Oleh : Miftah

Mendengar nama pemuda seperti melihat datangnya masa depan karena pemudalah yang akan membawa misi perubahan di masa yang akan datang pada negeri kita tercinta ini. Yang sangat kaya akan sumber daya manusia dan alamnya.

Namun, hal ini sangat disayangkan. Mengapa? Karena banyak pemuda saat ini yang tidak ingin melek politik, bahkan ingin jauh dari dunia perpolitikkan. Sebagaimana Merdeka.com menyatakan bahwasannya hasil survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan sebanyak 64,7% anak muda menilai partai politik di Indonesia tidak terlalu baik dalam mewakili aspirasi masyarakat. Sebanyak 25,7% anak muda yang menilai para politisi sudah cukup baik mendengarkan aspirasi.

“Sikap mereka tidak begitu yakin bahwa politisi mewakili aspirasi masyarakat,” kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi dalam rilis survei secara daring, Minggu (21/3). Hasil survei juga menunjukkan hanya 3% anak muda yang sangat percaya pada partai politik. Sebanyak 7% sama sekali tidak percaya.

Hasil survei tersebut jelas ada rasa kekecewaan pemuda kepada pemerintahan dan juga kepada partai politik dimana mereka berkoalisi hanya untuk memenuhi kepentingan-kepentingan mereka saja dan juga kepentingan para kapitalis . Seakan tidak peduli dengan jeritan masyarkat dan juga generasi pemuda yang ada saat ini.

Memang tidak heran lagi jika politik saat ini banyak mendatangkan keresahan. Bahkan kecewa yang dirasakan pemuda dan masyarkat sehingga berpikir tidak perlu ikut berpolitik. Mereka menganggap politik merupakan alat untuk memenuhi kepentingan kelompok tertentu saja.

Masyarakat sekarang ini selalu identik dengan persoalan seputar pemilu dan segala macam intriknya yang syarat dengan trik untuk memenangkan pertarungan. Wajar bila banyak orang menilai bahwa aktivitas politik adalah aktivitas yang kotor dan mesti dihindari. 

Sehingg hari ini Indonesia masih dirundung duka. Bencana demi bencana datang silih berganti. Mulai dari bencana alam hingga bencana kemanusiaan. Pengangguran, pergaulan bebas, aborsi, narkoba, begal , tawuran dan krisis kemanusiaan lainnya. Bencana alam seperti gunung meletus, banjir, tsunami,hingga kebakaran hutan yang hampir merata di seantero negeri berpenduduk mayoritas muslim ini. Bahkan Covid-19 masih merajalela baik di negeri kita maupun dunia pada umumnya.

Beragam problematika ini terjadi bukan tampa sebab. Setidaknya ada dua aspek yang menjadi akar masalah, yakni rezim dan sistem yang rusak. Penguasa merupakan boneka negara adidaya dan para kapitalis. Sehingga setiap langkah kebijakan yang diambil penguasa sesuai arahan para tuannya. Dan akhirnya rakyat menjadi korban dan negeri ini perlahan menuju kehancuran.

Sementara rezim bergerak berdasarkan sistem. Sebab sistemlah yang menjadi hal pokok dalam menjalankan roda kekuasaan. Tak ada ruang bagi seruan yang bertolak belakang dengan sistem tersebut. Akibatnya negara menunjukkan sikap antipati pada Islam di saat yang bersamaan tunduk kepada kafir Barat. Dan ini semua merupakan strategi politik Barat untuk menghancurkan kaum muslimin.

Jadi, jika sedemikian rusaknya, apa yang harus dilakukan? Kepada siapa kita berharap? Siapa yang harus diandalkan? Jawabannya ialah pemuda. Ya, anak muda . Merekalah elemen penting dalam konstruksi perubahan. Pemuda merupakan potensi SDM yang utama. Anak muda memiliki tugas pokok dan fungsi yang sangat besar. Dan ini lebih berat daripada sebatas menjalani rutinitas belajar di bangku sekolah atau perkuliahan.

Tak bisa dipungkiri selain sebagai pelaku perubahan, setiap person dari anak muda adalah seorang agen pengemban misi. Anak mudalah yang akan menjadi pengukir sejarah sekaligus penentu masa depan. Namun sangat disayangkan bila masih ada anak muda yang memilih jalan sebagai pecundang bukan pejuang. Hanya fokus pada kepentingan  diri sendiri hingga terjebak pada pragmatisme dan individualisme.

