Oleh : Yuyun Novia
Revowriter Chapter Bogor

Sejak merebaknya wabah Corona di Indonesia, semakin banyak anomali terungkap gamblang di tubuh rezim nawacita.

Mulai dari acuhnya jajaran pemangku jabatan hingga cemooh dan olok-olok yang menyepelekan pandemi yang kini sudah menelan korban hingga 11,5 juta jiwa di seluruh dunia per 6/7 menurut Kompas.com.

Kini anomali paling miris sekaligus lebay terjadi pada Kementan dengan merilis penemuan kalung penangkal Corona. Dalam foto kalung tersebut jelas tertulis "Anti Virus Corona" namun saat ini setelah warganet ramai-ramai meragukan klaim tersebut, baru mereka menganulir, berkelit bahwa tidak begitu maksud sebenarnya.

Lebay dalam klaim atau istilah kerennya over claim adalah ciri utama kepribadian narsis dan tidak berintegritas. Pelaku over claim ini takut untuk mengakui dengan jujur ketidakmampuannya dalam menangani masalah sehingga butuh polesan untuk menutupi inkapabilitas. Maka dibuatlah berbagai skenario lebay yang hakikatnya bohong dan hoax untuk mendongkrak pencitraan menjadi jauh lebih baik. Sayangnya warganet Indonesia kini sudah semakin banyak yang tercerdaskan, mereka sudah menyalakan api kritis terhadap berbagai jurus pemerintah yang sudah sering tertangkap basah "salah urus" berbagai masalah rakyat.

Anomali kedua dalam kasus ini adalah lebay dalam mengerjakan yang bukan urusannya. Kementan dalam masa pandemi sekarang ini sangat dibutuhkan perannya dalam mengatasi masalah pangan yang sangat mengancam kedaulatan negara dan keberlangsungan hidup rakyat. Kelangkaan bahan pangan lokal, ketiadaan fair trade yang pro petani, mahalnya harga pangan di pasaran merupakan PR besar Kementan. Ada kementrian dan lembaga lain yang lebih tepat untuk melakukan riset khusus terkait Corona. Jangan sampai Kementan sibuk mengurus perkara sunah tapi malah meninggalkan hal yang wajib.

Fenomena banjir bahan pangan impor merupakan soal ujian yang menentukan kemampuan dan lulus tidaknya jajaran Kementan dalam mengelola potensi pertanian negara agraris ini. Kementan dinantikan gebrakan positifnya untuk misalnya menghasilkan padi dengan kemampuan panen 6 kali dalam setahun atau varietas bawang yang tahan lama dan seabrek masalah pangan lainnya. Kejadian lebay dan salah fokus ini memang tidak hanya terjadi di Kementan. Hal ini merata ada di setiap sudut jajaran abdi dan pejabat negara.

Sistem pemerintahan Islam mengatur bidang kehidupan secara komprehensif, efektif dan efisien. Setiap masalah ditangani tepat sasaran dengan penuh tanggung jawab karena sadar betul bahwa Allah Maha Perhitungan terlebih untuk urusan rakyat banyak. Para pemangku jabatan dalam sistem Islam akan terproteksi dengan ketakwaan individu, kontrol sosial dan aturan menyeluruh dan paripurna dalam konteks negara. Tiga pilar ini digembar-gemborkan seolah ada dalam sistem demokrasi kapitalis tapi nyatanya dengan asas sekuler, semua lepas tanpa kontrol dan hanya mempertimbangkan keuntungan materi semata. Hanya Islam yang mampu memandu para aktor pemerintah untuk memakmurkan dunia dengan sistem yang diridhai dan mampu membawa rahmat bagi seluruh alam.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations