Oleh : Ummu MarQiSa
Licensed Promotor STIFIn & Licensed Hipnoterapys

"Jika ingin menghancurkan suatu bangsa maka rusaklah wanitanya karena jika sudah rusak wanitanya maka rusaklah generasi penerus bangsanya".

Di masa pandemi covid-19 yang tidak diketahui kapan berakhir, Indonesia juga masih harus menghadapi berbagai problem yang juga tak kunjung selesainya. Dari masalah kesehatan hingga problem ekonomi, tak terelak juga masalah sosial yang baru ini mendera generasi muda.

Sebanyak 240 remaja mengajukan permohonan dispensasi nikah di pengadilan agama Jepara Jawa Tengah. Diberitakan permohonan dispensasi nikah didominasi kedapatan hamil diluar nikah mencapai 50 persen. Lainnya karena usia yang belum sesuai aturan, namun sudah niat menikah.  Pengadilan Agama tak sampai hati menolak pemohon dispensasi nikah. Meski usia pemohon tidak termasuk dalam Undang-undang no.16/2019 tentang perkawinan, batas calon pengantin putri berusia 19 tahun, namun karena iba, dispensasi nikah menjadi solusi bagi perbuatan asusila mereka.

Tercatat sejumlah 240 permohonan dispensasi nikah dalam  rentang waktu dari januari sampai juli 2020. permohonan dispensasi nikah berusia antara 14-18 tahun. (jawapos 26/07/2020)

Di Jawa Barat permohonan dispensasi nikah dini lebih besar lagi. Baik karena faktor geografis, insiden hamil diluar nikah, tingkat pendidikan dan ekonomi rendah, adat istiadat, agama. (kompas 20/07/08)

Indonesia masih menduduki urutan tertinggi di dunia dalam hal pernikahan dini yang  dibuat berdasarkan permohonan dispensasi nikah karena akibat fatal dari seks bebas generasi muda.

Dahulu Indonesia dikenal negeri timur yang berbudaya, masyarakatnya menjunjung sopan santun dan nilai ketimuran yang luar biasa dengan adab malunya tinggi. Namun seiring globalisasi, adopsi nilai liberal buah demokrasi tak terbantahkan lagi.

Seks bebas adalah perbuatan dosa besar yang sangat mencoreng dan aib besar bagi keluarga. Namun hari ini seks bebas dan hamil diluar nikah itu sudah dianggap hal yang biasa sebagaimana yang terjadi di negara-negara yang berpaham sekuler dan mengagungkan kebebasan individu.

Dimana tatanan agama hanya dalam lingkup ibadah, namun untuk masalah sosial pergaulan laki laki dan perempuan mengikuti hawa nafsu dan kebebasan individu. Inilah yang diadopsi oleh negara indonesia sehingga hilanglah sopan santun dan urat malu yang menjadi ciri khas indonesia.

Jika ditelisik lebih dalam,  belum ada pencegahan dan upaya menghentikan seks bebas secara masif. Orang tua kurang memberi perhatian, anak diberi kebebasan hingga hidup tanpa aturan. Masyarakat sebagian besar cenderung cuek terhadap pergaulan bebas remaja, bahkan negara pun kurang peduli dengan sumber daya generasi penerus.

Sungguh sangat merugi, bila hal ini dibiarkan. Sebagai rasa sayang dan penjagaan generasi penerus, maka sudah selayaknya orang tua,masyarakat, maupun negara sudah harus bersama sama memikirkan pencegahan untuk ke depannya supaya hal ini tidak merusak generasi penerus bangsa.

Orang tua sebagai pendamping terdekat bagi putra putrinya membekali diri ilmu pergaulan yang berakal sehat dan berpondasi islam untuk membekali putra putrinya.

Masyarakat sebagai penjagaan kedua, sudah semestinya ikut menjaga generasi penerus bangsa, tidak membiarkan atau acuh terhadap remaja kita, apakah dengan meminimalkan tempat tempat yang merusak moral generasi penerus atau mengingatkan baik secara offline maupun online. Terlebih negara sebagai penjaga yang memiliki kewenangan, akan lebih mudah dalam menutup tempat tempat maksiat.

Selama ini negara sebagai penjagaan terkuat dari sebuah generasi hanya membuat kebijakan yang memunculkan masalah baru. Negara hanya memberi penjelasan tentang alat reproduksi dan bagaimana reproduksi secara aman dengan alat kontrasepsi yang efeknya melegalkan zina. Namun negara tidak membuat sebuah pencegahan yang membuat mereka takut untuk melakukan zina dan efek jera bagi pelaku seks bebas.

Dari permasalahan yang ada, sesungguhnya yang dibutuhkan bukan larangan nikah dini dan dispensasi nikah.

Bangsa ini membutuhkan pemberlakuan sistem ijtimaiy islam agar generasi muda siap memasuki gerbang keluarga dan mencegah seks bebas remaja.

Dispensasi nikah karena seks bebas tidak hanya berdampak pada individual saja tapi berpotensi melahirkan keluarga tanpa ketahanan karena dibangun hanya berdasar syahwat dan generasi lemah yang tidak membekali diri menjadi keluarga mandiri secara ilmu islam dan sosial serta membekali diri dengan ilmu parenting.

Islam memiliki solusi untuk permasalahan ini dengan pencegahan.

"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk (Qs Al Israa :17)

Dengan pencegahan ini akan terhindar generasi muda dari keburukan moral yang akan tertanam dimemori pikiran bawah sadarnya sehingga menimbulkan efek rasa tidak bahagia karena dihantui perbuatan salah dan juga garis keturunan yang kacau.

wallahu'alam.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations