Oleh: Ummu Abdullah

Pasukan pertahanan dan keamanan (Hankam) identik dengan sosok yang gagah, tegap dan selalu siap membela negara. Namun beberapa hari lalu, beredar video di media sosial yang memperlihatkan sejumlah orang yang ditenggarai sebagai pasukan Hankam tengah mencopot baliho. Sontak saja video tersebut mendapat reaksi keras dari warganet.

Salah satu reaksi datang dari Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo berbicara mengenai kewenangan penurunan baliho oleh tentara yang terjadi beberapa waktu lalu. "Secara kewenangan memang tentara tidak punya kewenangan untuk menurunkan baliho. Tugas tentara itu perang," tegas Agus (tribunnews.com, 21/11/2020).

Di tempat lain, komentar bernada miring dilontarkan oleh Juru Bicara (Jubir) Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), Sebby Sambom yang turut memantau aktivitas personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang menurunkan baliho atau spanduk bergambar Habib Rizieq Shihab (HRS) di Jakarta. Menurut Sebby, kebiasaan TNI memang hanya berani melawan sipil (republika.co.id, 20/11/2020).

Apa yang tengah terjadi dengan pasukan Hankam saat ini? Mengapa tentara TNI justru terkesan "menakut-nakuti" penduduk sipil dan ada kecenderungan berpihak kepada penguasa? Komando Operasi Khusus Tentara Nasional Indonesia (Koopssus TNI) sejatinya dibentuk untuk menghadapi ancaman nyata yang dihadapi negara, seperti terorisme, separatisme dan pelanggaran kedaulatan dan keamanan dari negara asing. Sejalan dengan pandangan Pengamat Militer,  Fahmi Alfansi Pane. Menurutnya ranah pasukan khusus adalah menghadapi ancaman nyata NKRI, bukan untuk menakut-nakuti warga sipil.

Tugas TNI secara gamblang telah diatur dalam Undang-undang Nomor 34 Tahun 2004. Dalam undang-undang tersebut, dijelaskan bahwa tugas TNI ada dua yaitu operasi militer perang dan operasi militer selain perang (OMSP). Khusus untuk OMSP hanya bisa dilaksanakan berdasarkan dan keputusan politik negara (Aziz Yanuar, Wakil Sekretaris Umum FPI).

Sangat disayangkan, pasukan Hankam yang sejatinya melindungi keamanan rakyat justru terjebak politik praktis. Dalam demokrasi, kejadian seperti ini seperti sudah tidak perlu dipertanyakan kembali, karena dalam demokrasi kekuasaan dapat berbicara meskipun hal itu tidak dapat dibenarkan. Standar dari sistem demokrasi dapat berubah seiring pergantian pejabat yang berkuasa. 

Melindungi kedaulatan negara dan melakukan pencegahan dari segala macam bentuk ancaman asing sudah seharusnya menjadi perhatian dari pasukan Hankam. Tentara juga selayaknya memiliki sifat netral, terlepas dari kepentingan dukung mendukung kekuasaan.

Dalam negara Islam juga terdapat tentara, yang memiliki tugas dan fungsi penting. Departemen Peperangan (Dâ’irah al-Harbiyah) menangani semua urusan yang berhubungan dengan angkatan bersenjata seperti pasukan, logistik, persenjataan, peralatan, amunisi dan sebagainya; menangani akademi militer, misi militer, serta pemikiran Islam dan pengetahuan umum apa saja yang menjadi keharusan bagi tentara; serta menangani segala hal yang berhubungan dengan peperangan dan persiapannya.

Sejarah membuktikan tentara Islam memiliki keberanian, disiplin tinggi dan dedikasi yang merupakan warisan Rasulullah saw yang terus dijaga para sahabat juga oleh para tentara Islam. Tentara Muslim dalam setiap zaman memiliki ciri yang khas  karena sifat ksatria yang telah menyatu dalam ajaran Islam. 

Sebut saja tentara Muhammad Al Fatih yang mampu membebaskan Konstantinopel dan mampu memadamkan seluruh bentuk perlawanan yang muncul. Di sisi lain, pasukan Al Fatih berlaku lembut dan berbuat baik kepada penduduk Konstantinopel, tidak membunuh penduduk sipil dan tetap toleransi kepada penduduk Konstantinopel yang tidak memeluk agama Islam, memberikan perlindungan kepada mereka dan membiarkan mereka menjalani kehidupan dengan keyakinan yang mereka yakini tanpa melakukan paksaan untuk memeluk agama Islam.

Maka dari gambaran di atas, terlihat jelas apa dan bagaimana pasukan  tentara kaum muslimin. Keamanan negara dari gangguan negara lain pun terjaga. Tidakkah kita mendamba hadirnya?

Wallahu ‘alam.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations