Oleh : Nur Fitriyah Asri
Pengurus BKMT Kabupaten Jember

Opini khilafah menggema seantero dunia. Terlepas dari suka atau tidak, menerima atau menolak. Pastinya opini khilafah menunjukkan adanya kebangkitan umat Islam yang mendunia.

Bangkit menyongsong tegaknya khilafah. Khilafah adalah janji Allah dan bisyarah (kabar gembira) Rasulullah saw. pasti benar.

Sebagaimana ketika Rasulullah ditanya oleh salah seorang sahabat.

"Ya Rasul, mana yang lebih dulu jatuh ke tangan kaum muslim, Konstantinopel atau Romawi?" Nabi menjawab, "Kota Heraklius (Konstantinopel)." (HR. Ahmad, ad-Darimi, al-Hakim)

Menjelang waktu Asar pada 29 Mei 1453, atau tujuh abad (700 tahun) kemudian sabda Nabi terbukti. (republika.co.id. 31/5/2020)

Sultan Muhammad al-Fatih yang menaklukkan kota Konstantinopel pada tahun 1453, kemudian berganti nama Istanbul. Beliau adalah sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik pasukan, lalu menunjuk Hagia Sophia sebuah gereja sebagai satu-satunya simbol penaklukan baginya. Sultan selanjutnya mengubah gereja tersebut menjadi masjid, dari tahun 1453 hingga 1934 hampir 500 tahun.

Karena pengkhianatan Kemal Mustafa Attaturk, Khilafah Utsmani harus runtuh pada 3 Maret 1924. Kemudian berubah menjadi Republik Turki Sekuler dan dia sebagai presidennya.

Sejak itulah hukum Islam dicampakkan, diganti dengan hukum positif buatan manusia. Kalimat adzan diganti dengan bahasa Turki. Bahasa Arab ditiadakan dan dilarang. Masjid  Hagia Sophia diubah menjadi museum selama 86 tahun.

Kini Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, pada awal Juli mengkonversi Hagia Sophia  kembali menjadi masjid. Pada pelaksanaan salat Jumat perdana di Hagia Sophia (14/7/2020) yang ditunjuk menjadi khatib membacakan khutbah adalah Ali Erbas (Kepala Otoritas Agama) dengan membawa pedang sebagai simbol penaklukan.

Setelah khutbah selesai, kemudian mengatakan kepada wartawan, "Khutbah telah disampaikan dengan pedang, tanpa gangguan selama 481 tahun. Jika Allah mengizinkan akan melanjutkan tradisi ini, yaitu di masjid-masjid yang merupakan simbol penaklukan." Kata Ali Erbas.

Setelah pengembalian status Masjid Hagia Sophia, seruan khilafah semakin menggema mendapat sambutan publik Turki. Ini menunjukkan umat Islam menginginkan perubahan mendasar, karena sudah terbukti sistem sekuler tidak bisa memberikan perubahan.

Di antaranya adalah majalah Gercek Hayat, yang berhaluan Islamis dengan jumlah pelanggan 10.000. Di sampulnya menyerukan bangkitnya kekhalifahan.

Majalah Gercek Hayat yang dimiliki oleh kelompok media Yeni Safak pro pemerintah. Menampilkan bendera kekhalifahan Ottoman di sampulnya dan bertanya dalam bahasa Turki, Arab dan Inggris : "Berkumpul untuk kekhilafahan. Kekhilafahan adalah Negara Islam yang dipimpin oleh seorang khalifah yang dianggap sebagai penerus Nabi Muhammad saw. Kekhilafahan terakhir, dipimpin oleh Ottoman, dibubarkan pada 1924 selama tahun-tahun awal Republik Turki. Jika tidak sekarang kapan? Jika bukan Anda, siapa?"

Sontak memancing respon keras dari kalangan sekuler termasuk juru bicara Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) Omer Celik. AKP adalah partainya Presiden Erdogan.

Terjadilah tranding topik, berbuntut pengaduan pidana terhadap majalah Gercek Hayat, dengan tuduhan melanggar hukum tentang larangan pemberontakan senjata terhadap Republik Turki dan menghasud orang-orang.

Presiden Erdogan sendiri dalam  pengakuannya yang menekankan bahwa sekularisme adalah gagasan yang harus dipertahankan, tidak hanya Turki terutama di wilayah Timur Tengah. Perdebatan tentang khilafah akan menganggu agenda negara. Sudah jelas bahwa Presiden Erdogan tolak Turki menjadi Negara Islam. (Tempo.co 30/4/2016)

Sudah tampak jelas bahwa seruan kembali pada sistem khilafah justru dikriminalisasi oleh rezim sekuler yang memusuhi Islam dan menghalangi tegaknya khilafah. Sebagaimana kejadian di negeri ini.

Sesungguhnya khilafah adalah perkara yang ditakuti oleh orang-orang kafir. Mereka tahu bahwa khilafah akan tegak. Makanya berusaha untuk menghadang. Mereka tidak akan bisa menghentikannya, karena janji Allah dan Rasulullah pasti benar. Khilafah adalah ajaran Islam merupakan sistem pemerintahan Islam  yang menerapkan Kitabullah dan Sunah.

Mereka dan kaum kafir yang menentang khilafah pada dasarnya ketakutan yang amat sangat. Karena khilafah akan menggulung tikar peradaban kapitalis, yang mengeksploitasi negeri kaum muslimin. Kebangkitan Islami deologis semakin pesat, sehingga manuver untuk menjegal juga semakin gencar.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللهُ مُتِمُّنُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (QS. ash-Shaff [37] : 7)

 بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّلِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ}

“Dialah (Allah ta’ala) yang mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya (agama itu) atas semua agama (lainnya), walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya“. (QS.at-taubah [7] : 33)

Khilafah adalah ajaran Islam, sebagaimana salat, puasa Ramadan, zakat, haji, dan lainnya hukumnya wajib. Ketiadaan khilafah membuat kaum muslimin berdosa besar, menanggung dosa investasi. Karena hukum-hukum syariah banyak yang tidak bisa diterapkan, misalnya hudud dan muamalah.

Kewajiban menegakkan khilafah didasarkan pada empat dalil syariah yaitu Al-Qur'an, Sunah, Ijmak sahabat dan Qiyas syar'iyah.

Dalam Al-Qur'an umat Islam diperintahkan untuk berislam kafah. (QS. al-Baqarah [2]: 208). Syariat Islam hanya bisa diterapkan secara sempurna dalam bingkai institusi khilafah. Khilafah akan tegak kembali, sebagaimana sabda Rasulullah:

“Di tengah-tengah kalian ada zaman kenabian. Atas kehendak Allah zaman itu akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkat-nya. Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Khilafah itu akan tetap ada sesuai kehendak Allah. Lalu Dia akan mengangkat khilafah itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (pemerintahan) yang zalim. Kekuasaan zalim ini akan tetap ada sesuai kehendak Allah. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (pemerintahan) diktator yang menyengsarakan. Kekuasaan diktator itu akan tetap ada sesuai kehendak Allah. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan muncul kembali khilafah yang mengikuti manhaj Kenabian.” (Hudzaifah berkata): Kemudian beliau diam," (HR. Ahmad dan al-Bazzar).

Masih tidak percaya khilafah ajaran Islam? Jejaknya masih ada di Kitab Fiqih. Yakni dalam kitab al-Fiqih al-Manhajiy 'ala Madzhab al-Imamal Syafi'i karya ulama terkemuka kontemporer dalam Madzhab Syafi'i yakni Prof.Dr. Mushthafa Dib al-Bugha dan Prof. Dr. Musthafa al-Khan. Dalam kitab tersebut beliau menyampaikan :

"Mengangkat seorang Imam (sebutan bagi khalifah) dengan format yang telah ada lihat di atas dan demi merealisasikan kepentingan-kepentingan yang telah kami bicarakan sebelumnya, hukumnya adalah wajib, melekat di leher kaum muslim di manapun mereka berada." (al-Fiqih al-Manhajiy 'ala Madzhab Imam al- Syafi'i, hlm 451)

Apa yang beliau sampaikan dalam kitab tersebut adalah konsep baku khilafah. Itulah esensi penegakan khilafah. Itu bukan khilafah ala madzhab Syafi'i atau ala ormas manapun.

#Jejak khilafah dalam kitab Fiqih.

Kembalilah wahai kaum muslimin, untuk bersama-sama memperjuangkan khilafah, yang menjanjikan kesejahteraan bagi alam semesta.

Wallahu a'lam bishshawab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations