Oleh : Jamilah Al Mujahidah
Komunitas Muslimah Peduli Generasi

Perempuan, sosok lembut yang penuh kasih sayang, saat ini tengah menjadi sorotan di ranah publik, khususnya aktivis perempuan.

Zakiah Aini (ZA), perempuan muda terduga pelaku terror yang ditembak mati di depan Mabes POLRI. Sebelum melakukan teror, ZA sempat menuliskan surat wasiat yang ditujukan untuk keluarganya agar keluarganya meninggalkan riba, menolak demokrasi dan pemilu, serta berhenti dari kegiatan yang mendukung kepentingan pemerintah. Selain itu, ZA juga mengunggah foto bendera ISIS serta membuat postingan tentang jihad di akun instagramnya. (suara.com-6/4/2021)

Rentetan kejadian teror yang terjadi menjelang bulan Romadhon ini lagi-lagi menimbulkan dampak yang sangat besar. Tidak hanya bagi pelaku, keluarga pelaku, korban, maupun keluarga korban, dampak yang paling menyakitkan adalah yang dirasakan oleh kaum muslimin. Bagaimana tidak? kejadian demi kejadian teror yang terjadi telah membentuk paradigma baru khususnya bagi kaum muslimin sendiri. Penggeledahan dan penangkapan muslim di berbagai tempat seolah menjadi pembenar, bahwa orang Islam yang taat membawa keresahan ditengah-tengah manusia. Padahal, kejadian-kejadian yang digulirkan terkait dengan terorisme belakangan ini sangatlah jauh dari nilai-nilai Islam. Jika ideologinya benar-benar islami maka seorang muslim yang taat mustahil akan melakukan tindakan-tindakan diluar nalar tersebut.

Kejanggalan dalam Aksi Terorisme

Jika dilihat secara seksama, banyak sekali kejanggalan-kejanggalan pada kasus penembakan di depan Mabes POLRI. Penjagaan yang ketat seharusnya tidak memudahkan orang lain melewati pos penjagaan yang semestinya didukung alat metal detector. Pengeksekusian mati secara ekslusif juga seharusnya tidak dilakukan oleh petugas, agar identitas dan motif pelakunya mudah terungkap. Selain itu, dalam video yang beredar di medsos ZA tampak amatiran. Bahkan pakar telematika Roy Suryo mengungkapkan ada kemiripan gaya bahasa tulisan surat wasiat yang ditulis oleh Zakiah Ainidan pelaku bom bunuh diri Makassar.

Tampaknya kejanggalan-kejanggalan bukan hanya dalam peristiwa penembakan di Mabes POLRI saja, namun banyak pengamat yang mengungkapkan opini kejanggalan di setiap peristiwa aksi terorisme. Terlepas dari peristiwa yang penuh dengan kejanggalan tersebut, aksi-aksi tersebut  telah melibatkan perempuan. Hal tersebut telah menjadi sorotan di berbagai kalangan khususnya aktivis perempuan untuk mencermati peran sentral perempuan dalam aksi terorisme.

Perempuan sebagai Alat Terorisme

Pertanyaan yang muncul adalah kenapa harus perempuan? Perempuan yang dilibatkan dalam berbagai aksi teror sejatinya adalah upaya dalam membentuk  teror yang lebih kuat. Perempuan yang dikenal sebagai sosok yang penuh kelembutan dan kasih sayang, telah menjadi “teroris”. Sehingga menimbulkan ketakutan dan keresahan terhadap kaum muslimin karena dilabeli teroris, tidak hanya pada laki-laki, tapi juga pada perempuan. Inilah tujuan yang ingin dicapai oleh pembuat skenario pengeboman ini. Kejadian-kejadian terorisme yang menimpa bangsa ini merupakan upaya untuk membuat islam semakin terpojok serta menjadikan islam semakin ditakuti bahkan dijauhi oleh penganutnya sendiri.

Dalam news.detik.com (1/2/2021) Komisioner Komnas Perempuan, Imam Nakha’i mengatakan, berdasarkan penelitian, aspek pengetahuan dan ekonomi yang dikontrol oleh laki-laki menyebabkan pemanfaatan perempuan lebih mudah dalam jaringan terorisme. Selain itu juga, menurutnya perempuan jarang dicurigai keterlibatannya dalam aksi terorisme. Senada dengan pendapat tersebut, kaum feminisme pun beranggapan bahwa terlibatnya perempuan dalam aksi teror adalah karena adanya budaya patriarki sehingga menurut mereka budaya yang menempatkan laki-laki sebagai sosok otoritas patut dihilangkan. Selain mengutuk keras aksi terorisme ini, kaum feminis beranggapan ajaran islam menjadi biang keladi adanya budaya patriarki yang mendiskreditkan perempuan di negeri ini.

Myra Diarsi, aktifis feminisme dari Kalyanamitra, sebuah lembaga yang berkiprah dalam feminisme yang telah berdiri sejak tahun 1985 di Indonesia mengatakan adanya tekanan terhadap perempuan oleh fundamentalis medan radikalisme. Misalnya hanya dari hal sederhana, yaitu cara berpakaian yang awalnya hanya dikenalkan, berproses menjadi kewajiban dan intimidasi atau persekusi bagi yang tidak mau mengenakan pakaian seperti yang ditentukan. Menurutnya, cara berpakaian adalah hal kecil yang akan mengantarkan pada terorisme, seperti aksi teror bom di Makassar yang dilakukan seorang perempuan serta seorang ibu bersama keempat anaknya dalam aksi teror bom di Surabaya tahun 2018. Menurut Myra lagi, tekanan-tekanan dari hal ringan sampai hal yang ekstrim menempatkan perempuan bukan sebagai manusia. tetapi sebagai subjek sasaran tembak yang empuk (voaindonesia.com, 1/4/2021)

Kemulian Wanita dalam Islam

Sejatinya, Islam adalah agama yang kamilan wa syamilan yaitu agama yang sempurna dan menyempurnakan. Sehingga dengan kesempurnaannya Islam telah menempatkan perempuan pada posisi yang sangat mulia. Islam telah menghilangkan budaya patriarki yang telah lama merebak di tengah masyarakat yang tak paham islam. Salah kaprah rasanya jika menyejajarkan kedudukan laki-laki dan perempuan dianggap sebagai sebuah solusi. Kesetaraan itulah yang justru menyebabkan malapetaka bagi perempuan. Kita bisa lihat saat ini, penghargaan terhadap perempuan hanya sebatas jika dia menghasilkan materi dan bisa tampil di kalangan umum sejajar dengan laki-laki. Padahal semakin sering perempuan keluar rumah tanpa alasan yang benar dan ketidak peduliannya terhadap auratnya sendiri, semakin marak pelecehan yang terjadi di kalangan perempuan ditambah lagi tidak adanya sistem yang melindungi kehormatan perempuan.

Dapat disimpulkan, ajaran Islam bukanlah biang keladi dari malapetaka pada perempuan, tapi sistem kapitalisme sekulerlah yang menjadi biang kerok dari semua kejadian. Sedangkan feminisme semakin memperkeruh keadaan. Mereka semakin massif mengkampanyekan feminism dan moderasi agama sehingga menimbulkan fitnah bagi muslim dan ajaran islam.  Sejatinya, solusi yang terbaik adalah penerapan Islam secara kaffah. Aturan yang diturunkan langsung oleh Sang Pencipta, karena hanya Allah yang mengetahui detail karakter makhluk yang dicipkatannya, melalui manual book yaitu Al-qur’an dan As-sunnah harusnya dapat semaksimal mungkin dijalankan untuk meminimalisir human error dalam setiap pengamalannya.

Pemerintah seharusnya segera bisa mengatasi aksi-aksi teror yang terus berulang di negeri ini. Memberantas tuntas jaringan “teroris” yang sebenarnya sehingga tidak menjadi fitnah bagi muslim dan ajarannya. Dakwah islam kaffah, menanamkan kelurusan akidah, dan membentuk kepribadian islami merupakan tugas semua pihak yang terkait dengan dakwah. Memahamkan kepada umat bahwa islam kaffah tidak bisa dikatakan radikal yang dikaitkan dengan terorisme. Umat harus tetap kritis dalam menilai setiap kejadian yang ditujukan untuk mengaburkan umat dari pemahaman syari’ah yang sebenarnya. Menolak moderasi agama sebagai parsialisasi ajaran islam seperti prasmanan, jika suka dengan ajaran islam tertentu boleh diikuti, namun jika tidak suka boleh ditolak. Karena muslim sejati adalah muslim yang seharusnya berupaya untuk selalu bertakwa pada Allah SAW, dengan mengikuti semua perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.

Begitupun perempuan yang terdidik dengan Islam , akan termuliakan dengan sendirinya seiring dengan pemahaman dan pengamalan ajarannya. Perempuan muslim sejati akan berupaya keras untuk menjadi wanita shalihah yang menjaga kehormatan diri, menjaga dan merawat anak dan keluarganya dengan didikan yang benar sebagai bekal menjaga kebaikan di masyarakat. Sehingga, tak perlu takut pada ajaran islam yang kaffah, karena ajaran inilah yang kelak akan membawa kita pada kebaikan untuk seluruh alam

YOUR REACTION?

Facebook Conversations