Oleh: Wa Ode Vivin Herdiyanti
Muslimah Kendari

Kasus kejahatan seksual yang semakin hari kian meningkat telah membuat prihatin berbagai kalangan. Ironisnya, anak dibawah umurpun ikut terjebak dalam kasus ini.

Kejahatan seksual pada anak merupakan salah satu permasalahan yang belum menuai solusi tuntas. Faktanya, sejak awal  2021, negeri kembali diwarnai dengan kejahatan yang dilakukan pada anak perempuan maupun laki-laki.

Dikutip dari https://telisik.id/news/ (Kamis,4/11/2021), pada tahun 2020 telahterjadi 36 kasus. Sedangkan tahun ini (Januari - Oktober 2021) tercatat 55 kasus. Pendamping Rehabilitasi Sosial Anak Kementerian Sosial RI bersama Dinas SosialKabupaten Konawe Selatan menangani 55 kasus anak sepanjang tahun 2021, dan paling mendominasi adalah kasus kejahatan seksual pada anak.

Kejahatan seksual bukanlah peristiwa biasa yang terjadi dikalangan masyarakat. Selain merusak masa depan anak gadis, rasa trauma pun akan terus menghantui korban seumur hidup. Sekalipun pemerintah memutuskan untuk menghukum para pelakudengan belasan tahun penjara, belum tentu mereka akan sadar dengan perbuatannya. Bisa saja sekembalinya dari penjara, pelaku akan melakukan aksinya. Makatak heran, kasus kekerasan pada anak justru semakin meningkat.

Selain itu, begitu banyak pemicu yang membuka peluang terjadinya kejahatan tersebut seperti pornografi dan pornoaksi yang tersebar banyakdi dunia maya,tayangan televisi yang mengarahkan pada kehidupan bebas atau pun majalah-majalah yang bebas mengumbar aurat wanita.

Sejatinya, kekerasan seksual ini merupakan suatu aktivitas yang lahir dari sistem sekuler Kapitalisme,yaitu sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Kekerasan seksual menimbulkan dampak luar biasa kepada korban, meliputi penderitaan psikis, kesehatan, ekonomi, dan sosial hingga politik. Dan yang lebih ironis lagi, lembaga penyiaran yang pada dasarnya berfungsi untuk menyiarkan sesuatu hal yang berbau edukasi sekarang malah terfokus pada pornografi. Inilah ketika peraturan kehidupan manusia diserahkan kepada akal manusia yang lemah dan terbatas (sistem sekuler kapitalisme). Faktor lemahnya hukum turut memicu derasnya kejahatan seksual ini. Hukuman bagi pelaku yang ada dinilai banyak kalangan tidak memberikan efek jeradan melindungi kaum wanita. Sekularisme dan kebebasannya telah gagal melindungi kaum wanita.

Dari sini jelaslah sudah bahwa kejahatan seksual merajalela disebabkan manusia hidup di atas aturan yang mengesampingkan fitrah penciptaan manusia. Enggan mengambil syariah Allah sebagai pijakan. Maka tidak ada cara mujarab menghentikan kejahatan seksual kecuali dengan mengembalikan tatanan hidup manusia sesuai fitrahnya. Sebagaimana firman Allah SWT  “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al Maidah ayat 50).

Islam mengharamkan pornografi dan porno aksi dalam bentuk apapun. Memisahkan kehidupan laki-laki dan perempuan dan mewajibkan keduanya menutup aurat. Islam juga mengharamkan laki-laki dan perempuan bukan mahrom berdua-duaan dan ikhtilat (campur baur). 

Wallahu A’lam bish showab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations