Oleh: Irma Setyawati, S.Pd
Pemerhati Masalah Sosial dan Pendidikan

Ibarat sosok tamu yang agung, Maka sudah sepatutnya kedatangan bulan Ramadhan kita sambut dengan perasaan gembira dan suka cita. Mengingat datangnya bulan Ramdhan ini membawa berbagai keutamaan baik di dunia maupun di akhirat.

Ramadhan merupakan bulan rahmat, maghfirah dan pembebasan dari api neraka. Selain itu keberkahan dunia berupa kelimpahan rizki sekaligus keberkahan akhirat berupa di lipat gandakannya pahala suatu amal salih dan ibadah akan di limpahkan oleh Allah SWT. Maka wajar jika bulan Ramadhan di sebut Sayyid Asy-Syuhur (penghulu segala bulan).

Agar kita optimal menjalankan aktivitas ibadah di bulan Ramadhan kita perlu mempersiapkan kekuatan fisik hingga ruhiyah. Menguatkan ruhiyah dengan mempelajari fiqih puasa dan keutamaan-keutamaan amal ibadah di bulan Ramadaan dan menjaga kesehatan fisik dengan pola makan dan istirahat yang teratur, serta menyiapkan kesiapan finansial agar selama Ramadhan tidak di sibukkan dengan mencari uang, akan tetapi malah sibuk berbagi dengan yang lainnya.

Dalam melaksanakan ibadah dibulan Ramadhan, Rasulullah SAW lebih mengkhususkan diri banyak beribadah pada bulan ini dengan melakukan salat, membaca Alquran, zikir, bersedekah, dan pada malam kesepuluh terakhir beri'tikaf di masjid. Serta tidak bersantai-santai dan melalaikan tugas-tugas duniawi, seperti mengemban dakwah Islam.

Justru peristiwa-peristiwa besar banyak terjadi pada bulan Ramadhan, seperti ditulis Ali Hasani al-Kharbutli, al-Rasul fi Ramadhan. Juga dalam buku-buku sejarah, tafsir, dan hadis, dapat kita baca betapa sibuknya Rasulullah SAW.

Bagi Rasulullah SAW bulan puasa adalah bulan jihad, bulan perjuangan. Sejak tahun pertama Hijriah dalam bulan puasa beberapa ekspedisi militer dikerahkan untuk menghadapi musuh, kaum musyrik Mekkah yang selalu datang mengganggu dengan serangan kecil-kecilan pada mulanya, dan kemudian sampai di puncaknya pada bulan Ramadhan tahun ke-2 Hijriah dengan pecahnya perang Badr.

Tetapi justru inilah kemenangan Islam yang pertama menghadapi kaum musyrik Quraisy, ''Allah telah menolong kamu di Badr ketika kamu dalam keadaan lemah. Maka bertakwalah kepada Allah, dengan demikian kamu bersyukur'' (Q. S. 3: 123).

Setelah itu, pada tahun-tahun berikutnya, terjadi pula perang Uhud dan perang Parit, sedikit sebelum dan sesudah bulan puasa, sampai akhirnya pada Ramadhan tahun ke-8, Mekah sebagai markas besar musyrik Quraisy dapat dibebaskan, berhala-berhala dihancurkan dan tauhid ditegakkan. Dan pada Ramadhan tahun berikutnya Rasul kembali dari ekspedisi Tabuk dengan membawa kemenangan pula.

Itulah kemenangan-kemenangan Ramadhan yang terbesar, disusul dengan kedatangan utusan Banu Saqif dari Taif-- sebagai benteng terakhir kaum pagan yang paling keras -- ke Medinah, menyatakan pengakuan dan kesetiaan penduduk Taif kepada Rasulullah SAW. Itulah jatuhnya benteng terakhir kaum penyembah berhala di jazirah Arab. 

Maka sudah seharusnya kaum muslimin hari ini juga melipatkan perjuangannya dalam menolong agama Allah SWT demi tegaknya kemuliaan Islam dan kaum muslimin dengan membebaskan negeri-negeri Islam dari cengkeraman penjajah dengan mengembalikannya kepada pangkuan Islam.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations