Puluhan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) turun jalan menuntut keringanan uang kuliah tunggal (UKT). Aksi ini diikuti mahasiswa dari jenjang S1 dan S2. Mereka menggelar longmarch keliling kampus dan dilanjutkan dengan orasi di depan gedung rektorat.

Nabila Zidane

Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban


Puluhan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) turun jalan menuntut keringanan uang kuliah tunggal (UKT). Aksi ini diikuti mahasiswa dari jenjang S1 dan S2. Mereka menggelar longmarch keliling kampus dan dilanjutkan dengan orasi di depan gedung rektorat.

Mereka menilai kebijakan kampus kurang mengakomodir para mahasiswa yang orang tuanya terdampak secara ekonomi akibat COVID-19.

Mahasiswa menyayangkan selama pandemi COVID-19, kampus hanya melakukan penundaan pembayaran UKT, tanpa memikirkan kemampuan mahasiswa untuk dapat membayarnya. Mahasiawa meminta bukan hanya menunda tapi ada penurunan maksimal 50 persen saja.(detiknews.com, 18/6/2020)

Mendapatkan pendidikan berkualitas, berfasilitas unggul sekaligus berbiaya murah bahkan gratis saat ini bak mimpi di siang bolong. Betapa tidak, kalau orang tua ingin menyekolahkan anak di sekolah yang berkualitas dan berfasilitas lengkap membutuhkan biaya mahal, puluhan hingga ratusan juta.

Bagi yang tidak punya biaya cukuplah bersenang hati memasukkan anaknya ke sekolah negeri atau sekolah swasta pinggiran yang umumnya berfasilitas alakadarnya. 

Tapi nyatanya, pilihan terakhir ini pun tidak cukup membuat hati orang tua selalu senang. Terbukti umumnya para ibu merasakan pusing tujuh keliling setiap tahun ajaran baru, untuk mempersiapkan dana masuk sekolah sekalipun di sekolah negeri. Rasa pusing itu kembali berulang pada sebagian orang tua saat akan menerima rapor atau ijazah karena tunggakan SPP yang belum dilunasi akan menghambat orang tua menerima daftar nilai anaknya.

Lalu bicara kualitas pendidikan, sudah menjadi rahasia umum bagaimana output generasi saat ini? Yang dipenuhi prestasi menjadi tak terlihat karena banyaknya output remaja krisis identitas. Mulai dari tawuran, narkoba, pergaulan bebas sampai ketindak kriminal di kalangan pelajar hampir selalu menghiasi berita televisi ataupun media sosial. Sekalipun ada pelajar yang berhasil meraih prestasi olimpiade sains, olahraga ataupun seni, prestasi, hampir tersapu oleh gelombang kenakalan remaja yang semakin hari semakin meningkat kuantitas maupun jenis dan qadarnya.

Inilah potret pendidikan saat ini. Pendidikan menjadi barang mewah. Karena di dalam sistem sekular pemerintah hanya berperan sebagai regulator atau pembuat aturan bagi kepentingan siapapun yang ingin mengeruk keuntungan dari dunia pendidikan termasuk korporasi atau swasta. Pendidikan dijadikan sebagai komoditas jasa namun biaya yang dikeluarkan belum tentu sebanding dengan kualitas output yang diharapkan.



YOUR REACTION?

Facebook Conversations