Oleh : Devi Rizki
Aktivis Dakwah

Pendidikan sejatinya menjadi sebuah acuan perubahan bagi generasi masa depan. Memperjuangkanya adalah sebuah keharusan. Karena majunya sebuah negara tergantung pada taraf berfikir dari generasi-generasinya.

Tak dipungkiri berbagai upaya kerap dilakuakan oleh para peserta didik. Termasuk pendidik untuk berlomba menjadi yang terdepan, berharap menggapai masa depan yang kian menawan di masa mendatang. Maka salah satu upaya yang dilakukan di saat sekarang dengan melakukan pembelajaran jarak jauh daring.

Dikutip dari, tempo.co, Seorang guru di SD Negeri Menteng Dalam 11, Tebet, Jakarta Selatan, Erni Ritaningsing (49) memiliki strategi khusus untuk membantu murid-muridnya yang kesulitan belajar dari rumah karena terkendala kuota internet.

Itulah, salah satu usaha dikerahkan hingga pengorbanan yang kerap menyita banyak perhatian. Di masa pandemi seperti ini dunia pendidikan tengah dilaksanakan dengan metode pembelajaran melalui sistem online atau yang biasa dikenal dengan istilah Daring (Dalam jaringan) yang mengharuskan pelajar belajar dengan sistem online.

Ditengah pembelajaran daring ternyata ribuan masalah justru hadir. Tak sedikit dari para pelajar yang memberatkan kurangnya sarana dan prasarana sampai sistem jaringan internet yang kurang memadahi.

Adalah Dimas pelajar SMP yang tetap berangkat sekolah karena tidak bisa mengikuti proses belajar dari rumah (BDR) secara daring karena tidak memiliki HP. Ia pun belajar di kelas seorang diri dengan dibimbing seorang guru, (PortalJember, 20/7/2020)

"Barangkali, bagi keluarganya, beras jauh lebih dibutuhkan dari pada ponsel pintar dan kuota internet," kata Kepala SMPN 1 Rembang Isti Chomawati, Kamis 23 Juli 2020.

Sulitnya akses internet, di wilayah terpencil pelosok negeri ini yang berhasil menyita perhatian. Kampung Todang Ili Gai, Desa Hokor, kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, Provinsi NTT menjadi salah satu wilayah yang terisolir dari berbagai akses kehidupan saat ini.

Selama masa pandemi, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tidak bisa dilaksanakan. Pemerintah Kabupaten Sikka, melalui Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (PKO) pun membuat kebijakan pembelajaran melalui radio bagi murid Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), ( Merdeka.co26/7/2020)

Namun agaknya kebijakan tersebut tidak bisa dilaksankan karena banyak orang tua murid yang mengaku tak mampu membeli Radio.

"Anak-anak tidak belajar, guru juga tidak mendampingi anak didik belajar di rumah. Kita tak punya biaya membeli radio," ungkap, Lukas Lupa, warga Dusun Todang, Desa Hokor kepada Liputan 6.com

Proses belajar melalui Daring ini bahkan dinilai menjadi hal yang memberatkan bagi sebagian orang tua murid dengan keadaan ekonomi menengah kebawah. Terang saja jangankan untuk memiliki sebuah ponsel pintar atau menyediakan kuota yang memadai, untuk bisa cukup makan sehari-hari saja sudah untung.

Diketahui riset terbaru dari Inovasi Untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) mendapati bahwa program tersebut tak diwujudkan dengan baik di lapangan, (Asumsi.Co)

Alih-alih mengurangi penyebaran virus Corona. Mungkin gagasannya cemerlang namun penerapannya yang kurang. Sehingga proses belajar melalui daring ini tak berjalan sesuai yang diinginkan.

Masa pandemi ini menyingkap jelas kegagalan pembangunan kapitalistik, pemerintah dalam hal ini brutal membangun infrastruktur namun tidak memberi daya dukung bagi kebutuhan dasar rakyat.

Lalu pembangunan itu untuk siapa sebetulnya?

Bahkan memberikan ketersediaan sarana telekomunikasi dan jaringan yang memadahi tak mampu dipenuhinya oleh pemerintah. Sekali lagi Rakyat dengan keadaan ekonomi menengah kebawah dipaksa dan dituntut untuk memenuhi segala kebutuhannya sendiri.

Hal miris yang tak bisa digambarkan disebuah

negeri yang kaya akan Sumber Daya Alam yang melimpah, justru rakyatnya dibuat menjerit tak berdaya.

Bukan suatu yang aneh, sistem kapitalisme sekuler nyata-nyata telah membuat peranan pemerintah bukan sebagai pelayan melainkan menjadi lawan bagi rakyatnya. Sistem yang harus diganti dengan sistem yang jelas berkepihakanya terhadap urusan rakyatnya, itu semua bisa terwujud jika sistem islam yang diterapkan.

Dalam Islam, dasar sistem pendidikan adalah akidah Islam. Keimanan terhadap Allah SWT. Sebelum melakukan perbuatan seseorang akan menilai telebih dahulu apakah perbuatan itu bertentangan dengan keimanan atau justru sebaliknya.

Setiap pelajar dituntut untuk menjadikan keimanan sebagai tuntunan hidup. Mereka diharap mampu mengembangkan pengetahuan tersebut demi kemajuan Islam dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.

Dengan demikian pelajar dapat mempunyai pola pikir islam, kepribadian islam dan mempunyai pola sikap islami. Sehingga apapun masalah yang datang maka akan diselesaikan secara islami pula.

Negara akan menyiapkan fasilitas yang dapat medukung proses belajar. Ini supaya pelajar tak merasakan kesulitan dalam belajar. Meski ditengah keadaan yang serba terbatas.

Masihkah kita enggan mengganti sistem yang ada sekarang dengan sistem yang lebih baik yaitu dengan sistem Islam.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations