Oleh: Tati Sunarti, S.S
Pegiat Literasi

Beberapa waktu lalu, bentrok antar ormas terjadi kembali. Peristiwa tersebut terjadi di Jalan Raya Interchange, Karawang Barat, dan melibatkan tiga ormas yaitu LSM GMBI, LSM NKRI, dan GMPI.

Kapolres Karawang, AKBP Aldi Subartono menyampaikan bahwa pihak kepolisian telah mengamankan tujuh orang. Lima orang diantaranya sudah ditetapkan sebagai tersangka. 

Bentrokan bermula saat LSM GMBI yang melakukan unjuk rasa di Kawasan Industri (KIIC) keluar dari kawasan untuk mencari makan siang. Namun, ormas tersebut tanpa sengaja bertemu dengan dua ormas lainnya, hingga ketiganya terlibak baku hantam (replubika.com). 

Aldi Subartono selaku Kapolres Karawang menuturkan bahwa bentrokan ini mengakibatkan empat orang terluka serius, satu orang meninggal dunia, dan satu unit mobil GMBI rusak parah. Akhirnya ia pun bekerjasama dengan TNI (Batalyon Infanteri 312) untuk menebalkan keamanan di sekitar area yang rawan, pasca bentrokan tersebut. 

Jika Kapolres Karawang melakukan peningkatan keamanan sebagai upaya antisipasi kejadian serupa terulang. Lain hal dengan Kapolres Metro Tangerang, Kombes Pol Deonijiu De Fatima meminta seluruh jajaran di lapangan untuk menertibkan atribut ormas-ormas. 

Dilansir dari merdeka.com (29/11/21), Kombes Pol Deonijiu menyampaikan jika selama ini sudah tidak terhitung berapa kali dilakukan aksi damai. Namun, hal tersebut tidaklah berdampak ke arah lebih baik. Sehingga, pelaksanaannya terkesan tidak ada perubahan. 

Bentrok antar ormas bukanlah kali pertama terjadi. Tidak sedikit pula kejadian ini telah merenggut banyak nyawa. Tindakan premanisme ini pun meresahkan dan mengganggu keamanan masyarakat. 

Maka, perlu satu regulasi yang tepat agar ormas-ormas yang ada tidak hanya berupa wadah untuk individu semata. 

Mengelola Ormas dengan Benar

Manusia adalah makhluk sosial. Sang Maha Pencipta telah menetapkan penciptaan manusia sepaket dengan naluri sebagai qadarnya. Salah satu diantaranya adalah naluri baqo. Naluri ini nampak pada keinginan dalam menunjukkan eksistensi diri. 

Naluri ini pulalah yang menjadikan manusia memiliki kecenderungan untuk berkumpul dan berkelompok. Sehingga, wajar jika banyak komunitas, LSM, serta ormas bermunculan.

Bermunculannya ormas selain sebagai bentuk kenampakkan dari naluri baqo juga disebabkan mudahnya syarat untuk mendaftarkan sebuah organisasi menjadi ormas terdaftar dan legal secara hukum. 

Direktur Jendral (Dirjen) Politik dan PUM Bahtiar menyebutkan bahwa Indonesia memiliki ormas dengan jumlah yang hamper menyentuh angka 500 ribu. Data ini disampaikan saat diselenggarakannya Organisasi Kemasyarakatan Expo Tahun 2021, 29 Agustus lalu. 

Jumlah ormas tersebut diharapkan mampu membantu pemerintah dalam membangun negara. Pasalnya ormas-ormas dinilai sebagai salah satu organisasi yang bergerak dan menyentuh lapisan masyarakat secara langsung (kemendagri.go.id). 

Begitu pun dengan Kota lumbung padi, Karawang, jumlah LSM dan ormas yang terdaftar di Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) sebanyak 286 organisasi aktif (radarkarawang.com). Jumlah ormas yang begitu banyak baik skala nasional ataupun daerah, seyogianya menjadi perhatian pemerintah. Terutama dalam hal pembinaan dan pemberdayaan anggota-anggotanya. 

Sehingga, keberadaan ormas bisa dijadikan sebagai wadah pembinaan individu berkarakter baik. 

Posisi dan Fungsi Ormas Dalam Islam

Ketika tersiar kabar bentrokan antar ormas, masyarakat akan merespon dengan sikap berbeda-beda. Namun, segala sesuatu harus dilihat berdasarkan posisi dan fungsinya. 

Dilihat dari segi posisi, ormas tidak lebih dari sebuah wadah berkumpulnya massa. Tetapi Ormas tidak boleh nol dari sisi pembinaan anggota. Terutama pembinaan yang berbasis akidah Islam. 

Akidah (Islam) yang nantinya akan menjaga anggota dari tindakan keburukan, seperti premanisme. Pembinaan ini pula akan membentuk karakter anggota menjadi individu berkepribadian Islam. 

Tanpa pembinaan yang benar (berbasis akidah Islam), besar kemungkinan ormas akan sangat mudah  dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk tujuan mem-back up kepentingan bisnis atau politiknya. 

Selanjutnya, dilihat dari segi fungsinya. Ormas dengan pembinaan yang benar tentu akan menorehkan peran yang luar biasa baik. Ormas sepatutnya mampu memberikan kontribusi terhadap perbaikan masyarakat. 

Pembinaan menutup celah berupa bentrok/konflik kepentingan. Selain itu, ormas dapat menjadi sarana dalam mengoreksi  kebijakan pemerintah (muhasabah lil-hukkam). Peran ini sangat penting dalam memajukan negara. 

Kesadaran akan posisi dan fungsi yang baik dan benar dari sebuah ormas akan terwujud apabila pemerintah turun tangan langsung.

Negara merupakan kunci utama dalam mengarahkan ormas-ormas ke arah Islam. Saling bahu-membahu dalam pembangunan masyarakat dan negara. 

Allah SWT berfirman:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.” (TQS Al-maidah: 3) 

Wallaahu'alam

YOUR REACTION?

Facebook Conversations