Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di negeri ini masih mengacu pada faktor usia dan zonasi. Pada tingkat Sekolah Dasar(SD) batas minimal per 1 Juli, anak berusia 6 tahun, sedangkan usia masuk SMA/SMK batas maksimal 21 tahun.(tvone, 21/6/2020).

oleh: Maman El Hakiem

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di negeri ini masih mengacu pada faktor usia dan zonasi. Pada tingkat Sekolah Dasar(SD) batas minimal per 1 Juli, anak berusia 6 tahun, sedangkan usia masuk SMA/SMK batas maksimal 21 tahun.(tvone, 21/6/2020).

Zonasi sekolah juga masih diberlakukan, mengingat sebagaimana tujuan semula agar fasilitas sekolah yang ada di daerah dapat difungsikan secara maksimal. Sistem zonasi diharapkan mampu menjadi solusi pemerataan penyebaran murid atau siswa dalam mengenyam pendidikan. Tanpa harus dibedakan klasifikasi sekolah unggulan atau non unggulan. Meskipun begitu faktor jalur prestasi tetap disertakan, dengan kata lain saat ini yang berlaku sebenarnya perpaduan komposisi dua unsur tersebut, zonasi dan prestasi.

Pendidikan adalah instrumen penting dalam membentuk pribadi yang cerdas dan berkarakter. Namun, sayang dalam sistem kapitalisme, pendidikan telah direduksi dari pelayanan maksimal negara menjadi formalitas dan komersialisme. Di tingkat dasar misalnya target capaian adalah anak bebas buta huruf dan di tingkat menengah lebih kepada tuntutan pasar dunia kerja. Tidak heran pemerintah memperbanyak sekolah kejuruan, padahal di usia tersebut harusnya anak berorientasi pada kelanjutan pendidikan yang lebih tinggi.

Pendidikan, kini sudah dikooptasi oleh para kapitalis global untuk mendapatkan sumber daya manusia atau tenaga kerja yang fresh tapi upah murah. Mereka bukan hanya mengeruk potensi kekayaan alam yang melimpah saja, juga sumber daya manusia yang mudah dan murah. Usia lulusan sekolah menengah merupakan usia emas yang harusnya melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi dengan fasilitas yang diupayakan negara berbiaya murah, bahkan kalau bisa gratis.

Tetapi, hal demikian dalam sistem kapitalisme merupakan beban berat negara. Selain tuntutan pasar kerja, tenaga terdidik lulusan perguruan tinggi masih minim dihargai, bahkan di lapangan para sarjana harus rela "merumahkan" gelar D3 atau S1 nya, karena yang diperlukan ijazah SMA/SMK sederajat. Mereka terpaksa berebut lapangan kerja. Ilmu selama di bangku perkuliahan seolah hanya ada dalam tumpukan buku-buku di lemari. Menjamurnya pabrik-pabrik merupakan cara kapitalisme mengusai sumber daya alam dan memeras sumber daya manusianya bagi kepentingan pemilik modal.

Usia produktif dipangkas secara kualitatif, artinya usia sekolah sudah harus berorientasi kerja, sungguh pendangkalan cita-cita dan mengarahkan tujuan dari pendikan yang semula mulia melahirkan generasi cerdas,berkarakter akhlak mulia, menjadi generasi siap kerja semata. Motivasi mencari ilmu bukan karena kewajiban, apalagi mengikuti perintah agama, tetapi karena tuntutan ekonomi.

Hal demikian, sangat berbeda dengan konsep pendidikan dalam sistem Islam. Jenjang pendidikan adalah seumur hayat, dari buaian sampai liang lahat. Capaian pencarian ilmupun disesuaikan dengan tingkat tumbuh kembang dan kematangan dalam penerimaan hukum syariah.

Karena tujuan dari pendidikan tidak lain tertanamnya akidah, terpahamkanya hukum syariah dan terlaksanya amanah tugas hidup manusia di dunia, yaitu dalam rangka ibadah dan sebagai khalifah di muka bumi. Artinya mampu memakmurkan kehidupan di dunia ini dengan segala potensi yang dimilikinya. Hanya dalam peradaban Islam, segala cita-cita pencarian ilmu dapat terwujudkan, karena negara akan mencukupi segala kebutuhan dasar hidup seluruh rakyatnya, termasuk pemenuhan kewajiban individu mencari ilmu sepanjang hayat. Negara yang menerapkan syariah secara kaffah sangat memuliakan para penuntut ilmu, karena dari merekalah akan lahir para pengemban dakwah dan penjaga hukum-hukum Allah SWT.

Wallahu'alam bish Shawwab.*

YOUR REACTION?

Facebook Conversations