Jika yang dijadikan standar adalah pemikiran dan perasaan manusia yang lemah dan terbatas, wajar jika hukum menjadi relatif dan bisa berubah-ubah, seiring kepentingan dan hawa nafsunya.

Oleh: Dewi S. Murthi, S.Si (Aktivis Muslimah)

Pada fitrahnya, setiap manusia menyukai keadilan dan sebaliknya membenci kezaliman. Sebagaimana alamiahnya manusia berpihak kepada orang yang terzalimi dan marah kepada orang yang berbuat zalim. Sayangnya, manusia kerap dibutakan oleh hawa nafsu dan mengikuti bujuk rayu setan, sehingga melenceng dari fitrahnya.

Banyak sekali kezaliman yang disengaja, yang dipertontonkan di depan mata kita. Seperti beberapa hari yang lalu, jagat twitter dihebohkan dengan tagar #GakSengaja. Tagar ini menjadi trending pasca dijatuhkannya vonis hukuman 1 tahun penjara kepada dua orang pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

Aksi teror terhadap Novel Baswedan terjadi pada 11 April 2017 silam. Saat itu, beliau hendak pulang usai menunaikan shalat Subuh di Masjid Al Ihsan yang tidak jauh dari kediamannya di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Di perjalanan, Novel didekati dua orang pria tak dikenal, kemudian mereka menyiram suatu cairan ke arah wajah Novel. Insiden itu pun mengakibatkan cacat permanen pada mata kiri Novel.

Selama dua tahun kasus tersebut berada dalam kegelapan. Hingga akhirnya, dua orang yang berperan sebagai penyerang penyiraman air keras terhadap Novel ditangkap pada Kamis (26/12/2019) malam. Sangat disayangkan, kasus ini berakhir 'menggemaskan' publik. Tuntutan 1 tahun penjara dengan alasan tidak sengaja mengenai wajah dan berdalih hanya ingin memberi pelajaran tentu melukai hati nurani dan akal sehat. Hal ini menjadi bukti kesekian kali bahwa penegakan hukum di negeri ini compang-camping. Keadilan sulit ditegakkan sekalipun oleh lembaga peradilan. Apa sejatinya keadilan itu?

Keadilan berasal dari kata dasar adil. Adil sendiri maknanya menempatkan sesuatu pada tempat yang seharusnya. Dengan demikian keadilan akan terwujud ketika sesuatu ditempatkan pada tempat yang seharusnya. Namun, hal itu bergantung pada kaca mata untuk menilai adil dan keadilan itu sendiri.

Jika yang dijadikan standar adalah pemikiran dan perasaan manusia yang lemah dan terbatas, wajar jika hukum menjadi relatif dan bisa berubah-ubah, seiring kepentingan dan hawa nafsunya. Dejavu rasanya kita menjumpai suatu kasus yang sama, bahkan diputuskan oleh hakim yang sama, namun menghasilkan putusan hukum yang berbeda. Lantas, bagaimana keadilan hakiki? 

Allah SWT adalah Zat Yang Mahaadil sekaligus yang mengetahui keadilan hakiki. Karena itu standar keadilan hakiki tentu harus bersumber dari Allah SWT, yaitu syariah Islam yang telah Allah SWT turunkan kepada kita. Ketika syariah tidak dijadikan rujukan, kezalimanlah yang terjadi. 



YOUR REACTION?

Facebook Conversations