Oleh: Maman El Hakiem

Kemenangan yang sudah berada di depan mata, bisa tiba-tiba hilang. Kandas karena kecerobohan atau ketidaksabaran mengatur pola permainan.

Gol dari tim lawan pada detik-detik akhir pertandingan, akan selalu menyesakan dada siapapun, bukan hanya pemain, tetapi penonton bisa jadi anarkis. Itulah permainan bola berlaku kaidah “bola itu bundar”.  Menggelinding dan bersarang pada gawang, bisa dari arah yang tidak disangka.  

Sebelum pertandingan berakhir, tidak ada kata istirahat bagi seorang pemain bola. Jika ia harus keluar lapangan, bisa karena cedera atau terkena hukuman kartu merah, akibat pelanggaran berat yang dilakukannya. Seorang pemain terbaik bukan hanya mampu menciptakan gol, namun jauh lebih penting mampu berkontribusi bagi kekompakan tim dan menjadi inspirator terciptanya gol kemenangan.

Pola permainan sebuah jamaah dakwah pun tidak lebih sama seperti permainan bola di lapangan hijau. Sejak peluit awal dibunyikan, berupa perintah Allah SWT yang mewajibkan adanya kelompok dakwah yang menyerukan kepada hal yang makruf dan mencegah yang mngkar. Maka, di pundak orang yang beriman, tentu ia harus menyiapkan diri untuk siap bermain di lapangan dakwah. Menjadi bagian dari jamaah dakwah yang memiliki karakter kepemimpinan dan pola aturan Islam sebagai rujukan gerakan dakwahnya.

Tim dakwah yang hebat tidak harus dihuni para “pemain bintang”, melainkan para pemain yang mampu menjaga posisinya dan berkontribusi bagi terciptannya pola dakwah yang terukur dan terstruktur. Karenanya hal penting dalam dakwah, salah satunya  adalah ketaatan kepada “kapten” dan kekompakan tim. Jamaah dakwah itu bagaikan satu tubuh yang arah pandangan dan gerak langkahnya harus memiliki visi yang sama dalam mencapai tujuan dakwah.

Mereka yang bermain dalam lapangan dakwah, harus memiliki etos dakwah dan sinergitas, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Allah SWT: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS At Taubah:71).

Jika ada kesalahan pada pemain harus segera diingatkan, memberinya nasihat agar tidak lagi melakukan kesalahan di kemudian hari. Ketidaksabaran dalam menghadapi ujian dalam dakwah bisa menjadi blunder, sehingga tidak tercapainya target kemenangan yang di harapkan. Untuk itu harus menjadi kesadaran setiap pengemban dakwah untuk senantiasa disiplin menaati aturah syariat, karena sesungguhnya mereka menjadi teladan bagi umat.

Wallahu’alam bish Shawwab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations