Oleh: Erna Ummu Aqilah
Member Akademi Menulis Kreatif

Sudah beberapa bulan negeri ini dilanda pandemi, dan memaksa seluruh aktifitas untuk dibatasi. Akibatnya banyak kegiatan yang harus dilakukan secara online. Begitu pula sistim belajar mengajar terpaksa harus dilakukan secara daring.

Dan kondisi ini menuntut orang tua, untuk bisa mendampingi anak belajar di rumah secara online. Akan tetapi prakteknya, tidak semua orang tua mampu dan siap serta sabar dalam melaksanakan tugas daring ini.

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan berita kematian seorang anak, yang dianiaya oleh ibu kandungnya sendiri. Polisi berhasil mengungkap fakta baru, mengenai kasus pembunuhan terhadap anak berusia 8 tahun di Lebak Banten. LH(26) seorang ibu yang tega membunuh anaknya, mengaku kesal lantaran korban susah diajarkan saat belajar online. Kepada penyidik LH mengaku menganiaya korban hingga tewas.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Lebak AKP David Adhi Kusuma mengatakan, peristiwa terjadi pada tanggal 26 Agustus 2020 lalu, di rumah kontrakan di  Kecamatan Larangan, Kota Tangerang.

Korban saat ini duduk di bangku sekolah dasar kelas 1. LH yang kesal kemudian mulai melakukan serentetan penganiayaan seperti mencubit, memukul dengan tangan kosong hingga menggunakan gagang sapu.

Akibatnya korban sempat tersungkur dan lemas. Namun, LH tidak berhenti, malah memukul korban di kepala bagian belakang sebanyak tiga kali.

Sang suami sekaligus ayah korban IS(27) yang mengetahui penganiayaan tersebut sempat marah kepada LH. Namun keduanya lantas berinisiatif membawa korban yang dalam kondisi lemas, keluar untuk mencari udara segar. Harapannya korban bisa baikan tapi, saat dalam perjalanan korban meninggal dunia.

Keduanya lantas membawa korban ke Banten, sebagai upaya menghilangkan jejak. Jenazah korban kemudian dimakamkan di TPU Gunung Kendeng, Kecamatan Cijaku, Lebak. Korban dikubur dengan kondisi masih menggunakan pakaian lengkap.

Aksi pelaku terbongkar dua pekan kemudian, yakni Sabtu (12/9/2020). Saat itu warga menemukan makam yang mencurigakan, lantas membongkarnya lantaran tidak ada warga meninggal dimakamkan di TPU Gunung Kendeng, dalam beberapa pekan terakhir.

Saat penggalian mencapai setengah lubang, muncul anggota tubuh manusia dengan pakaian masih utuh. Hal tersebut membuat heboh masyarakat setempat. Polisi lantas bergerak cepat dan menangkap kedua pelaku di Jakarta.(KOMPAS.com, 14/9/2020).

Fakta tersebut tentu membuat miris, seorang ibu yang seharusnya menjadi tempat bersandar, berlindung, sekaligus pembimbing dan madarasah pertama bagi anak-anaknya, sosok yang kita kenal dengan sifat lemah lembut dan hangat, justru berubah menjadi monster pembunuh darah dagingnya sendiri.

Begitu pula sang ayah yang seharusnya bisa menjadi pemimpin, pelindung, pengayom, juga penuntun keluarga kejalan yang benar, serta pencari nafkah, justru membantu sang istri dalam melakukan kejahatan.

Seharusnya keluarga adalah tempat ternyaman bagi anggotanya, terlebih buat anak-anak tempat tumbuh dan berkembang, tempat di mana pondasi nilai-nilai agama diajarkan oleh kedua orang tua.

Namun karena diterapkannya sistem sekuler membuat manusia dijauhkan dari ajaran agamanya. Keluarga dan orang tua tidak bisa berfungsi sebagaimana mustinya.

Apalagi di masa pandemi yang terus berkepanjangan, membuat orang yang pemahaman agamanya minim akan mudah terjerat godaan syetan dan mudah berbuat dosa.

Terus meningkatnya angka pengangguran, kriminalitas, KDRT, hingga perceraian menambah deretan catan buruk sepanjang pandemi ini.

Kehidupan yang semakin sulit tak jarang membuat masyarakat mudah setres, hingga mampu menghilangkan akal sehat dan berbuat di luar kendali.

Lambannya pemerintah dalam menangani pandemi, membuat kondisi rakyat makin sulit dan terpuruk. Alih-alih fokus menangani pandemi justru lebih mengedepankan politik dan ekonomi. Akibatnya jumlah kasus semakin hari semakin tak terkendali.

Berbeda dengan pemerintahan Islam, dalam sistem Islam negara mampu menangani wabah dengan cepat dan tepat. Yakni dengan cara melock down daerah yang terkena wabah. Negara juga menjamin terpenuhinya semua kebutuhan warga yang dilock down. Sehingga mereka tidak perlu keluar untuk memenuhi kebutuhannya. Karena semua kebutuhan sudah dipenuhi negara dengan baik.

Selain itu negara juga bertindak dengan cepat dan tepat, dalam menangani orang yang terkena wabah, dengan menggunakan fasilitas terbaik yang di milikinya, sehingga si pasien bisa dengan cepat ditangani dan tidak menularkan ke yang lainnya.

Selain itu bagi masyarakat yang daerahnya aman, dilarang keras memasuki wilayah yang terkena wabah. Dan mereka bebas beraktifitas seperti biasanya sehingga, kehidupan berjalan dengan normal dan roda perekonomian tetap stabil.

Dalam pemerintahan Islam, negara berfungsi sebagai pelayan bagi rakyatnya. Negara mampu melindungi dan menjaga rakyatnya. Sehingga dengan aturan-aturan yang diterapkan, mampu menempatkan fungsi keluarga sebagaimana mustinya. Hingga baik ibu, ayah, maupun anak, bisa mendapatkan hak-haknya dan menjalankan semua kewajiban sebagaimana mustinya. Sehingga keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah bisa benar-benar diwujudkan. 

Wallahu A'lam Bishshawab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations