Oleh : Maman El Hakiem

Jujur, segala berita tentang Islam, jika benar dibingkai jahat, jika hoaks dijadikan delik. Terlebih jika berita itu menyangkut umat Islam yang ingin mengamalkan ajaran agamanya secara kaffah.

Sekedar kulit saja ditampakan sebagai berita membahayakan, apalagi jika umat menampakan isi dari ajaran Islam secara nyata, isu akan dibingkai radikalisme dan terorisme. Inti Islam akan dianggap utopis,sedangkan kulitnya dianggap mitos. Islam terus digiring pada fragmatisme secara politis dan idiologis.

Sejarah Islam yang secara politis pernah menguasai dua pertiga belahan dunia, sering dicibir sebagai romantisme kisah klasik, sekedar mimpi yang sulit dapat diwujudkan kembali. Tidak sedikit diantara para pemikir Muslim sendiri yang terhipnotis sihir demokrasi, sehingga terlelap begitu dalam sesatnya idiologi kapitalisme atau sosialisme. Lupa kacang pada kulitnya, jika dirinya seorang muslim yang harus terikat dengan akidah Islamnya.

Pemahaman akidah tergerus sistem yang batil saat ini, sehingga maknanya begitu dangkal, sebatas keyakinan akan adanya pencipta, yaitu Allah SWT dengan konsekuensi pengamalan ritualitas rukun Iman semata. Padahal, akidah sejatinya adalah akar pohon yang menghujam ke bumi, di atasnya tumbuh bercabang dahan dan rimbun daunnya menaungi indahnya peradaban. Keyakinan yang pasti dari pemikiran yang mendalam tentang fakta kehidupan, sehingga dalil dari Allah SWT bisa diterapkan untuk menghukumi segala fakta kehidupan.

Akidah Islam harus menjadi dasar pemikiran Islam, maka pemikiran yang tidak didasari oleh akidah Islam, tidak bisa dikatakan sebagai pemikiran yang Islami. Karena itu framing jahat tentang Islam, jika itu dilakukan oleh mereka yang non muslim tentu hal wajar, karena dasar pemikirannya bukan akidah Islam. Tetapi, yang lucu tentu jika framing jahat tentang ajaran Islam, seperti khilafah keluar dari mulut orang Islam itu sendiri.

Jika ditelusuri akar masalahnya, meminjam istilah Prof Steven Suteki, karena umat Islam kurang terbiasa dengan literasi keislaman yang sejati, umat dicekokioleh berita "sampah" peradaban kapitalisme atau sosialisme yang telah membuat frame Islam itu jahat, penuh darah dan kekerasan. Lupa bahwa Islam sejatinya agama yang ramah dan penuh kasih sayang, jihad sekalipun gambaran rahmat Islam untuk semesta, bukan seperti persepsi Barat, sebagai ekspansi kekuasaan yang disamakan dengan imperialisme Barat yang arogan. Namun,makna jihad juga tidak bisa dikaburkan, bahkan disamakan sekedar "mujahadah", bersungguh-sungguh, apalagi dipelintir menjadi ijtihad, secara makna syari berbeda jauh.

Pentingnya literasi Islam yang benar di kalangan umat,  tentang peradaban Islam yang agung dengan ajaranya yang mulia, dapat mengakhiri frame jahat tentang Islam itu sendiri. Inilah sesungguhnya yang terjadi saat ini, fase "ghazwu al fikr" luar biasa. Peneggakan sistem pemerintahan Islam yang akan menerapkan syariah secara kaffah yang terkesan sebuah ancaman, bukan harapan lahir dari mulut para pembenci Islam yang miskin literasi. Untuk itu tugas kita semua memberikan kesadaran umum agar umat melek literasi tentang sejarah peradaban Islam tanpa sekulerisasi dan distorsi pemikiran orientalis yang sering menyimpangkan fakta Sejarah sebenarnya. Framing jahat tentang Islam harus diakhiri dengan kebangkitan pemikiran umat dalam mengkaji ajaran Islam secara utuh dan menyeluruh.

Wallahu'alam bish Shawwab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations