Kebingungan yang dirasakan orang tua kini wajar terjadi karena sistem pendidikan yang diadopsi juga membingungkan, baik dari segi penyediaan fasilitas bagi seluruh peserta didik dan pendidik, kurikulum yang digunakan, hingga kesiapan orang tua membersamai dalam PJJ.

Oleh Atikah Mauluddiyah
Aktivis Mahasiswa

Dilansir dari cnbcindonesia.com menyatakan bahwa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengakui pembelajaran jarak jauh (PJJ) memiliki dampak negatif dan permanen. Salah satunya adalah ancaman putus sekolah yang dapat berdampak seumur hidup[1]. Ancaman putus sekolah dikarenakan himpitan hidup dikala pandemi yang menjadikan siswa harus bekerja guna membantu orang tua memenuhi kebutuhan hidup.

Menjawab kekhawatiran ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (Kemendikbud) baru-baru ini juga merilis kurikulum darurat bagi sekolah yang tetap menerapkan kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), SD, SMP, SMA dan SMK yang berfungsi sebagai penyederhanaan kompetensi dasar[2].

Disisi lain terdapat rencana untuk melakukan sekolah secara tatap muka pada daerah selain zona hijau. Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Letnan Jenderal TNI Doni Monardo mengungkapkan alasan di balik rencana pemerintah memulai kegiatan sekolah secara tatap muka selain pada zona hijau[1].

Kebingungan bagi orang tua, disatu sisi terdapat orang tua yang merasa kebingungan karena tidak mampu membersamai anak-anaknya untuk melakukan PJJ, disisi lain terdapat orang tua yang merasa was-was apabila anak-anak mereka sekolah secara tatap muka.

Kebingungan yang dirasakan orang tua kini wajar terjadi karena sistem pendidikan yang diadopsi juga membingungkan, baik dari segi penyediaan fasilitas bagi seluruh peserta didik dan pendidik, kurikulum yang digunakan, hingga kesiapan orang tua membersamai dalam PJJ.

 

Islam Kaffah Tawarkan Solusi Hadapi Pelaksanaan Proses Pendidikan di Kala Pandemi

Islam merupakan agama yang diturunkan Allah SWT yang di dalamnya terdapat aturan menyeluruh tentang kehidupan, bahkan masalah pendidikan Islam memiliki solusi untuk setiap problem yang muncul.

Kebijakan lockdown atau penguncian areal yang terjangkiti wabah merupakan langkah pertama yang akan diambil. Pada wilayah yang tidak terkena wabah akan menjalankan rutinitas sebagaimana biasanya karena area wabah sudah dikunci. Sehingga kondisi negara secara global akan stabil meskipun tertimpa wabah. Negarapun bisa fokus dalam menyelesaikan wabah pada area yang telah terkunci tanpa khawatir wabah meluas ke wilayah lainnya.

Wilayah yang telah dikunci diterapkan kebijakan penanganan wabah mulai dari isolasi bagi orang yang terinfeksi dari yang sehat, social distancing, pengujian cepat serta akurat, pengobatan hingga sembuh serta peningkatan imunitas warga yang sehat. Pemenuhan kebutuhan pokok bagi semua warga secara lagsung, sehingga warga hanya fokus dalam upaya pemulihan dan peningkatan imunitas guna memutus rantai penularan wabah dan mengakhirinya. Oleh karena itu, masalah pendidikan di masa pandemi tidak akan berkepanjangan dan menimbulkan kegelisahan di tengah masyarakat.

Terdapat lima kebijakan dalam Islam yang mampu mengantarkan siswa menjadi manusia pembangun peradaban mulia termasuk di masa pandemi[3].

Pertama, pelaksanaan pendidikan berdasarkan aqidah Islam. Landasan ini terus digunakan meskipun dalam masa pandemi. Bahkan landasan aqidah Islam semakin dikuatkan di masa pandemi, sehingga menjadikan manusia semakin kuat ketaqwaan dan ketundukannya kepada Allah SWT.

Kedua, kurikulum dibentuk berdasarkan landasan aqidah Islam sesuai dengan jenjang usia peserta didik. Bobot materi tsaqofah Islam dan ilmu terapan harus seimbang. Ilmu yang mengasah kecakapan hidup harus selalu menyertai kurikulum pendidikan sehingga terbentuk kepribadian Islam. Pada masa pandemi kurikulum ini tetap diterapkan sehingga peserta didik dan pendidik melakukan aktivitas pembelajaran dengan senang hati baik secara langsung maupun online.

Ketiga, metode pengajarannya merupakan metode yang benar. Tujuan pembelajaran bukan hanya sebatas mendapatkan nilai semata, namun pengamalan dari ilmu yang didapatkan. Metode yang digunakanpun harus menjadikan peserta didik terbentuk proses berfikir di dalamnya, yakni menggambarkan fakta (ilmu yang disampaikan) oleh pendidik kepada peserta didik sehingga terbentuk proses berfikir dan menghasilkan perbuatan. Begitupun di masa pandemi, metode pengajaran seperti ini tetap dilaksanakan.

Keempat, pengunaan teknik dan sarana pengajaran yang benar. Teknik pembelajaran secara tatap muka dengan jarak jauh pasti berbeda. Apapun teknik yang digunakan seperti pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, selama tidak bertentangan dengan syariah Islam boleh digunakan asalkan tidak mengabaikan metode dengan proses berfikir. Selama pandemi pendidik diharapkan semakin menumbuhkan kesabaran dan ketekunan saat pembelajaran baik secara langsung mapun jarak jauh.

Kelima, adanya dukungan langsung negara terhadap seluruh aspek pendukung pendidikan termasuk anggaran. Jaminan diperolehnya pendidikan kepada seluruh warga dari segi fasilias, sarana, dan prasarana, baik saat pandemi maupun tidak. Pada masa pandemi yang lebih menguras tenaga dan biaya, negara perlu mangantisipasinya dengan model pembiayaan berbasis baitul mal. Baitul mal didesain untuk memiliki kemampuan finansial terbaik untuk berjalannya fungsi negara pada kondisi apapun.

Kelima kebijakan tersebut hanya dapat dilakukan ketika negara menerapkan Islam Kaffah. Walhasil peserta didik, pendidik, bahkan orang tua tidak akan merasakan kegalauan, kebimbangan dan keresahan menghadapi persoalan pendidikan baik di masa pandemi ataupun bukan.

Wallahua’lam bishowab.

 

[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20200807171702-37-178306/bunda-menteri-nadiem-sebut-sekolah-jarak-jauh-merusak-anak

[2] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20200807182115-37-178321/menteri-nadiem-keluarkan-kurikulum-darurat-covid-19-ada-apa

[3] https://www.muslimahnews.com/2020/06/21/sekolah-zona-hijau-tetap-bikin-galau/

YOUR REACTION?

Facebook Conversations