Oleh: Luluk Kiftiyah
Muslimah Preuneur

Indonesia mengalami pandemi Covid-19 tak kunjung melandai, bahkan pada bulan Juli 2021, angka kematian nasional tercatat mencapai 826 kasus, sehingga total ada 65.457 orang dilaporkan meninggal dunia karena virus Covid-19 di Indonesia.

Dari jumlah tersebut, Jawa Timur menjadi propinsi tertinggi yang meninggal dunia dengan 180 kasus, sehingga secara akumulatif kasus kematian di Jawa Timur ini berada di angka 13.806 kasus. Sementara, angka tertinggi kedua akibat Covid-19 ditempati Jawa Barat dengan 164 kasus. Disusul Jawa Tengah dan DKI Jakarta dengan 162 dan 90 kasus. (m.liputan6.com, 10/7/2021)   

Adanya PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) darurat yang diberlakukan sejak 3 Juli hingga 20 Juli 2021 nampaknya tak memberikan hasil yang baik. Sebab, di saat masyarakat dibatasi kegiatannya untuk menekan penyebaran Covid-19 justru Indonesia kedatangan para TKA China. Melihat hal tersebut, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera berkomentar melalui akun Twitter pribadinya @MardaniAliSera, “Jangan lagi terjadi pembatasan dengan PPKM namun masih menerima tamu asing seperti kedatangan TKA.”  (pikiranrakyatdepok.com, 6/7/2021).

Ironinya di saat naik-naiknya virus dari China, Indonesia malah menerima TKA China. Saat sedang marak-maraknya varian baru virus Delta dari India, Indonesia malah membuka TKA asal India. Apa ini namanya jika bukan bunuh diri? Padahal, sudah diingatkan untuk menutup 4 bandara Internsional di Jakarta, Medan, Surabaya, dan Bali. Namun tak diindahkan, malah Menteri Kemaritiman dan Investasi berkata “Kalau tak tau masalah gak usah ngomong.” Sungguh sikap arogan sedang dipertontonkan di tengah masyarakat, sehingga tak heran jika kasus Covid-19 makin mengganas. 

Sudah 2 tahun lebih pandemi tak kunjung berlalu. Kemarin viral di media sosial himbauan dari pak presiden agar rakyat “Sabar” dalam menghadapi pandemi ini. Sementara dalam bertahan hidup rakyat tak hanya butuh sabar, tetapi  butuh makan. Di masa sulit saat pandemi ini banyak yang kehilangan pekerjaan, banyak pedagang yang gulung tikar sedangkan kebutuhan pokok makin mahal, sekolah tetap bayar penuh meskipun dilakukan secara daring.

Belum lagi jika keluarga ada yang sakit, tentunya butuh biaya lagi. Banyaknya yang terpapar virus Covid-19 menyebabkan susah mendapatkan pelayanan kesehatan karena rumah sakit penuh. Akibatnya banyak yang harus dirawat di rumah dan mengantre untuk mendapatkan oksigen. Bahkan ada cerita yang menyayat hati dari seorang pemuda yang tengah antre oksigen untuk ayahnya. Cerita ini diceritakan oleh seorang pengguna Twitter @Rizkyaji yang tak sengaja mendengar pembicaraan antara seorang pemuda dengan keluarganya saat berada dalam antrean oksigen. Keluarganya berkata, “Nak pulang, sudah tidak usah antre lagi, bapak dah gak ada.” (suara.com, 10/7/2021)

Lantas apakah cukup hanya dengan “Sabar” mengatasi masalah ini? 

Rasanya narasi sabar tak perlu diajarkan kepada rakyat. Sebab sejak awal pandemi, rakyat sudah sabar dengan kebijakan-kebijakan inkonsisten yang diambil oleh pemerintah. Hingga hari ini adanya kebijakan PPKM darurat yang kabarnya akan diperpanjang sampai tanggal 2 Agustus yang tentunya akan berdampak pada ekonomi rakyat. 

Dalam hal ini, rakyat tidak hanya butuh ucapan “Sabar” dari seorang pemimpin nomer satu di negeri ini. Namun butuh solusi atas problematika yang dihadapi di masa sulit seperti pandemi saat ini. Rakyat butuh dijamin kebutuhan dasarnya seperti kebutuhan sandang, pangan, papan, termasuk juga pendidikan dan kesehatan. Negara seharusnya  menopang kebutuhan dasar rakyatnya selama PPKM darurat jika memang ingin pandemi ini segera berakhir. Agar PPKM darurat berjalan dengan baik dan hak rakyat terpenuhi.

Namun jika negara hanya menerapkan PPKM darurat tanpa memperdulikan kebutuhan dasar rakyatnya, mustahil keadaan ini akan segera membaik. Sekalipun PPKM darurat diperpanjang selama apa pun, yang ada rakyat tidak meninggal karena virus Covid-19 tetapi juga karena kelaparan. Melihat fakta saat ini, rakyat sudah mulai jengah dengan kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Kebijakan yang diambil seolah sebuah terapi kesabaran, karena PPKM darurat ini galak pada kaum pribumi dan lunak pada  TKA.

Saat kondisi seperti ini  rakyat kecil hanya bisa menyumpai, meratap, dan melihat tingkah laku pemimpin yang pongah dan serakah. Solusi yang diberikan hanyalah isapan jempol semata yang penuh dengan berbagai kezaliman. Entah sampai kapan rakyat harus terus menanggung derita.

Sedari awal sejak virus ini ada di wuhan, sudah diingatkan untuk melokcdown agar tidak menerima TKA dari China tetapi para petinggi malah meremehkan virus ini dengan dagelannya masing-masing. Ada yang bilang corona itu kepanjangan dari “Komunitas Rondo Memesona”, ada juga yang bilang jika orang Indonesia itu kebal dengan corona karena doyan makan nasi kucing, bakan pak presiden sendiri memastikan virus corona tak terdeteksi di Indonesia. Namun sekarang yang terjadi apa? Malah Indonesia menduduki kasus dan kematian tertinggi di ASEAN akibat Covid-19.

Jika sudah begini mau bagaimana? Tidak ada yang tau kapan pandemi ini akan berakhir. Sampai kapan penderitaan rakyat berakhir jika hanya diminta untuk “Sabar” dan kebijakan yang diambil begini-begini saja. Bukankah adanya pandemi ini menunjukkan wajah asli boroknya sistem kapitalis bahwa nyawa rakyat bukanlah menjadi prioritas. Dalam sistem kapitalis hal yang paling dikedepankan adalah untung-rugi. Bukan kemaslahatan umat. Bahkan adanya virus covid-19 ini dijadikan sebagai ladang bisnis oleh mereka pemilik modal. Tak perduli rakyat kelaparan atau kesusahan, yang penting mereka meraup keuntungan.

Berbeda ketika Islam diterapkan, negara akan segenap tenaga mengayomi rakyatnya. Negara akan melakukan lokdown dan membiayai kebutuhan dasar rakyat baik sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan. Bukan malah sibuk mencari istilah lain seperti PSBB atau PPKM agar terhindar dari Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. 

Wallahu a’lam bishshawab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations