Oleh: Dwi R Djohan

Masyarakat masih belum bisa percaya saat tersiarnya kabar tertangkapnya artis Nia Ramadhani (NR) dan suaminya, Ardi Bakrie (AB), beserta sopirnya, berinisal ZN, atas dugaan penyalahgunaan narkotika.

Polisi pun akhirnya menetapkan mereka sebagai tersangka setelah melakukan uji pemeriksaan urine karena mereka dinyatakan positif metamfetamin atau mengonsumsi sabu-sabu. Adapun alasan yang mereka kemukakan kepada pihak berwajib atas obat-obat terlarang yang mereka konsumsi dengan alasan tekanan pekerjaan yang banyak di tengah pandemi Covid-19.

Sosok artis cantik yang dipersunting seorang pengusaha tajir sekaligus anak konglomerat di negeri ini seolah-olah telah menjadi idaman semua wanita. Sudah cantik, pintar, kaya raya lagi. Tidak perlu memikirkan biaya sekolah, biaya make up, biaya listrik apalagi biaya untuk urusan perut. Semua sudah terpenuhi. Komplit dan sempurna, kalau kata orang-orang kapitalisme. Karena mereka memandang itu adalah syarat untuk bertahan dalam sistem yang mengutamakan modal/harta jika ingin tetap eksis. Namun sayang, kekomplitan dan kesempurnaan yang dimilikinya tidak membuat dia puas hingga akhirnya memilih obat haram ini untuk menghilangkan kegelisahan hati dan tekanan batinnya. Berarti itu tanda bahwa kekayaan tidak selamanya membuat diri bahagia.

Namun, kembali lagi bahwa harta lebih berkuasa dalam sistem kapitalisme yang sedang diemban oleh negeri ini. Dengan kekayaan yang dimilikinya, publik jadi ragu akan ketegasan aparat dalam penegakkan hukum bagi mereka. Semua orang tahu siapa mertua dari artis cantik ini yang pastinya luas koneksinya dan luas koleganya. Sudah banyak kasus yang menunjukkan hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Lalu, apakah kasus ini diperlakukan dengan cara yang sama ?

Terlihat dari upaya pengacara mereka, Wa Ode Nur Zainab, yang mengatakan setelah menjenguk kliennya di Mapolres Jakarta Pusat, Jum’at (9/7/2021) malam bahwa pasangan suami istri ini mempersiapkan untuk mengajukan permohonan rehabilitasi dan hasil pengajuan tersebut akhirnya disetujui atau di-assessment oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Hal itu diketahui dari kanal Youtube STARPRO Indonesia, Rabu (14/7/2021). Namun, tempat yang ditunjuk oleh pihak BNN untuk rehabilitasi masih dipertanyakan. Menurut Kasat Narkoba Polres Metro Jakarta Pusat, Kompol Indrawienny Panjiyoga saat dihubungi oleh Kapanlagi.com, Minggu (11/7/2021) menyatakan bahwa Polres sudah menyerahkan NR dan AB ke BNN sejak pagi. Selanjutnya mereka akan menjalani rehabilitasi di lembaga sesuai kebijakan penyidik dan keluarga. Ya, seperti dugaan publik bahwa saat sikaya terjerat hukum maka kekuataan harta pun ikut andil jadi jangan salahkan jika publik ragu atas kelanjutan kasus ini.

Masih ingat di benak saya saat membaca salah satu hadist Nabi SAW yang berkaitan mengenai kekuatan hukum di sebuah negara. Hadist tersebut tertulis bahwa Nabi SAW bersabda “Jikalau seandainya Fatimah putriku mencuri, niscaya aku potong tanggannya” (HR Bukhori-Muslim). Dari hadist tersebut tersirat bahwa Islam datang menegakkan kembali hukum dan keadilan. Jika pembesar berbuat curang, maka ia harus dihukum. Semua sama di depan hukum. Tentu Fatimah Az Zahra tidak pernah akan mencuri, tetapi pengandaian yang Nabi berikan ini menohok semua pihak. Nabi tidak akan melindungi keturunannya sendiri jika seandainya keturunan beliau, darah daging beliau, melakukan tindak kriminal. Itulah kisah yang menggetarkan bagaimana Islam berdiri kokoh menopang keadilan dan asas persamaan di depan hukum sejak ratusan tahun yang lalu.

Masihkah mau bertahan dengan tatanan hukum yang telah rusak ? Dimana hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Perlakuan yang berbeda di antara masyarakat dikarenakan kekuasaan, harta dan status social yang dimiliki. Tidak ada lagi moto keadilan di kacamata penegak hukum. Serta tidak ada lagi kejelasan hukum atas kebebasan orang-orang tajir atau si kaya saat terjerat hukum baik itu masalah ringan ataupun berat. Masihkah mau bertahan ? 

YOUR REACTION?

Facebook Conversations