Ketika anak-anak di sekolah bisakah mereka tertib memakai maskernya sepanjang waktu? Bisakah anak-anak ketika di sekolah mengganti maskernya setiap 4 jam sekali atau ketika masker mereka kotor dan basah?

Nabila Zidane, Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban


Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makariem memutuskan untuk membuka kembali kegiatan belajar dan mengajar secara tatap muka di wilayah yang berstatus zona hijau atau zona aman penyebaran virus corona (Covid-19) pada tahun ajaran baru 2020/2021.

Adapun persyaratannya pertama, pemerintah daerah di zona hijau harus terlebih dulu menyetujui dan memberikan izin untuk pembukaan sekolah tersebut. Kedua, sekolah itu wajib menerapkan protokol kesehatan. Ketiga, para orang tua siswa harus memberikan izin bagi anaknya untuk pergi ke sekolah.(cnnindonesia.com, 15/6/2020)

Ketika anak-anak di sekolah bisakah mereka tertib memakai maskernya sepanjang waktu? Bisakah anak-anak ketika di sekolah mengganti maskernya setiap 4 jam sekali atau ketika masker mereka kotor dan basah? Bisakah para guru di sekolah memantau anak didiknya agar tidak berbagi makanan atau minuman serta menjaga jarak saat berada di lingkungan sekolah baik ketika di dalam kelas ataupun saat beristirahat? Mengingat mereka adalah anak-anak. Demikianlah sederet pertanyaan yang terlintas di dalam pikiran para orang tua ketika pemerintah hendak membuka sekolah walaupun dilakukan di wilayah zona hijau.

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) berdasarkan kompas.com 16 Juni 2020 memaparkan hasil survei nasional "Kesiapan Sekolah Menghadapi Kenormalan Baru dalam Pembelajaran".

Berdasarkan hasil survei tersebut, masih ada sejumlah kendala yang ditemukan dan dinilai paling berat untuk disiapkan seandainya sekolah dibuka kembali di zona hijau. 

Mulai dari kesiapan sarana prasarana, protokol kesehatan, anggaran, sosialisasi, hingga koordinasi dengan orangtua murid dan pemangku kepentingan di daerah. 

Kendala paling berat jika sekolah kembali dibuka adalah kesiapan infrastruktur sekolah yang mendukung kenormalan baru. Karena adanya protokol kesehatan utamanya soal physical distancing yang mengharuskan kelas hanya terisi setengahnya. Tentu saja hal ini akan berimbas kepada kurikulum dan kinerja guru. Ditambah lagi pemerintah tidak juga mengeluarkan kurikulum darurat saat pandemi baik untuk pembelajaran jarak jauh maupun belajar tatap muka saat pandemi.

Guru pun kebingungan karena ketidakjelasan kurikulum dan metode pencapaiannya. Sementara proses Pembelajaran Jarak Jauh(PJJ) yang sudah berlangsung selama ini masih belum efektif. Karena banyak sekali kendala seperti minimnya prasarana belajar saat pandemi.

Jika ditelusuri sejatinya negara ini tidak memiliki panduan lengkap lagi shahih tentang penyelenggaraan pendidikan. Sebab selama ini pendidikan diselenggarakan dalam sistem pendidikan sekuler kapitalistik yang menyimpang dari Islam.



YOUR REACTION?

Facebook Conversations