Benarkah demikian? Lalu  Bagaimana politik dalam pandangan Islam, dan apa pula pentingnya membangun kesadaran politik kepada pemuda?

Politik dalam pandangan Islam berarti pengaturan terhadap urusan umat, baik untuk urusan dalam negeri maupun luar negeri. Politik pada dasarnya bukanlah kegiatan yang kotor, karenannya tidak boleh dijauhi. Memimpin dan mengatur urusan umat serta mengadakan perbaikan yang bermanfaat untuk kehidupan di dunia dan akhirat adalah inti dari tujuan politik.

Jadi, politik itu sangatlah penting. Tidak akan tegak kehidupan manusia tanpa politik. Tapi tidak akan menjadi baik kehidupan sebuah masyarakat tanpa politik Islam. Begitu banyak persoalan umat yang tidak terselesaikan yang membuat keadaan umat semakin buruk tidak lain disebabkan karena syariat Islam tidak diterapkan dalam kehidupan.

Rasulullah SAW telah mengingatkan dalam haditsnya: “Perumpamaan orang yang menjaga dan menerapkan batas (peraturan) Allah adalah laksana kelompok penumpang kapal yang mengundi tempat duduk mereka. Sebagian mereka mendapat tempat di bagian atas, dan sebagian lain di bagian bawah. Jika mereka membutuhkan air, maka harus berjalan melewati bagian atas kapal. Maka mereka berujar: “Bagaimana jika kami lobangi saja bagian bawah kapal ini (untuk mendapatkan air) toh hal itu tidak menyakiti orang yang berada di bagian atas”. Jika kalian biarkan mereka berbuat menuruti keinginan mereka itu, maka binasalah mereka, dan seluruh penumpang kapal itu. Tetapi jika kalian cegah mereka, maka selamatlah mereka dan seluruh penumpang yang lain,” (HR. Bukhari).

Saatnya anak muda melek politik, melihat dan menganalisa bagaimana politik Barat ini mengancam bahkan merusak akidah dan moral umat manusia khususnya kaum muslimin. Di mana, setiap hari bahkan detik mereka menanamkan paham sekulerisme terhadap umat muslim. Anak muda menjadi salah satu target utamanya mereka yakni melalui fun, fashion, film, dan food  .

Anak muda sekarang lebih sering menggalaui film yang sad ending ketimbang saudara saudaranya yang menderita di luar sana. Anak muda sekarang lebih sering menghabiskan waktu untuk sekedar have fun ketimbang mempelajari atau mengkaji agamanya sendiri (Islam) dan lain sebagainnya.

Bahkan di media sosial, jaringan media Barat juga sangat agresif mengekspos paham – paham sekuler. Salah satunya yakni LGBT. Yah, LGBT telah menjelma menjadi kekuatan baru politik Barat. AS sebagai negara pertama dalam konstelasi politik internasional  memfasilitasi tujuan puncak perjuangan kaum LGBT yakni “pernikahan sejenis”. Bahkan yang mengenaskan adalah hak-hak mereka juga telah diakui oleh deklarasi PBB tahun 2008.

Sudah saatnya anak muda berpikir benar dan serius tentang problematika yang melanda. Sudah saatnya anak muda sadar , bangkit dan bergerak mengganti sistem dan rezim rusak ini. Kita butuh penguasa yang amanah dan sistem terbaik. Sudah saatnya anak muda keluar dari zona nyaman, mari kembali bertransformasi menjadi garda terdepan untuk perubahan yang diharapkan umat. 

Karena itu, adanya kesadaran politik Islam pada jiwa pemuda sangat penting. Dari kesadaran politik ini, mengantarkan kepada perubahan peradaban dari yang batil akan menuju perubahan politik yang hakiki. Umat menjadi tahu tentang bagaimana semestinya kehidupan masyarakat diatur sesuai dengan aturan Islam. Ketika pengaturan Islam itu tidak ada, maka ia akan berusaha atau berjuang untuk mewujudkannya. Inilah hakikat dari perjuangan atau dakwah politik yang seharusnya di miliki setiap pemuda.

Dan mengambil formula jitu yang menjadi solusi ampuh, itulah Islam. Karna Islam berasal dari Maha Pencipta, Maha Tahu, Maha Benar, Maha Sempurna, ialah Allah SWT. Maka pasti mampu mengentaskan seluruh problem yang ada hingga keakarnya. Wahai anak muda, adilah anak muda idealis pengemban dakwah ideologis harapan ummat.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations