Oleh: Mustika Lestari
Freelance Writer

Belakangan Deddy Corbuzier menjadi pusat perbincangan netizen di media sosial usai mengundang pasangan gay Ragil Mahardika dan Frederik Vollert ke podcast YouTubenya.

Dalam video yang berdurasi sekitar satu jam itu, Deddy banyak membahas seputar kehidupan dan hasrat seksual seorang gay. Netizen Indonesia pun banyak yang kecewa terhadap podcast tersebut karena dianggap memberikan ruang ekspresi untuk pasangan LGBT (http://sindonews.com,8/5/2022)

Tidak dapat dihindari bahwa kampanye eksistensi L68T di negeri ini semakin digaungkan. Dalam konsumsi sehari-hari tak ketinggalan dengan gencarnya memasukkan paham-paham kaum Nabi Luth tersebut melalui film, lagu, simbol, termasuk podcast, bahkan tak tanggung-tanggung melalui pengesahan sejumlah Undang-Undang. Padahal, bahaya dari kehadiran kaum ini adalah ancaman perilaku, di antaranya berpeluang besar dalam merusak moral dan akhlak generasi.

Jelas semakin dipromosikan, generasi semakin terancam. Mereka yang tengah mencari jati dirinya dengan gencar mencoba yang hal baru akan rentan terpengaruh dengan suguhan konten-konten tanpa filter. Salah satunya konten yang seolah mengajak kepada seks bebas dan menyimpang. Akibatnya orientasi seksual yang seharusnya diwujudkan dalam ikatan pernikahan bersama lawan jenis untuk melestarikan keturunan ke depannya, justru tidak lebih dari sekadar pelampiasan nafsu seksual belaka demi kebahagiaan yang sesaat. Belum lagi bayang-bayang penyakit berbahaya seperti HIV/AIDS.

Sayangnya, bukannya mendapat perhatian serius untuk menghentikannya, justru menyikapinya secara wajar atas dasar kebebasan berekspresi sebagai perwujudan negara demokrasi. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD menyikapi L68T tersebut sebagai hal yang tidak dapat dijerat hukum. Ia mengatakan, Indonesia adalah negara demokrasi, dimana siapa pun boleh saling berekspresi dengan syarat tidak melanggar hukum. (m.tribunnews.com, 12/5/2022)

Wajah buruk sebuah negara yang mayoritas Muslim yang menerapkan sistem demokrasi sekuler. Tidak tanggung-tanggung kemaksiatan justru diberi ruang yang semakin lebar. Negara turut melegalkan perilaku tersebut melalui sejumlah undang-undang agar tidak terjerat hukum. Sebut saja UU TPKS dan Permendikbud PPKS 30/2021 yang terindikasi kuat mendukung atau bahkan melindungi perilaku keji ini. Karena pada faktanya yang dibahas dalam peraturan di atas adalah aktivitas kekerasan seksualnya saja, sementara berbagai penyimpangan seksual, seperti perzinahan, termasuk aktivitas L68T dibiarkan saja atas nama suka sama suka. Artinya, ketika perilaku ini dilakukan ‘sama-sama mau’ oleh keduanya, maka tidak dijerat UU.

Kebebasan ekstrem yang diaruskan kepada generasi semakin kuat dengan kemasan Hak Asasi Manusia (HAM)  di negeri demokrasi ini. Dengannya penyimpangan seksual di luar nalar mendapat panggung hingga manusia terdorong untuk melakukan hal serupa, mendapatkan kebahagiaannya sendiri, meski bertentangan dengan agamanya.

Dari sini kita melihat bagaimana sistem buatan manusia ini menebarkan kesenangan dunia tipe hewani akibat penyalahan fitrah yang mewabah dimana-mana. Sistem sekuler yang menjadi pijakannya telah melahirkan pola pikir dan pola sikap liberal, melahirkan manusia yang bebas bertingkah tanpa peduli melanggar syariat atau tidak. Lagi-lagi dengan lindungan HAM. Jika pemahaman ini terus merasuk ke dalam tubuh kaum Muslim, terutama generasi akan membuat problematika paling parah menimpa generasi, salah satunya hanyut dalam L68T.

Inilah buah nyata sistem demokrasi sekuler yang hanya melahirkan manusia-manusia tanpa jati diri, manusia rusak mental, kosong spiritual, salah kaprah mengartikan kebahagiaan, terjerumus berulang-ulang dalam kubangan dosa hingga benar-benar menjadi sampah bangsa. Untuk itu, harus dipahami bahwa L68T bukan masalah sepele, melainkan masalah yang berat. Selain merusak generasi, juga merusak tatanan kehidupan serta mengundang azab Allah. Mestinya sebagai bentuk kepedulian kita kepada kaum Nabi Luth ini adalah menyadarkan dan memberi dukungan kepada mereka agar kembali kepada kodratnya sebagai laki-laki atau perempuan pada umumnya, bukan dengan pembenaran atas nama hak asasi.

Sudah saatnya menuntaskan masalah kaum L68T di negeri ini dengan mengganti sistem yang ada dengan sistem yang mampu menuntaskannya, yakni Islam. Islamadalah agama yang sempurna dengan aturan yang bersumber dari sang Pencipta, yakni Allah SWT. Dengan penerapan aturan ini, maka akan terwujud ketentraman terhadap masyarakat, termasuk penjagaan terhadap kualitas hidup manusia. Bagi generasi, Islam melindunginya dari segala yang membahayakan potensi hidup mereka. Orang tua sebagai pendidik pertamanya wajib memastikan anaknya pendapat pendidikan terbaik, terjaga akidah dan kehormatannya hingga ia menikah.

Islam mengatur bagaimana pergaulan yang dibenarkan. Mulai dari orang tua yang memisahkan tempat tidur anak laki-laki dan perempuan sejak dini, memberikan jarak dan batasan tempat tidur atas sesama anak laki-laki juga anak perempuan, larangan bercampur baur, larangan berdua-duaan, hingga larangan mendekati zina sebagaimana aturan Allah SWT di dalam al-Qur’an (Q.s. Al-Isra: 32).

Islam juga membebankan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar di tengah-tengah masyarakat untuk mencegah terjadinya penyakit sosial. Untuk itu, perilaku individu atau kelompok tertentu yang terindikasi dapat memicu hilangnya kemaslahatan orang banyak dan generasi yang akan datang, maka wajib untuk menasehatinya kepada kebaikan atau syariat Allah SWT.

Tidak sampai disitu, negara pun hadir sebagai pelindung nyata dari paham apapun yang merusak diri generasi. Mencegah masuknya konten-konten terlarang agar perilaku keji seperti L68T ditengah-tengah masyarakat tidak merebak. Begitu juga memberi sanksi yang tegas terhadap pelaku L68T yang telah ada. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang menjumpai orang yang melakukan perbuatan seperti kaum Luth maka bunuhlah pelaku dan pasangannya.”(HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Dengan demikian, penerapan sistem Islam secara menyeluruh akan menjaga masa depan generasi, mengarahkan potensinya pada arah yang benar. Lahirlah insan masa depan bangsa berkualitas yang sibuk mencari ridho Allah SWT atas potensi yang dimilikinya demi membangun peradaban yang cemerlang. Kiranya sudah saatnya mewujudkan kembali kehidupan Islam di tengah-tengah umat agar ridho Allah SWT senantiasa menyertai negeri ini. 

Wallahu a’lam bi showwab.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations