Oleh : Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno mengaku tak heran dengan sentimen negatif dari publik ihwal video Jokowi marah saat rapat bersama menteri. Ia mengatakan seharusnya jika Jokowi benar-benar serius, langkah yang lebih kongkrit harus segera dilakukan.

Dari pengamatan Adi, jika melihat intonasi, gestur, dan mimiknya, Jokowi sudah bukan hanya marah besar, tapi telah murka. Jokowi tak senang dengan kerja menteri yang biasa-biasa saja dan tak sesuai ekspektasi. Adi mengatakan hal ini seakan bertolak belakang dengan pujian di awal pembentukannya yang menyebut kabinet itu sebagai the dream team.

Karena itu, jika benar-benar serius, Adi mengatakan Jokowi seharusnya bertindak lebih konkret dengan me-reshuffle kabinetnya. Ia menyebut langkah tegas semacam ini yang justru ditunggu masyarakat dan bukan pamer kemarahan semata. (tempo.co, 7/7/2020)

Video yang diunggah di akun YouTube Sekretariat Presiden itu berjudul 'Arahan Tegas Presiden Jokowi pada Sidang Kabinet Paripurna, Istana Negara, 18 Juni 2020 menunjukkan Presiden Jokowi dengan nada tinggi(marah) menegur para menteri yang masih bersikap biasa saja di masa krisis seperti sekarang, baik itu akibat pandemi Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian dan menganggap mentrinya tidak mempunyai sense of crisis.

Lalu pertanyaannya, layakkah seorang pemimpin marah-marah dan diunggah di youtube? Lalu apa dampak dari kemarahan tersebut terhadap nasib rakyat, mengingat kemarahan tersebut telah terjadi 10 hari yang lalu, sudahkan rakyat merasakan dampaknya? Maka wajar jika opini yang berkembang justru mengatakan hal tersebut diduga hanyalah sebuah pencitraan saja.

Memandang boleh tidaknya sebuah perbuatan harus Dikembalikan pada hukum syariat Islam. Karena sebagai Muslim kita wajib dituntun syariat dalam menyikapi atau mau melakukan sesuatu. Kemarahan seorang muslim jelas dibolehkan bahkan harus dilakukan jika terkait dengan pelanggaran terhadap hak Allah Subhanahu Wa Ta'ala atau pelanggaran atas agama secara umum, apalagi bila orang kafir yang nyatanya melecehkan Islam. 

Bukan memperlihatkan kemarahan yang diliput luas oleh media. Apalagi masyarakat mengindra bahwa ketidakbecusan mengurus negara berawal dari Top leadernya.

Sungguh berbeda hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh salah satu pemimpin terbaik sepanjang sejarah manusia yaitu Umar Bin Khattab.

Umar Bin Khattab sebagai khalifah sungguh pandai menempatkan diri.

Dalam khotbahnya, Umar Radhiyallahu anhu selalu mengingat para jamaahnya, “Orang yang beruntung di antara kalian adalah orang yang terjaga dari ketamakan, hawa nafsu dan amarah.”

Begitulah sistem Islam, sistem terbaik yang mampu melahirkan pemimpin terbaik, yang memanajemen marahnya sesuai dengan tuntunan syariat sekaligus melahirkan pemimpin yang mempunyai sense of crisis.


Khilafah, Pemimpin yang Memiliki Sense of Crisis

Syariat Islam ternyata telah menuntun Khalifah Umar dengan jelas sehingga dia mampu mengatasi krisis ekonomi yang hebat tersebut dengan baik dan cepat.

Dalam buku The Great leader of Umar Bin Khattab kita dapat mengetahui bagaimana kehidupan dan kepemimpinan Khalifah kedua ini. Diceritakan bahwa pada tahun 18 Hijriyah orang-orang di Jazirah Arab tertimpa kelaparan hebat dan kemarau panjang.

Kelaparan kian menghebat hingga binatang-binatang buas mendatangi manusia. Binatang binatang ternak mati kelaparan. Tahun itu disebut sebagai tahun kelabu.

Angin saat itu menghembuskan debu seperti abu kemarau menghebat jarang ada makanan.

Orang-orang pedalaman pergi ke perkotaan, mereka mengadu dan meminta solusi dari Amirul Mukminin.

Khalifah Umar adalah sosok kepala negara yang paling peka rasanya terhadap musibah ini.Beliau amat merasakan beban derita rakyat. Beliau segera mengambil langkah-langkah penyelesaian yang komprehensif lagi cepat.

Hal pertama adalah menjadi teladan terbaik bagi rakyatnya dalam menghadapi krisis ekonomi. Beliau mengambil langkah untuk tidak bergaya hidup mewah. Makanan biasa ala kadarnya bahkan kadar yang sama dengan kadar yang paling miskin atau bahkan lebih rendah lagi.

Khalifah Umar tidak hanya memberlakukan aturan dan teladan tersebut bagi dirinya sendiri. Beliau juga memperlakukan hal itu kepada keluarganya. Mereka juga harus lebih menderita dari derita yang dirasakan oleh rakyat.

Diriwayatkan, suatu ketika Khalifah Umar melihat buah semangka di tangan salah satu anaknya pada tahun krisis. Beliau berkata kepadanya , " Bagus-bagus, Hai anaknya Amirul Mukminin kau memakan buah sementara umat Muhammad kurus kering."

Anak itupun keluar sambil berlari dan menangis. Khalifah Umar tidak diam hingga dia menanyakan hal itu dan mengetahui bahwa anaknya membeli buah itu dengan Setapak tangan biji-bijian.

Rasa tanggung jawabnya atas pemerintahan dihadapan Allah Swt. yang membuatnya mampu mengatasi kesulitan-kesulitan diri.  

Beliau selalu mendirikan salat, selalu beristighfar, selalu gigih memenuhi kebutuhan makan dan minum kaum muslimin, memikirkan rakyat yang berjalan ke Madinah dan yang bertahan di perkampungan. Beliau menaruh semua beban rakyat dalam pundaknya, hingga menyebabkan karakter kerasnya menjadi begitu indah.

Begitulah sikap pertama yang dilakukan dan ditunjukkan Khalifah Umar dalam mengatasi krisis ekonomi. Beliau menjadi orang yang pertama merasakan penderitaan rakyatnya secara langsung, dengan berperilaku dan mengkonsumsi makanan dan minuman seperti yang dialami oleh rakyatnya.

Beliau juga memerintahkan kepada keluarganya agar bersikap yang sama. Beliau sangat bersungguh-sungguh menjalankannya bukan semata-mata basa-basi politik ataupun demi pencitraan. Karena Khalifah Umar memahami pencitraan hanya membohongi diri sendiri tapi tak kan pernah lepas dari pertanggungjawaban di akhirat kelak atas kepemimpinannya.

Dengan sikap seperti itu Khalifah Umar memahami betul bagaimana sengsaranya beban yang diderita oleh rakyatnya. Dengan itu pula beliau bersungguh-sungguh memeras otak dan membanting tulang mencari solusi yang tepat lagi cepat dalam mengatasi krisis. 

Inilah yang disebut pemimpin dengan sense of crisis, bukan dengan adegan marah-marah unfaedah yang sengaja diunggah 10 hari setelah kejadian. Untuk apa? Jika sesudah marah-marah diikuti dengan kebijakan menaikkah iuran BPJS. Sense of crisisnya dimana?

Adakah pemimpin di dunia hari ini yang bersikap seperti sang Khalifah Umar ketika ada krisis? Wajar jika tidak ada, karena mereka tidak menjalankan perintah syariat Islam sebagaimana Khalifah Islam menjalani itu semua, karena hanya melandaskan diri pada tuntunan syariat Islam.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations