Oleh: Zulhilda Nurwulan, S. Pd
Relawan Opini Kendari

Palestina kembali membara. 27 Mei lalu merupakan puncak kebengisan zionis Israel terhadap muslim Palestina.

Ratusan warga Palestina termasuk diantaranya 66 orang anak-anak menjadi korban dalam penyerangan ini. Masalah ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, Palestina butuh pertolongan.

Dari belahan negeri yang lain terdengar suara sumbang yang ogah mencampuri urusan dapur Palestina. Sebagian mengatakan jika hal ini adalah konflik perebutan wilayah tidak ada kaitannya dengan agama. Padahal, sangat jelas terlihat jikahal ini bukan sekadar perebutan wilayah melainkan penjajahan pun konflik agama.

Deklarasi Belfour yang dirilis pada tahun 1917 oleh Inggris merupakan asal terjadinya penjajahan Israel atas Palestina. Isi dari deklarasi belfour ini sangat merugikan Palestina. Deklarasi ini memberi penguatan pada entitas Yahudi untuk mendirikan negara Israel di Palestina. Kala itu, Inggris berusaha membujuk pemodal Yahudi untuk meminta bantuan dari negara adidaya, Amerika Serikat untuk mengirimkan bala tentaranya agar membantu Israel menghancurkan Palestina. Deklarasi belfour ini adalah bentuk dukungan Inggris terhadap zionis Israil dalam perebutan wilayah Palestina.

Awalnya, Israel merupakan pendatang di Palestina. Namun, adanya deklarasi belfour ini memberikan kekuatan pada zionis Israil dalam pengakuan negara nasional di Palestina. Dalam kurun tahun 1922-1935 penduduk Israel berkembang di Palestina yang awalnya hanya berjumlah sembilan persen meningkat hingga 27 persen. Hingga akhirnya, pada tahun 1948 Israel berhasil mendeklarasikan kemerdekaannya diYerussalem dan mengakibatkan penjajahan yang berkepanjangan atas Palestina hingga hari ini.

Ikatan Nasionalisme telah Menghancurkan Palestina

Ketegangan yang terjadi antara Israel-Palestina telah menyita perhatian dunia. Palestina adalah bagian dari umat muslim. Apapun yang menimpa Palestina harusnya menjadi urusan umat muslim sedunia. Namun, adanya ikatan nasionalisme faktanya telah memutuskan hubungan persaudaraan yang terjalin antar umat agama islam di seluruh dunia. Walhasil, negara muslim hanya bisa mengecam tindakan keji Israel tanpa bisa melawan secara jantan. Kebengisan israel atas Palestina riil penjajahan bukan sekadar perebutan wilayah apalagi konflik kemanusiaan.

Disamping itu, nasionalisme telah menghilangkan kesadaran masyarakat atas kewajibannya menyelamatkan saudaranya sesama muslim. Dukungan masyarakat seolah menjadi trend bukan lagi kewajiban. Berita Palestina hanya sesumbar ketika terjadi penyerangan namun hilang sesaat ditutupi berita-berita kriminal dalam negeri, politik uang, hingga pembatalan haji. Padahal, konflik Israel-Palestina bukan perkara baru melainkan penjajahan berkepanjangan. Mirisnya, hal ini dikatakan tidak ada kaitannya dengan agama. Padahal, jika menelisik sejarah maka akan ditemukan fakta Palestina tidak akan bisa dipisahkan dengan umat islam. Disisi lain, konflik Palestina adalah konflik pemenangan ideologi. Israel ingin menghapus nilai-niai islam diPalestina dan menanamkan ideologi sekular mereka di Palestina. Ini adalah penjajahan. Sehingga, Palestina butuh aksi konkrit bukan sekadar gertakan apalagi hanya kecaman. Namun, ketakutan negeri muslim kepada tuannya tampaknya tidak akan membantu Palestina begitu banyak karena faktanya para pemimpin muslim lebih takut kehilangan bantuan modal dari pada kehilangan saudara. Inilah potret kapitalis-sekular sesungguhnya yang berujung pada nasionalisme.

Palestina, Negeri yang Diberkahi

Sebagai tempat suci, Palestina menyimpan banyak keunggulan yang tidak dimiliki negeri muslim lainnya. Pertama, Palestina adalah negerinya para nabi. Allah Swt mengutus beberapa nabi untuk berdakwah dan bermukim disana diantaranya Nabi Ibrahim, Ishak, Luth, Ya’kub, Musa, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, hingga Isa AS. Di Palestina pula Allah Swt menyelamatkan Nabi Musa As dari kejaran Firaun setelah menyebrangi laut merah.

Kemudian, Palestina tepatnya Masjidil Aqsa merupakan kiblat pertama kaum muslimin. Disanalah Allah Swt memperjalankan Rasulullah Saw dan menjemput salat lima waktu. Sebagaimana yang termaktub dalam QS. Al-Isra (17:1), yang menceritakan kisah perjalanan isra mi’raj Nabi Muhammad Saw. Fakta lainnya, Palestina adalah tanah air kaum muslimin. Bahkan, kaum muslim terikat atas Palestina dan Yerussalem. Disamping itu, Palestina pun sering disebut dengan negara tiga keyakinan. Maksudnya adalah dari sanalah berkembang tiga agama samawi, yakni Islam, Nasrani dan Yahudi. Karen Armstrong dalam bukunya Jerusalem; One City, Three Faiths (Satu Kota Tiga Iman) mengatakan, ‘’Sebagai biarawati muda, saya harus menerima fakta, bahwa Jerusalem sangat penting bagi Yahudi dan Islam. Ketika saya melihat orang-orang Yahudi berjubah panjang atau tentara Israel yang perkasa mencium batu di Tembok Barat atau menyaksikan keluarga Muslim di jalan-jalan dalam pakaian terbaik mereka untuk shalat Jumat di Haramasy-Syarif, untuk pertama kalinya saya menjadi sadar mengenai tantangan pluralisme agama.’’ 

Hal ini menunjukkan bahwa sampai kapanpun islam tidak akan lepas dari Palestina. Sehingga, kampanye yang mengatakan konflik Palestina bukanlah persoalan agama adalah propaganda busuk yang menafikkan kebenaran sejarah maupun dalil-dali al-qur’an.

Kemudian, Masjidil Aqsa merupakan masjid kedua yang dibangun setelah Masjidil Haram diMekkah. “Telah menceritakan pada kami Ibrahim At-Taimi dari ayahnya berkata: aku mendengar Abu Dzar ra. berkata: “Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama diletakkan oleh Allah di muka bumi?” Bersabda, “Masjid Al-Haram”. Abu Dzar bertanya lagi, “Kemudian apa?”. Bersabda, “Kemudian Al-Masjid Al-Aqsha”. Abu Dzar bertanya lagi, “Berapa lama antara keduanya?”. Beliau menjawab, “Empat puluh tahun” Kemudian dimanapun shalat menjumpaimu setelah itu, maka shalatlah, karena keutamaan ada padanya” (HR. Al-Bukhari)

Selanjutnya, kelak di akhir zaman Palestina akan menjadi tempat berdirinya khilafah islam dan tempat berkumpulnya kaum muslimin. Oleh karena itu, wajib memperjuangkan keselamatan Palestina dari kekejaman zionis Israel dan haram hukumnya mengakui keberadaan zionis di sana. Dengan demikian, sampai kapanpun Palestina akan tetap menjadi urusan kita, urusan kaum muslimin di mana pun berada. Sehingga, membiarkan Palestina dikuasai oleh zionis Israil adalah bentuk kezaliman yang nyata karena kelak di hari kiamat seluruh umat islam akan dimintai pertanggungjawabannya atas tindakan mereka terhadap muslim Palestina. Maka, sebagai umat islam yang beiman kepada Allah Swt dan hari akhir mari bersegera menyelamatkan Palestina sekalipun hanya dengan membagikan berita-berita tentang mereka di akun-akun media sosial kita. 

YOUR REACTION?

Facebook Conversations