Oleh : Yulweri Vovi Safitria

Pandemi covid-19 yang melanda dunia telah mengubah seluruh tatanan hidup masyarakat, tidak terkecuali Indonesia. Sejak memawabah pada awal tahun lalu, covid-19 telah mengubah seluruh sendi-sendi kehidupan, termasuk dunia pendidikan.

Ajakan stay at home, bekerja dari rumah dikampanyekan pada awal wabah ini melanda negeri. Hingga anak-anak juga harus belajar dari rumah secara daring.

Namun pada bulan Juli lalu pemerintah telah menerapkan new normal live di tengah kasus covid-19 yang masih terbilang tinggi. Sejumlah sarana publik seperti mall, bioskop dan pusat keramaian berangsur-angsur dibuka kembali, dengan dalih perbaikan ekonomi. Tidak demikian dengan dunia pendidikan. Sebagian daerah masih melaksanakan proses belajar mengajar dari rumah untuk mencegah penularan covid-19 lebih luas.

Tidak sedikit orang tua khawatir bila proses belajar tatap muka dilakukan, akan memunculkan cluster sekolah. Bagaimana tidak, ditengah jumlah kasus yang terus meningkat, vaksin untuk mencegah virus ini belum ditemukan. Ya, wajar bila orang tua meragukan kesehatan dan keselamatan anak mereka, bila melihat jumlah dan penanganan kasus dari hari ke hari.

Dalam waktu yang bersamaan, proses belajar daring menimbulkan sejumlah masalah. Mulai dari keterbatasan perangkat elektronik, kekuatan sinyal hingga kuota. Menjadi hal yang sangat sulit terutama bagi keluarga ekonomi menengah ke bawah. Dimana banyak terjadi kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) yang membuat ekonomi keluarga terguncang. Akibatnya angka kriminal meningkat.

Masih lekat di ingatan, pada Agustus lalu seorang ayah nekat mencuri ponsel agar anaknya bisa belajar daring. (m.liputan6.com, 6/8/2020). Tidak hanya itu, beratnya proses belajar daring diduga kuat menjadi penyebab bunuh diri salah seorang siswi di Kabupaten Gowa. Dan diduga masih banyak kasus lainnya yang tidak muncul ke permukaan.

Hal ini semakin memperlihatkan perbedaan mencolok antara masyarakat ekonomi atas dengan masyarakat ekonomi bawah. Berangkat dari berbagai masalah tersebut, tentu masyarakat bertanya-tanya, apa yang salah dengan dunia pendidikan kita?

Proses belajar mengajar yang dilakukan baik secara tatap muka ataupun daring, seyogyanya dilakukan dengan suka cita, tanpa menimbulkan sejumlah masalah. Namun, apa mau dikata sistem pendidikan yang diadopsi tidak bersumber dari aturan Ilahi sehingga carut marut sistem tidak bisa dihindari. Tidak bisa dipungkiri, bahwa sistem pendidikan saat ini telah berubah orientasi. Semua diukur berdasarkan materi, sebab dengan materi setiap orang bisa menguasai apapun yang diingini. Ya, sistem pendidikan yang berorientasi pada materi dan dikuasai oleh para pemilik modal, menjadikan dunia pendidikan tidak lagi berjalan sesuai dengan tujuan dan cita-cita mulia. Maka wajar bila penyelesaian masalah tersebut tidak kunjung menemukan solusi sistemik, yang terjadi justru sebaliknya, kasus serupa terus terulang kembali.

Oleh sebab itu perlu kiranya disadari, bahwa ancaman serius bagi dunia pendidikan tidak hanya pandemi covid-19 yang tengah melanda dunia, melainkan sistem yang diadopsi dan telah mengakar serta terus dirawat dan dipertahankan. Padahal bila mau jujur, sistem pendidikan yang berorientasi kepada materi atau kapitalisme justru menjadi penyebab timbulnya berbagai masalah. Karena materi menjadi tujuan, orang tidak lagi mengutamakan akhlak. Bertentangan dengan norma atau tidak, yang penting bisa mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya.

Pendidikan Islam

Berbeda dengan Islam. Dalam Islam, pendidikan tidak sekedar mengejar nilai akademik. Akan tetapi anak dididik menjadi generasi shalih dan shalihah yang memiliki tsaqafah Islam yang mumpuni. Sehingga kelak mereka menjadi penggerak perubahan ke arah yang lebih baik, tidak hanya memahami tentang teori melainkan mampu mengimplementasikan ilmu pengetahuannya untuk kemaslahatan umat.

Dalam Islam pula anak dididik menjadi generasi tangguh yang memiliki kepribadian Islam. Memiliki jati diri sebagai muslim, bukan menjadi pembebek yang mengikuti apa kata tuannya. Untuk itulah maka Islam memberikan prioritas bagi dunia pendidikan, sebab keberhasilan sebuah bangsa ditandai dengan keberhasilan dari dunia pendidikan. Begitu juga sebaliknya, hancurnya sebuah bangsa karena rusaknya pendidikan. Pendidikan di sini tidak hanya menyangkut sains dan teknologi tetapi juga mengenai pendidikan akidah dan akhlak.

Pun, dalam mengatasi kesenjangan yang terjadi karena faktor ekonomi, maka Islam juga memberikan solusi, maka tidak heran pada saat aturan Islam diterapkan, seperti pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, dimana semua rakyatnya hidup berkecukupan dan sangat sulit menemukan orang-orang yang kesusahan. Oleh sebab itu tidak ada alasan untuk menolak aturan Allah swt dalam mengatur setiap permasalahan dalam sendi kehidupan, sebab hanya dengan aturan-Nya kesejahteraan secara merata dapat diwujudkan.

Wallahu'alam Bisshawab

YOUR REACTION?

Facebook Conversations