Oleh : Iis Setiawati
Kota Banjar

Perang baliho semakin marak, mulai dari Ketua DPR Puan Maharani, Ketum Golkar Airlangga Hartarto, Ketum PKB Muhaimin Iskandar hingga Ketum Demokrat AHY. Apakah pemasangan baliho masih efektif meningkatkan popularitas?

Pakar Komunikasi UI Firman Kurniawan Sujono mengatakan memang baliho memiliki keunggulan tersendiri. Apalagi di tempat strategis yang banyak orang berlalu lalang, baliho akan menjadi pusat perhatian publik.

"Secara umum billboard/baliho/media luar ruang memiliki keunggulan: mudah dilihat, karena diletakkan di jalan-jalan yang terbukti banyak dilalui kendaraan. Ukurannya yang besar, secara struktural 'memaksa' orang untuk melihatnya. Apalagi kalau diletakkan di kawasan yang strategis pasti tak terhindarkan orang lewat tak bisa mengelak," kata Firman kepada wartawan, Rabu (04/08) malam.

Menurut Firman di musim kampanye perang baliho antarpolitikus akan menjadi kejenuhan bagi masyarakat. Sehingga menurutnya, pesan yang ada di baliho tidak sampai di masyarakat, tapi malah sebaliknya.

"Namun, dalam musim kampanye atau event lain, di mana terjadi kompetisi baliho, justru kejenuhan yang terjadi. Pesan memang memaksa masuk, tapi persepsi yang terbentuk bisa negatif. Masyarakat muak, dan secara sadar memilih bersikap sebaliknya dari tujuan pesan. Masyarakat menolak pesan," ujarnya. (dw.com 05/08/2021)

Sungguh memilukan di tengah-tengah pandemi yang tak kunjung usai, dikala rakyat sedang menderita berjuang untuk bertahan hidup,  malah disuguhi dengan pemandangan perang baliho yang terpampang jelas di setiap sudut jalan. Meski pergantian presiden 2024 masih lama namun para elit politik sudah bersiap-siap unjuk gigi untuk memperkenalkan bakal calon-calon juara pilpres kepada masyarakat demi untuk mendongkrak popularitas dan elektabilitas.

Ini merupakan tanda-tanda fenomena kontestasi dalam demokrasi mulai beraksi. Ambisi kekuasan menguasai benak dan perasaan manusia haus kekuasaan tak peduli terhadap kondisi apalagi empati. Hal ini, alih-alih meraih simpati, justru akan menjadi catatan merah di hati masyarakat. Masyarakat semakin sadar, bahwa dirinya hanya diperlukan "suara" saja untuk diraihnya kekuasaan. 

Bukan sesuatu yang mengherankan,  itulah watak dari sebuah sistem demokrasi yang lahir dari sekularisme.

Bentuk protes dan cibiran dari masyarakat  ramai terlontar di media sosial. Disisi lain, rakyat sedang kesusahan karena wabah malah melihat dari calon-calon kandidat para politisi yang menawarkan diri menjadi pemimpin. Padahal mereka tidak jauh berbeda dengan dari sebelumnya tidak ada kepekaan terhadap kondisi rakyat saat ini. Mereka hanya mengurusi kepentinganya dan bertarung hanya demi mendapatkan kekuasaan dan jabatan untuk keuntungan pribadi dan kelompoknya.  Ini sudah mendarah daging di dalam tubuh demokrasi kapitalisme yang berasas manfaat. Demokrasi dengan sistem kapitalisme memberikan dampak yang kian merugikan masyarakat. Dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat faktanya hanya menjadi sebuah jargon semata. Pada kenyataanya dari rakyat, oleh rakyat untuk penguasa.

Maka, pantaskah mereka dipilih meneruskan kepemimpinan?

Pemimpin yang bagaimana yang pantas untuk rakyat yang terjaga?

Islam sebagai agama yang sempurna, memiliki aturan tentang bagaimana tugas dan tanggungjawab pemimpin. Islam memandang persoalan kepemimpinan bukanlah suatu hal yang main-main. Maka sangat disadari betul bahwa menjadi pemimpin adalah amanah besar dan harus dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Kekuasaan semata-mata dijalankan untuk menerapkan syariat islam secara kaffah bukan rakus akan jabatan dan kekuasaan. Maka jika ingin pemimpin yang mengurusi rakyatnya dengan baik hanya dengan islam.

“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung  atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari)

Pemimpin memiliki dua fungsi utama, sebagai raa’in dan junnah bagi umat. Kedua fungsi ini dijalankan oleh para Khalifah sampai 14 abad. Rentang waktu yang cukup lama sekali keberhasilan islam mampu memimpin dunia. Dengan memiliki pemimpin yang ideal sesuai islam yang mempu menjalankan amanahnya untuk mengurusi rakyat. Maka apakah tidak merindukan sosok pemimpin islam? 

Wallohu'alam bishawab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations