Oleh: Sri Husna Dewi, S.Psi

Bulan Ramadhan adalah bulan yang di tunggu tunggu kehadirannya oleh kaum muslimim, bulan yang penuh rahmat dan ampunan. Maka sudah sewajarnya bila hadirnya sangat dirindukan.

Rasulullah SAW. Bersabda

"Barang siapa yang berpuasa di bulan ramadhan dengan penuh keimanan dan kesungguhan maka akan di ampuni dosa dosanya yang telah lalu (H.R Bukhari Muslim)."

Berdasarkan hadis di atas maka telah jelas bahwa bulan Ramadhan adalah bulan penuh kemuliaan dan keistimewaan. Bahkan Ramadhan mampu membalikkan keadaan 360 derjat dari kondisi sebelumnya, salah satu contoh, para muslimah yang tidak menutup aurat akan menutup aurat nya, yang pacaran akan berkurang aktivitas pacaran nya, bahakn siaran siaran media masa seperti televisi pun akan berubah program siaran nya.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menegaskan, selama bulan Ramadan 2021 siaran televisi diperketat. Lembaga penyiaran diminta untuk tidak menampilkan muatan yang mengandung lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT), hedonistik, mistik/horor/supranatural, praktik hipnotis dan sejenisnya.

KPI juga mengimbau untuk tidak menampilkan muatan yang mengeksploitasi konflik dan/atau privasi seseorang, bincang-bincang seks, serta muatan yang bertentangan dengan norma kesopanan dan kesusilaan.

Aturan ini sengaja di buat oleh pemerintah dengan alasan agar umat bisa menjalankan ibadah puasa ramadhan dengan penuh hikmah dan kekhusyukan, sehingga bisa meraih tujuan dari puasa Ramadhan yaitu predikat takwa di sisi Allah SWT.

Lantas pertanyaan apakah dengan adanya aturan yang bersifat temporer ini mampu benar benar membuat umat meraih takwa?

Menurut hemat penulis apa yang telah dilakukan pemerintah dengan cara mengeluarkan surat edaran tersebut sangatlah tidak efektif dan efesien.

Seseorang dikatakan bertakwa apabila mampu menjalankan segala apa yang Allah perintahkan dan menjauhi segala larangan Nya dalam setiap aktivitas kehidupan, sepanjang masa.

Lalu seseorang dapat dikatakan sukses dalam berpuasa apabila setelah Ramadhan berlalu ketakwaan itu tetap berlangsung, segala amal ibadah yang dilakukan selama di bulan Ramadhan juga ia lakukan setelah bulan Ramadhan, itulah yang dikatakan seseorang telah berhasil dalam berpuasa di bulan Ramadhan.

Nah, sementara jika kita lihat aturan yang di buat oleh pemerintah melalui KPI tidaklah sangat mendukung, inilah yang dinamakan sekulerisme, yaitu memisahkan agama dengan kehidupan, maka hingga sampai kapanpun tidak akan pernah bisa meraih takwa yang hakiki melalui sekulerisme, karena saling bertolak belakang dan tidak sinkron.

Berbeda halnya dengan sistem islam, dalam islam apapun itu jika berbentuk pelanggaran syariat  danbisa menjembatani perbuatan dosa maka akan di tutup rapat sehingga kaum muslimin tidak akan bisa untuk mengakses nya.

Islam akan mengatur kehidupan sehari-hari dengan syariat dalam setiap saat, bukan hanya pada momentum momentum tersendiri, dengan demikian maka akan lebih sangat mudah bagi kita untuk bisa meraih predikat takwa yang hakiki, apalagi di bulan suci Ramadhan, suasana keimanan akan semakin ditingkatkan oleh negara.

Negara akan melakukan pengawasan terhadap para pelanggar syariat, dan akan langsung menghukumi dengan cara memberikan hukuman yang bersifat menjerakan dan penebusan dosa, rindu bukan hidup di bawah naungan islam? Yang dengannya kita akan lebih mudah menjadi hamba hamba yang bertakwa, untuk itu maka tidak lain dan tidak bukan sudah saatnya kita kembali kepada islam dan memperjuangkan nya.

Wallahu a' lam bissawwab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations