaklumi fenomena seks bebas di kalangan remaja.

Dari sini kita bisa melihat bahwa, dispensasi nikah karena seks bebas  tidak hanya berdampak individual tapi berpotensi melahirkan keluarga tanpa ketahanan dan generasi lemah. Karena tidak dibekali dengan kesiapan dan ilmu yang mumpuni terkait pernikahan.

Pemimpin negeri dan yang berkewenangan di dalamnya harus dapat memperhatikan terkait pergaulan bukan hanya generasi remaja namun juga dewasa yang sudah menikah. Karna pada faktanya pergaulan bebas bukan hanya menghantam generasi remaja tapi juga dewasa yakni yang sudah berkeluarga. Hingga tak asing lagi terdengar ditelinga kita terjadinya perselingkuhan baik suami maupun istri.

Semua ini berakar dari sistem yang diterapkan di negeri ini, sistem sekuler-liberal yang telah berlumut menghinggapi generasi negeri. Halal haram tak lagi jadi standart perbuatan hingga terjadilah segala yang melanggar aturan. Sampai kapan hal ini terus dibiarkan? Maka, butuh solusi tuntas yang sudah terbukti dapat menjadi solusi dalam menangani seabrek kasus pergaulan bebas remaja maupun dewasa yang sudah berkeluarga, yakni dengan sistem Islam.

Dalam Islam, interaksi pergaulan laki-laki dan perempuan sangat dijaga. Islam mengatur bahwa kehidupan laki-laki dan perempuan terpisah kecuali dalam beberapa hal, yakni muamalah (jual beli), pendidikan dan kesehatan.

Maka, Islam melarang campur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, melarang khalwat, yakni laki-laki berduaan dengan perempuan yang bukan mahramnya, adanya perintah untuk menutup aurat bagi seseorang yang sudah baligh.

Islam juga memerintahkan kepada seorang muslim untuk menjaga pandangan ‘ghadlul bashar’, memerintahkan perempuan muslimah pergi safar sehari semalam disertai mahramnya dan Islam juga memerintahkan untuk segera menikah bagi pemuda yang sudah mampu dan menyuruh untuk berpuasa bagi mereka yang belum mampu. Islam juga memerintahkan individu muslim menghiasi dirinya dengan ketakwaan. Dan semua itu tertuang dalam Al-Qur'an dan Hadis Nabi.

Tidak hanya itu, Islam juga melarang untuk mendekati zina. Allah SWT dalam firman-Nya menyebut zina sebagai perbuatan keji dan jalan yang buruk dalam QS. Al-Israa ayat 32.

“Dan janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu adalah faahisah (perbuatan yang keji) dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh oleh seseorang).” (QS Al-Israa: 32).

Menurut imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, yang dimaksud dengan fahisyah adalah dosa besar dan saa’a sabiilaa adalah hal yang paling buruk.

“Allah melarang hamba-hamba-Nya berbuat zina, begitu pula mendekatinya dan melakukan hal-hal yang mendorong dan menyebabkan terjadinya perzinaan. Alquran melarang walau hanya mendekati perbuatan zina, dalam rangka untuk menunjukkan sikap kehati-hatian dan tindakan antisipatif yang lebih besar.

Pernikahan merupakan sunah Rasulullah, bahkan bernilai pahala yang besar menanti. Sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Aisyah r.a., ia berkata,

Rasulullah Saw. bersabda, “Menikah itu termasuk dari sunahku, siapa yang tidak mengamalkan sunahku, maka ia tidak mengikuti jalanku. Menikahlah, karena sungguh aku membanggakan kalian atas umat-umat yang lainnya. Siapa yang mempunyai kekayaan, maka menikahlah, dan siapa yang tidak mampu maka hendaklah ia berpuasa, karena sungguh puasa itu tameng baginya.” (HR Ibnu Majah).

Kemudian, Islam juga memerintahkan amar makruf nahi mungkar. Di dalam Al-Qur'an sangat banyak dalil yang menyebutkannya. Salah satunya sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Ali-Imran: 104, juga hadis Rasulullah Saw.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.’” (HR Muslim)

Maka pergaulan bebas bahkan seks bebas dapat dicegah dengan tatanan aturan Islam. Sudah menjadi kewajiban negara mengambil peran untuk melaksanakan tanggung jawabnya sebagai pengayom dan pelindung bagi rakyat.

Wallahu'alambishoab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations