Oleh : Ummu Mirza

Aroma Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mulai tercium. Para calon berlomba-lomba menarik simpati masyarakat dengan berbagai cara. Baliho berukuran besar pun berjejer disepanjang jalan terpampang foto para kandidat pilpres beserta pesan singkat untuk memikat.

Mulai dari Ketua DPR Puan Maharani, Ketum Golkar Airlangga Hartarto, Ketum PKB Muhaimin Iskandar hingga Ketum Demokrat AHY. Apakah pemasangan baliho masih efektif meningkatkan popularitas?

Pakar Komunikasi UI Firman Kurniawan Sujono mengatakan memang baliho memiliki keunggulan tersendiri. Apalagi di tempat strategis yang banyak orang berlalu lalang, baliho akan menjadi pusat perhatian publik.

"Secara umum billboard/baliho/media luar ruang memiliki keunggulan: mudah dilihat, karena diletakkan di jalan-jalan yang terbukti banyak dilalui kendaraan. Ukurannya yang besar, secara struktural 'memaksa' orang untuk melihatnya. Apalagi kalau diletakkan di kawasan yang strategis pasti tak terhindarkan orang lewat tak bisa mengelak," kata Firman kepada wartawan, Rabu (04/08) malam oleh detiknews

Masyarakat bisa jenuh

Menurut Firman di musim kampanye perang baliho antarpolitikus akan menjadi kejenuhan bagi masyarakat. Sehingga menurutnya, pesan yang ada di baliho tidak sampai di masyarakat, tapi malah sebaliknya.

Kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 memang masih jauh. Namun, para bakal kandidat sudah mulai ancang-ancang dengan memasang  baliho. 

Bukan menuai simpati malah makian dan protes rakyat karena para politisi yg menawarkan diri menjadi pemimpin adalah sosok yang tak punya kepekaan terhadap kondisi rakyat dan hanya bertarung demi mendapat kursi

Semestinya menjadi cambuk bagi rakyat utk sadar keburukan sistem demokrasi yg niscaya hasilkan politisi pengabdi kursi bukan pelayan rakyat.

Inilah kepahitan sistem demokrasi kapitalis yang memisahkan agama dari kehidupan berasaskan manfaat dan miskin empati. Ditengah pandemi covid-19 yang belum usai, mereka sibuk mempromosikan diri untuk Pilpres 2024. Mustahil jika sistem ini dijadikan sandaran untuk mengayomi masyarakat.

 Dalam Islam sosok pemimpin yang dapat diteladani salah satunya  Khalifah Umar bin Abdul Aziz, ketika beliau mengetahui kabar penunjukannya sebagai Khalifah, Umar bin Abdul Aziz langsung mengucapkan, "Innalillahi wa inna ilaihi raaji'un." karna menjadi pemimpin adalah tugas yang berat dan akan dipertanggung jawabkan bukan hanya didunia tetapi juga akhirat.

Setelah dibaiat, dalam berpidatonya di hadapan rakyat, Umar bin Abdul Aziz menyampaikan bahwa Dia tidak menghendaki jabatan khalifah.

Diapun tidak pernah diajak musyawarah atas jabatan itu, juga tidak pernah memintanya. Sehingga dia ingin rakyat mencabut baiat mereka dan memilih orang lain.

Namun, rakyat tidak ingin mengganti pilihan mereka dan telah sangat berbahagia atas terpilihnya Umar bin Abdul Aziz sebagai Khalifah. Maka dengan terpaksa Umar bin Abdul Aziz menerima jabatan tersebut dan berpesan, "Taatlah kalian kepadaku selama aku taat kepada Allah. Apabila aku maksiat kepada Allah, maka tidak ada (kewajiban) kalian taat kepadaku."

Saat memimpin pun Umar bin Abdul Aziz sangat adil hingga tidak ada lagi orang yang mau menerima zakat, sehingga dana zakat disumbangkan ke negeri lain yang membutuhkan.

Sudah saatnya kita kembali kepada sistem Islam yang diturunkan Allah yang dapat mengatur sendi-sendi kehidupan dari hal terkecil seperti bangun tidur hingga bangun negara. Dan dapat memuaskan akal serta menentramkan jiwa.

Wallahu 'alam bisshawhab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations