Oleh: Safira Shalihah
Pegiat Komunitas Pena Langit

Jagat social media akhir-akhri dihebohkan dengan banyaknya kasus pelecehan seksual yang terungkap dari thread-thread yang dibuat korbannya di platform twitter.

Kebanyakan kasus terjadi di dunia kampus seperti yang cukup menghebohkan, Gilang “PredatorJarik” yang notabane adalah mahasiswa salah satu kampus negeri di Jatim. Banyak korban yang akhirnya ikut memposting bagaimana ia melakukan aksinya, dengan masih motif serupa yakni untuk penelitian. Kasus dengan motif serupa juga pernah dilakukan oleh oknum dosen di sebuah PTN. Ia awalnya mengelak apa yang ia lakukan murni untuk penelitian, namun setelah korban mengungkap ada sekitar 50 orang yang bernasib sama.

Bukan baru kali ini saja terungkap kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus. Sebelumnya sudah banyak terjadi entah itu pelakunya mahasiswa maupun sekelas dosen. Bahkan bisa jadi lebih banyak lagi kasus yang terjadi namun tidak terungkap di public. Semakin masifnya kasus seperti ini membuat kaum perempuan, atau bahkan sekarang pun korban tak lagi memandang gender, merasa was-was. Hal ini pun akhirnya mendorong berbagai gerakan feminis yang ada di kampus, organisasi, maupun LSM perempuan berupaya untuk mensolusikan permasalahan ini. Mulai dari menyusun draft peraturan sampai membuat wadah penanganan korban pelecehan. Lantas akankah ini menjadi solusi?

Ketika berbicara soal problematika, tentu kita berharap solusi yang tuntas. Bukan solusi parsial atau yang hanya mampu menyelesaikan masalah untuk sementara saja. Mungkin apa yang dilakukan berbagai gerakan dan organisasi perempuan ini sedikit bisa membantu para korban. Mengawal melalui jalur hokum maupun memberikan pelayanan psikologis untuk para korban. Namun belum benar-benar menghentikan kasus pelecehan seksual yang ada. Terlebih lagi beberapa organisasi dan wadah keperempuanan di kampus bekerja sama atau dimotori oleh LSM dan organisasi bentukan PPB seperti Girls UP atau Women’s March.

Apa hubungan organisasi tersebut dengan solusi pelecehan seksual di lingkungan kampus? Kita tahu salah satu yang gencar diusung para pegiat feminis adalah mengatasi maraknya pelecehan seksual. Untuk itu dalam skala nasional, RUU PKS terus berusaha diajukan supaya segera disahkan. Namun dari situlah mereka mencoba memasukkan nilai-nilai liberalismenya yang lain. Saya mengingat kebanyakan kasus pelecehan maupun pemerkosaan ini akan segera diusut tuntas jika yang melakukannya terdapat unsur keterpaksaan. Alias jika hubungan seksual dilakukan atas dasar sama-sama consent tentu tidak akan diperkarakan. Jelas hal ini akan semakin melazimkan perzinahan di tengah-tengah masyarakat. Orang akan merasa geram dan ikut mengecam jika kasus yang terjadi karena keterpaksaan, namun biasa saja atau justru membiarkan jika yang terjadi sama-sama mau. Bahkan pada kasus Gilang pun, yang dihighlight adalah aksinya yang sudah melecehkan sesama laki-laki namun tak ada yang merasa salah dengan pribadinya yang ternyata gay atau biseksual.

Itulah kenapa maraknya pelecehan seksual tidak akan tuntas dengan upaya apapun yang dilakukan para pegiat feminis ini. Sebaliknya justru mereka bisa menambah masalah baru dengan meloloskan nilai-nilai kebebasan seperti LGBT dan perzinahan. Jelas hal inijuga sangat bertentangan dengan hokum-hukum Islam.

Maka dari itu Islam ada sebagai aturan yang mengatur manusia secara keseluruhan baik muslim maupun non muslim. Islam punya solusi atas problematika yang ada, sebab ia berasal dari Allah Sang Pencipta manusia dan yang memiliki kuasa mengatur manusia. Allah yang menciptakan kita jelas tahu mana solusi terbaik bagi permasalahan kita.

Syariat Islam akan mengatur dan menjaga warga negaranya dari setiap hal-hal yang memicu perilaku menyimpang. Termasuk media, tontonan, apapun itu yang bisa menjadi pemicu orang-orang melakukan pelecehan seksual dengan fetishnya yang aneh-aneh seperti kasus Gilang. Selain itu dengan system pendidikannya juga akan membina masyarakatnya terutama bagi yang muslim supaya berkepribadian Islam. Perintah-perintah dan larangan seperti menutup aurot dengan pakaian yang syar’I, menundukkan pandangan akan terus dipastikan supaya warga negaranya pun tersuasanakan menjadi muslim yang taat.

System hokum pidananyapun sangat tegas. Bagi pelaku zina akan diberi hukuman rajam atau cambuk sehingga lebih mencegah orang untuk berbuat maksiat. Tentu aksi criminal seperti pelecehan dan pemerkosaan juga akan dihukum secara tegas. Selain mencegah, hokum pidana dalam Islam yang dilakukan di dunia juga akan menebus dosanya sehingga di akhirat tidak akan dihukum lagi. Begitupun dengan perilaku LGBT. Apapun yang memicu perilaku menyimpang akan dilenyapkan oleh negara, dijaga rakyatnya supaya taat, dan diberi hukuman bagi yang masih menyimpang. Dengan begitu tidak aka nada celah kemaksiatan tumbuh subur. Termasuk kemaksiatan dan tindakan criminal di dalam lingkungan kampus.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations