Oleh : Winda K

Komunitas Ibu Bahagia
Bagaimana perasaan anda ketika anda sedang ditimpa musibah berat. Anak, istri, sakit. Orang tua juga sakit, anda di PHK.

Atau usaha yang menjadi mata pencaharian anda sepi, macet karena pandemi. Sementara anda punya saudara yang kondisinya lebih beruntung tapi tidak peduli. Malah pamer kalau dia habis plesiran. Bertanya kabar pun tidak. Marah? geram? mungkin ada rasa benci juga. Itulah gambaran atau tamsil yang dialami rakyat Indonesia saat ini. Disaat di negeri ini tiap menitnya terdengar bunyi ambulance mengangkut pasien covid. Disaat rumah sakit riuh kekurangan oksigen. Di saat nakes ribut dengan keluarga pasien covid. Ada saja pejabat negeri ini malah dengan santainya mengatakan kepada publik kalau dia terkesan dengan sinetron ikatan cinta. Mengindikasikan dia rutin nonton tv. Disaat rakyat diperintahkan dirumah saja. Kurangi mobilitas. Susah payah mereka menahan rasa bosan demi diam di rumah. Menahan diri untuk tidak keluar negeri meski bisa jadi ada kepentingan. Di saat yang sama ada saja pejabat pemerintah yang justru ke luar negeri.

Ketika rakyat tengah berduka. Kehilangan orang orang tercinta. Disaat masyarakat tengah stres memikirkan perekonomian yang macet. Disaat rakyat tertekan secara kejiwaan. Ada saja pejabat yang menyuruh komedian untuk menghibur rakyat. Seolah lupa bahwa pandemi adalah persoalan serius. Harus diatasi bukan dilupakan.

Beginilah gambaran penguasa negeri ini. Kehidupan kapitalis yang melingkupi dunia telah membuat kita berpikir individualis. Tak peduli nasib orang lain. Bahkan para pejabat yang telah dipilih rakyat untuk mengurusi nasib rakyat seperti tak serius mengabdi pada rakyat. Kebijakan yang diambil tak jarang mengorbankan rakyat demi kepentingan para cukong. Rakyat bagai anak ayam kehilangan induknya. Memang ada upaya menekan laju penyebaran virus. Tapi solusi yang diambil bukan solusi paripurna. Solusi yang dijalankan terkesan hanya untuk menyelamatkan ekonomi. Bukan menyelamatkan nyawa. Bagaimana ekonomi tetap berjalan, negera tetap mendapat income itulah intinya. Disaat hutang negara yang terus bertambah. Bahkan diprediksi tak bisa terbayar. Negara tak berkutik. Bukan tak tahu jika solusi pandemi hanyalah lockdown. Tapi apa daya hutang tetap harus dibayar. Pasar tetap harus jalan. Negara tak bisa menggratiskan kebutuhan primer. Kegentingan seperti ini seharusnya membuat para pejabat negeri berpikir siang malam untuk serius mencari jalan keluar. Secara akal sehat bisakah anda santai di tengah ancaman virus? Bisakah anda tertawa membaca kabar duka setiap saat? Bisakah anda pelesiran ditengah hoax corona yang membingungkan rakyat?

Kondisi menyedihkan ini membuat kita merindukan sosok pemimpin yang amanah seperti Umar bin Khattab. Pemimpin yang punya motto "Aku takkan makan sebelum rakyatku kenyang". Khalifah Abu Bakar yang blusukan untuk membagi-bagikan selimut kepada rakyat di musim dingin. Tentu bukan karena pencitraan. Para khalifah dan pejabat negaranya yang serius memikirkan nasib rakyat. Bahkan khalifah tersenyum (sebagai tanda ketegaran dan kesabaran)  pun tak sanggup. Di saat nasib rakyat diujungtanduk. Apatah lagi menyuruh badut menghibur rakyat. Di masa-masa sulit yang dialami umat ketika dalam kekuasaan Islam. Para pemimpin menyeru rakyat utnuk mendekat kepada Allah. Memohon ampun atas dosa-dosa yang diperbuat. Memohon pertolonganNya. Pagi, siang, dan malam suasana negeri penuh dengan pertaubatan. Para pejabat negara berupaya maksimal mengeluarkan rakyat dari kondisi sulit. Inilah gambaran kehidupan Islam kala itu. Pemimpin negara, para petinggi negara, dari pusat hingga daerah. Mereka orang orang yang amanah. Taqwa kepada Allah. Tak pernah ingkar janji. Bekerja untuk rakyat dengan tulus hanya mengharap ridho Allah. Inilah yang membuat rakyat tunduk pada seruan negara. Rakyat pun demikian. Mereka terkondisikan dalam suasana keimanan. Menaati pemimpin adalah bagian dari keimanan. Yakni pemimpin yang juga taat sepenuhnya kepada Allah.

Bukankah hubungan seperti ini yang kita inginkan? Antara rakyat dan penguasa saling peracaya atas dasar keimanan. Yakinlah, pemimpin dan rakyat yang bertaqwa itu hanya terwujud dalam kehidupan Islam. 

YOUR REACTION?

Facebook Conversations