Oleh : Hifza Al Jannat

Mentri Pendidikan dan Kebudayaan ( Mendikbud ), Nadiem Makarim telah memprogramkan “pernikahan massal” antara pendidikan vokasi dengan dunia industri.

Dalam hal ini, tujuan “pernikahan massal” yang telah diprogramkan adalah agar menghasilkan lulusan yang memiliki skill dan prestasi sesuai dengan dunia industri dan kerja. (lensaindonesia.com )

Menurutnya, adanya “perjodohan massal” dapat terbentuk simbiosis mutualisme antara kedua belah pihak. tidak hanya pihak industri yang mendapat keuntungan, melainkan para mahasiswa yang sudah lulus tidak lagi mengikuti training oleh industri dan juga akan dihargai, bukan karena ijazah yang diterima, melainkan karena skill dan prestasi yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja. (antaranews.com )

Cacatnya Peran Pemerintah Dalam Dunia Pendidikan

Sebagai pemerintah, tentunya memiliki beberapa peran penting, terutama dalam hal pendidikan.  Beberapa peran pemerintah yaitu sebagai pendukung, regulator, dan katalis. Namun dalam hal ini, pemerintah tidak bisa memaksa pihak kampus dan pihak industri saling bermitra melalui regulasi yang dibungkus dengan program “perjodohan massal”.  Melainkan, dengan berbagai macam jalan tikus untuk berinvestasi dalam dunia pendidikan.

Melalui penelitian contohnya. Pihak industri dapat berinvestasi dengan cara mengangkat para generasi untuk melakukan penelitian tentang industri yang digeluti agar hasil yang didapat lebih maksimal. 

Apabila pemerintah menjalankan program “perjodohan massal” antara pihak kampus dan industri, para generasi tak lagi berfikir kritis dan berjuang untuk mencapai keberhasilan.  Karena apa? Karena para generasi tau bahwa setelah ia selesai menjalankan pendidikannya, ia hanya akan bekerja di suatu lembaga industri, seberapa besar pengorbanan yang ia lakukan, nantinya ia hanya akan menjadi pekerja. 

Dari sini terlihat, bahwa pemerintah semakin mengokohkan peran Lembaga Pendidikan sebagai pencetak tenaga kerja bagi pihak industri. Tujuan pendidikan yang sebenarnya, yaitu membangun kepribadian utuh manusia sebagai hamba Allah khalifah fil ardhi, kini telah dikerucutkan hanya sebatas mencetak manusia bermental buruh.

Pendidikan Islam, PendidikanSebenarnya

Akar masalah dari pemasalahan ini adalah kesalahan paradigma dan sistem pendidikan yang diterapkan saat ini, terutama dalam sistem kapitalis sekuler. Pendidikan hanya berorientasi industri untuk mencapai keuntungan materi. Oleh karena itu, haruslah diterapkan pendidikan dengan visi sesungguhnya, mencetak manusia dengan membangun kepribadian utuh sebagai hamba Allah khalifah fil ardhi.

Pendidikan islam merupakan satu satunya pendidikan dengan visi sebenarnya. Pendidikan islam akan memberikan pendidikan berkualitas yang melahirkan generasi mulia. Selain itu, tujuan pendidikan islam adalah adalah pembentukan syakhsiyah, penguasaan tsaqofah, dan penguasaan ilmu kehidupan.  Tak hanya cukup disitu, pendidikan islam memberikan pendidikan gratis namun tak minim fasilitas.

Untuk mencetak manusia dengan visi sesungguhnya, memanglah sulit jika sistem yangberlaku tetaplah sistem kufur.  Dalam sistem saat ini, pendidikan islam tak akan berjalan mulus. Pendidikan islam ini harus dibarengi dengan sistem islam pula. Tak dapat diragukan lagi, terbukti selama kurang lebih 14 abad, islam mampu mencetak generasi pejuang, melahirkan ilmuan ilmuan cerdas yang berakhlak mulia.

Wallahu‘alam biss showwab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations