Oleh : Linda ummu raisa

Perjanjian damai Uni Emirat Arab (UAE) dan Bahrain dengan Israel kembali membuat pertanyaan banyak kalangan, apakah sikap Arab yang melunak dapat jadi harapan baru bagi perdamaian di Timur Tengah?

Atau malah bisa jadi bumerang yang melemahkan perjuangan Bangsa Palestina untuk merdeka?Seperti yang dikabarkan di media Republika UAE dan Bahrain membuka hubungan diplomatik dengan Israel setelah menandatangani perjanjian perdamaian, AbrahamAccords, secara resmi di Gedung Putih, Amerika Serikat, pada 15 September 2020, yang disaksikan langsung oleh Presiden AS Donald Trump. Terkait hal ini banyak menuai keritik termasuk Indonesia mengeluarkan pendapatnya terkait normalisasi perdamaian ini. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Teuku Faizasyah, mengatakan Indonesia memahami niat UAE dan Bahrain yang ingin menyediakan ruang negosiasi dan mengubah pendekatan untuk menyelesaikan konflik Israel dan Palestina melalui perjanjian damai itu. “Namun, efektivitas atas kesepakatan tersebut sangat bergantung pada komitmen Israel untuk menghormatinya,” kata Faizasyah saat jumpa pers virtual di Jakarta. (Republika)

Normalisasi Damai diopinikan akan bisa melunakkan Israel dan membantu Palestina mendapat kemerdekaan. Seperti pada tanggal 26 September 2020 lalu, pengamat bidang militer dan Pertahanan Connie Rakahundini Bakrie yang mengatakan Indonesia harus berani membuka hubungan dengan Israel yang diharapkan akan membawa pada kemerdekaan Palestina segera terwujud. Namun, apakah permasalahan ini akan selesai dan Palestina mendapatkan hak kemerdekaan utuh. Karena pada faktanya dari sejak dulu serangan Israel pada Palestina bukanlah hanya semata masalah perebutan wilayah, dll. Akan tetapi semua yang terjadi, perebutan wilayah, penganiayaan, dan lain - lainnya adalah bentuk kebenciannya terhadap Islam. 

Mereka yang membenci Islam akan terus melakukan kejahatannya tanpa belas kasihan.  Ya jawabannya karena mereka sangat membenci Islam. Seperti yang disebutkan oleh Qur’an, Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi.” (TQS Ali Imran: 118).

Kebencian ini telah ditampakan oleh musuh - musuh Islam. Penyerangan ini karena diakibatkan kaum muslimin tidak bersatu dan memiliki pelindung. Hak - hak Palestina tak akan tercapai jika masih berharap pada hubungan diplomatik dengan Israel. Karena hubungan diplomatik dengan Israel tidak menjamin kemerdekaan hakiki Palestina. Penderitaan kaum muslimin di Palestina terjadi sejak perjanjian sykes-Picot (1916 M) yang membagi wilayah turki utsmani setelah kalah dalam perang dunia ke 1. Saat itu Palestina jatuh ketangan Inggris, Prancis, dan Rusia.

Tidak berakhir disitu saja, berlanjut pada tahun 1917 M resmi pada saat itu Palestina sebagai tanah suci Yahudi. Sehingga pada saat itu orang-orang Yahudi bermigrasi besar-besaran ke Palestina. Maka Palestina semakin menderita paska runtuhnya khilafah Utsmaniyyah 1924 M. Serangan dan siksaan terus mendera umat muslim di Palestina karena tidak adanya yang melindungi. Tahun terus berganti hingga tahun 1978 dilakukannya perjanjian Camp David, MD. Perjanjian ini diharapkan mampu menjadi solusi dua negara antara Palestina dan Israel. Namun ternyata semuanya hanya tipuan terhadap kaum muslimin karena pada kenyataannya Israel lebih kejam dan semakin mengambil wilayah Palestina.

Jadi, ketika negeri-negeri muslim mulai melunakan diri dengan melakukan berbagai perjanjian maka sebenarnya mereka sedang mengakui keberadaan Israel. Kemudian menyetujui keberadaan Israel yang merampok wilayah dari Palestina. Padahal sangat jelas bahwa Palestina adalah tanah Kharajiyah untuk seluruh kaum muslimin. Tidak boleh satupun wilayahnya diserahkan pada selain umat Islam. Sangat jelas bahwa Islam melarang untuk berteman setia dengan musuh kaum muslimin. Israel adalah musuh kaum muslimin Palestina karena telah merusak, membawa petaka berarti jika demikian maka Israel ada 2 musuh kaum muslimin. Seperti dalam Qur’an surat Al Maidah : 51

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya diatermasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."

sangat berbanding terbalik dengan Islam dan khilafah bersikap tegas terhadap yahudi dan penjajahan yang terjadi terlebih pada kaum muslimin. Kewajiban umat Islam untuk merebut kembali salah satu tanah suci kaum muslimin yakni tanah Palestina. Khilafah akan menjaga tanah kaum muslimin dengan jihad fisabilillah. Seperti yang pernah terjadi pada khalifah Abdul Hamid II yang didatangi oleh Theodone Herzi yang merayu dan menyogok pada khalifah Abdul Hamid II untuk menyerahkan tanah Palestina. Namun, Khalifah Abdul Hamid II menolak secara tegas. Khalifah mengatakan bahwa tanah Palestina adalah milik seluruh kaum muslimin maka tidak ada hak siapapun yang mengambilnya. Walhasil, perjanjian apapun tidak akan membuat Palestina terlepas dari penjajahan. Kecuali jika ada yang membebaskan dengan penjagaan dan penjaminan yang penuh.

Wallahu'alam.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations