Oleh : Mariana, S.Sos
Pemerhati Sosial dan Politik

Media Sosial (Medsos) adalah sebuah media daring, yang saat ini banyak diminati oleh masyarakat.

Medsos telah merambah hampir di semua usia dan setiap kalangan, beragam kejadian tersaji dalam fakta dan data bahkan yang tidak esensial pun menjadi menu ulasan yang banyak diminati, tak ada celah, tak ada rahasia bahkan masalah sensitif pun terkadang di umbar dengan maksud menarik simpati publik.

Miris memang, Media Daring yang seharusnya menjadi warna bagi kemajuan manusia, tekadang disalah tafsirkan bahkan disalah gunakan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat dan berpotensi menciderai singgasana anggun kehidupan keluarga. Batasan yang tidak jelas dalam penggunaan Medsos menjadikan sebagian orang bebas untuk bertutur, mengupload, memposting sesuatu yang akan menjadi problem bagi kehidupannya.

Dilansir oleh ZONASULTRA.COM, 15 Juli 2020, Tahun 2020 ini hampir semua kasus perceraian dikabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra) disebabkan oleh media sosial. Kata Mustafa, kebanyakan kasus perceraian itu, akibat terlalu aktif di Medsos hampir semua keluhan selalu dipamer.

Medsos ibarat pedang bermata dua, jika yang gunakan adalah orang bijak dan pemikir maka akan bernilai positif, tapi jika yang gunakan adalah orang ceroboh dan dungu maka akan bernilai negatif. Maka aturan dalam menggunakan medsos harus tetap diperhatikan, memperbanyak teman dalam dunia maya adalah baik, tapi mencari selingkuh adalah tindakan buruk. Posting berita atau informasi edukatif yang dapat menambah pengetahuan sangat diharapkan tapi mengumbar bahkan memamerkan rahasia rumah tangga adalah perbuatan tercela.

Ada beberapa hal yang menjadi pemicu perceraian karena medsos, diantaranya berikut ini, yaitu: 

Pertama: Narsistik Disorder. Gangguan kepribadian narsistik adalah kondisi gangguan kepribadian dimana seseorang akan menganggap dirinya sangat penting dan harus dikagumi.

Biasanya kepribadian narsistik adalah orang yang kurang kasih sayang dan haus perhatian serta ingin selalu dipuji, sehingga berbagai cara di tempuh agar dapat perhatian publik. Segala sesuatu akan diumbar baik yang sifatnya prestasi maupun wan prestasi bahkan jika perlu mengumbar aib demi sensasi untuk sebuah perhatian.

Kepribadian narsistik disorder adalah tipe orang yang tidak akan setia bahkan cenderung berselingkuh sebab sangat sulit baginya menjaga hubungan yang sehat, mereka juga memiliki harga diri yang rapuh dan mudah terluka. Emosi yang buruk inilah yang menyebabkan ia gagal membangun sebuah hubungan, menganggap dirinya yang terbaik sementara orang lain sangat buruk.

Kedua : Arus liberalisme yang semakin masif. Tantangan kebebasan saat ini adalah munculnya pendapat dan perilaku tanpa batas. Sadar atau tidak, terkadang banyak manusia yang memanfaatkan media sosial hanya untuk memamerkan hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan cenderung aib yang sebenarnya harus ditutupi.

Hanya saja saking terbiasanya sebagian masyarakat dunia maya dengan ide atau pendapat yang tidak bermutu, justru ini terus yang dikejar dan menjadi berita terpopuler, sehingga kemudian berita atau pendapat tak mutu inilah yang menjadi viral dan banyak dukungan, ada yang berkomentar memperbaiki tapi tidak sedikit yang menambah rumit persoalan.

Alhasil, kebutuhan akan medsos menjadi kabur, awalnya hanya sekadar baca atau share berita lama kelamaan menjadi ajang curhatan lengkap dengan bumbu untuk menarik perhatian, jempol dan komentar mengharukan diraih, simpatisan pun berdatangan, akhirnya kecanduan untuk memposting masalah privasi yang bahkan sangat sensitif untuk dibicarakan di ranah publik, hanya demi sebuah kesenangan dan mendapatkan rating sosial dalam dunia medsos.

Potret dunia medsos pun terkadang menawarkan sejumlah kesenangan yang menipu, mulai dari teman yang sok perhatian, hingga teman yang haus belaian alias jablay. Akibatnya dunia medsos menjadi jurang yang menjerumuskan dan menjadi celah perselingkuhan. Hal ini terjadi karena kebebasan berpendapat dan berperilaku yang menawarkan kesenangan yang palsu.

Ketiga:  Fokus pada dunia medsos lupa pada dunia nyata. Medsos bisa jadi adalah tawaran hiburan yang sangat menyenangkan sekaligus melalaikan, terkadang mungkin tidak sadar seseorang yang tadinya hanya iseng berselancar dalam dunia medsos untuk sekadar melihat informasi atau menanggapi postingan teman, akhirnya keterusan hingga melupakan dunia nyata yang harus diurusi, ada hak keluarga yang wajib dipenuhi.

Walhasil, pertengkaran kecilpun terjadi. Tidak sedikit pasangan yang sudah berkeluarga, melampiaskan rasa kesalnya melalui medsos, padahal karakter manusia yang hadir dalam dunia medsos sangatlah beragam, ada yang tulus, ada juga yang tendensius. Curhat-curhat dimedsos lanjut di telepon dan akhirnya terjadilah perselingkuhan. Masalah menjadi besar dan luas sehingga pasangan dalam keluarga tidak dapat mempertahankan mahligai rumah tangganya yang kandas karena medsos.

Perceraian karena medsos, layakkah?

Pada dasarnya pernikahan atau kehidupan pernikahan adalah memberi ketenangan, sehingga terjadi persahabatan yang penuh kebahagiaan dan ketenangan antara pasangan suami dan istri. Dalam rumah tangga setiap pasangan punya kewajiban untuk saling menasehati sehingga keharmonisan dalam rumah tangga dapat terjaga.

Hanya saja rasa egois dan tuntutan yang berlebihan kadang sedikit menciderai perjalanan rumah tangga, karakter yang berbeda kadang memicu pertengkaran kecil, ini adalah hal biasa. Yang menjadi masalah ketika pemicu pertengkaran adalah hadirnya orang ketiga yaitu medsos. Padahal medsos sejatinya adalah sarana yang memudahkan tersampainya informasi dan pengetahuan ke khalayak bukan sebagai sarana perceraian atau perselingkuhan.

Memang perceraian bukan merupakan hal yang dilarang dalam Islam, sekalipun ia merupakan aktivitas yang dibenci oleh Allah SWT. Sabda Nabi (Saw): “Perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah ialah talak.”(Riwayat Abu Dawud).

Maka dari itu bijaklah dalam menggunakan medsos, jangan sampai medsos merebut keutuhan rumah tangga, mungkin kebebasan ala liberalisme telah memberi ruang untuk berbicara dan berperilaku, tetapi ingatlah bahwa setiap anggota tubuh akan dihisab oleh AllahSwt, penyesalan mungkin terjadi setelah keutuhan rumah tangga hancur, tapi penyesalan diakhirat jauh lebih dahsyat.

Seseorang yang telah terbiasa berselingkuh dan bercerai karena medsos bukan berarti dia tidak akan melakukannya lagi, selama sekulerisme yakni paham yang memisahkan agama dari kehidupan tetap menjadi landasannya. Sebab nilai-nilai tertinggi adalah kesenangan semata dengan ukuran asas manfaat, tentu standar kesenangan menurut manusia adalah apa yang menurut dia baik sesuai ukuran logikanya, padahal akal manusia lemah dan terbatas.

Sekulerisme menihilkan peran agama dalam realitas kehidupan, halal maupun haram tak diperhitungkan, yang jelas fun dan happy. Mengingat Allah hanya pada kondisi yang susah, tapi ketika mengumbar masalah privasi dimedsos bahkan sampai berselingkuh dan akhirnya bercerai tak pernah sekalipun introspeksi apalagi menyesal, padahal telah bermaksiat karena melanggar aturan Allah. Maka, penggunaan medsos wajib mengikuti rambu-rambu agama, agar tidak membuka peluang bagi tumbuh kembangnya jalur dosa dan maksiat.

Media online harusnya dapat memberikan solusi ditengah ketidak perdayaan luring akibat pandemi. Olehnya itu, harus ada kesadaran individu dalam penggunaannya, juga kontrol masyarakat dan tentunya aturan dari Negara agar penggunaan media sosial menjadi lebih edukatif dan terarah, sehingga tren perceraian karena medsos dapat dihentikan atau paling tidak diminimalisir. 

Wallahu a’lam 

YOUR REACTION?

Facebook Conversations