Oleh: Halimah S. dan Ummu Ridho
Aktivis Muslimah

Anak adalah buah hati orang tua. Memikirkan masa depan mereka sangatlah penting. Persoalan stunting kian riuh dibicarakan terutama kaum ibu.

Berdasarkan WHO, stunting adalah gangguan tumbuh kembang anak yang disebabkan kekurangan asupan gizi, terserang infeksi, maupun stimulasi yang tak memadai. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang ditandai dengan tubuh pendek. Penderita stunting umumnya rentan terhadap penyakit, memiliki tingkat kecerdasan di bawah normal serta produktivitas rendah. Tingginya prevalensi stunting dalam jangka panjang akan berdampak pada kerugian ekonomi bagi Indonesia.

Prevalensi stunting Indonesia berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) 2016 mencapai 27,5 persen. Menurut WHO, masalah kesehatan masyarakat dapat dianggap kronis bila prevalensi stunting lebih dari 20 persen. Artinya, secara nasional masalah stunting di Indonesia tergolong kronis, terlebih lagidi 14 provinsi yang prevalensinya melebihi angka nasional.

Penyebab dari stunting adalah rendahnya asupan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan, yakni sejak janin hingga bayi umur dua tahun. Selain itu, buruknya fasilitas sanitasi, minimnya akses air bersih, dan kurangnya kebersihan lingkungan juga menjadi penyebab stunting. Kondisi kebersihan yang kurang terjaga membuat tubuh harus secara ekstra melawan sumber penyakit sehingga menghambat penyerapan gizi. http://www.p2ptm.kemkes.go.id/artikel-sehat/1-dari-3-balita-indonesia-derita-stunting

Maka dari itu, permasalahan stunting menjadi penting mengingat hal tersebut berkaitan dengan kesehatan masyarakat. Hal ini sejalan dengan hasil riset yang mengungkapkan sebesar 54 persen angkatan kerja tidak maksimal karena pada 1000 kelahiran pertama pernah mengalami masalah stunting. Namun fakta menunjukkan bahwa Indonesia urutan ke-4 dunia dan kedua di Asia Tenggara dalam hal balita stunting. Pemerintah diingatkan melakukan evaluasi pembangunan keluarga agar persoalan ini teratasi. "Butuh kerjakeras dan serius untuk menurunkannya. Pemerintah harus mengevaluasi pembangunan keluarga karena hulu persoalan ada di sana. Bagaimana kita bisa mencetak SDM unggul jika stunting masih menghantui calon generasi bangsa," kata Anggota Komisi IX DPR, Netty Prasetiyani Aher dalam keterangan pers, Minggu (20/12).https://www.merdeka.com/peristiwa/bagaimana-cetak-sdm-unggul-jika-stunting-hantui-calon-generasi-bangsa.html

Pada dasarnya tanggung jawab negara harus memberikan jaminan dan perlindungan rakyat untuk mampu tumbuh kembang secara optimal. Termasuk dalam akses asupan tinggi gizi dan pelayanan kesehatan, sehingga memiliki ketahanan dalam menghadapi kerentanan. Penyelesaian kasus ini membutuhkan penanganan menyeluruh dan mendasar. Adanya bonus demografi yang selalu digembar-gemborkan menjadi modal utama negeri ini dalam pembangunan nasional dapat menjadi masalah besar.

Namun menjadi sebuah ironi dalam sistem demokrasi kapitalis ini, karena sistem ini hanya memberi mimpi kosong mengatasi stunting baik dengan rencana pembentukan badan khusus maupun dengan UU lainnya. Sistem kehidupan saat ini lebih condong pada pertumbuhan ekonomi daripada pengurusan hajat hidup rakyat secara manusiawi. Beragam kebijakan impor pangan termasuk masuknya korporasi pangan asing, ternyata masih belum cukup mendeskripsikan mengatasi ketersediaan dan aksesibilitas pangan.

Adapun mekanisme Islam mengatasi stunting yakni dengan pemenuhan kebutuhan pangan dan nutrisi masyarakat individu per individu. Negara juga tidak mendominasikan ketersediaan pangan semata-mata pada impor. Sebaliknya, negara akan fokus pada peningkatan produksi pertanian dan pangan, juga mengakomodir segala riset dan jaminan kelancaran seluruh proses pengadaannya. Negara juga memiliki akurasi data untuk ketersediaan dan distribusi pangan agar tepat sasaran.

Sumber daya manusia menjadi kekuatan peradaban dan kecemerlangan pemikiran. Karenanya, sumber daya manusia merupakan kekayaan tak ternilai yang semuanya itu semata-mata menjadi bekal menuju ketaatan kepada AllahSWT. 

Wallahua’lam bishowab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations