Oleh: Imroatus shalihah

Kementrian Pendidikan, Riset dan Teknologi (Kemenbudristek) menggelar upacara untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada Jumat, 13 Mei 2022.

Tahun ini tema yang diangkat Pemerintah adalah “Pimpin Pemulihan, Bergerak Untuk Merdeka Belajar. Hal ini selaras dengan tema G-20 yaitu “Recover Together Recover Stronger” atau pulih bersama.

Setelah dua tahun tatanan kehidupan dunia berubah sejak adanya pandemi Covid-19, termasuk dalam aspek pendidikan. Pandemi covid-19 telah berdampak serius terhadap kualitas pembelajaran. Untuk mengatasi persoalan ini, pemerintah meluncurkan Kurikulum Merdeka pada bulan Februari lalu sebagai bagian dari kebijakan Merdeka Belajar episode ke-15. Bersamaan dengan itu, Pemerintah juga meluncurkan aplikasi pembelajaran bagi guru untuk memudahkan implementasi kurikulum baru tersebut, yakni Platform Merdeka Mengajar.

Sejak tahun ajaran 2021/2022, Kurikulum Merdeka ini (sebelumnya dikenal dengan Kurikulum Prototipe) telah diimplementasikan pada 2.500 Sekolah Penggerak dan 901 SMK Pusat Keunggulan. Kurikulum Merdeka diadopsi dari penyederhanaan kurikulum di masa pandemi (yakni Kurikulum Darurat). Menurut Mendikbudristek, penyederhanaan kurikulum dalam bentuk kurikulum darurat efektif memitigasi ketertinggalan pembelajaran pada masa pandemi.

Menurutnya, Kurikulum Merdeka juga dinilai memiliki beberapa keunggulan. Di antaranya, lebih sederhana dan mendalam, lebih merdeka dan lebih relevan serta interaktif. Berbagai kalangan pendidikan pun menyambut antusias, terutama para guru yang merasa tidak lagi dibebani materi ajar yang padat sebagaimana pada Kurikulum 2013. Bahkan, kurikulum ini dianggap berhasil mengurangi dampak pandemi sebesar 73% (literasi) dan 86% (numerasi). Akan tetapi, apakah betul kurikulum merdeka dapat menjawab persoalan pendidikan saat ini?

Persoalan pendidikan saat ini sungguh sangat kompleks. Hal ini dapat dilihat dari realitas fakta generasi saat ini, dimana begitu banyak problem yang terjadi pada mereka. Persoalan pergaulan bebas, narkoba, konsumerisme, problem mental, menjadi deretan problem generasi saat ini. Hingga muncul istilah generasi strawberi, yakni generasi yang terlihat ‘wah’ karena jiwa kreatif dan dapat dengan cepat beradaptasi dengan kemajuan teknologi, tetapi rapuh dari sisi mental.

Fenomena ini menunjukkan kegagalan sistem pendidikan yang diterapkan saat ini, yang menggunakan asas sekulerisme kapitalisme. Sekaligus membuktikan bahwa untuk menciptakan generasi yang berkualitas, tidak cukup hanya dengan meningkatkan kemampuan akademik, baik numerasi, maupun literasi semata. Akan tetapi, yang lebih fundamental adalah bagaimana membentuk kepribadian yang agung dan mulia. 

Kurikulum Merdeka secara umum masih belum bisa membawa pendidikan menuju tujuan sahih pendidikan. Akselerasi literasi dan numerasi mungkin saja terjadi, tetapi itu semua hanya menjadi kemajuan semu dalam proses pendidikan. Sebab, tujuan hakiki pendidikan adalah menghasilkan insan mulia yang dapat mengelola bumi ini dengan baik sesuai dengan aturan Sang pencipta karena menyebarkan manfaat.

Oleh karena itu, problem pendidikan bukan terletak pada aspek kurikulum semata. Namun, ada pada asas yang dijadikan sebagai landasan, yaitu sekulerisme-kapitalisme. Sekulerisme merupakan paradigma yang memisahkan agama dari kehidupan dan negara. Pada akhirnya muatan pendidikan bebas nilai dan berstandar pada manfaat. Orientasi yang dijadikan tujuan semata untuk mendapatkan materi. Pembelajaran tidak memberikan pengaruh dalam amal perbuatan, yang ada cenderung berbuat bebas sesuai kemauan. 

Kapitalisasi pada sektor pendidikan menjadi sesuatu hal yang niscaya. Sebab, peran negara bukan sebagai periayah, namun hanya sebagai regulator. Terbukanya komersialisasi institusi pendidikan guna mendapatkan pembiayaan dari luar, akan mengaburkan arah pendidikan dari mencetak intelektual berjiwa pemimpin menjadi hanya sekedar pekerja/budak industri.

Berdasarkan hal ini, perlu adanya pergantian asas yang melandasi sistem pndidikan, yakni dari sekulerisme-kapitalisme menjadi asas yang shahih (Islam). Dalam sistem pendidikan Islam, seluruh kebijakan dan kurikulumnya akan berlandaskan pada akidah Islam. Setiap mata pelajaran serta metodologi penyampaian pelajaran seluruhnya disusun selaras dengan asas tersebut tanpa adanya penyimpangan sedikitpun dari akidah Islam. Waktu pelajaran untuk memahami tsaqafah Islam dan nilai-nilai yang terdapat didalamnya mendapat porsi lebih besar dibanding dengan ilmu-ilmu lainnya. Ilmu sains dan terapan akan diajarkan sesuai dengan tingkat kebutuhan dan tidak terikat dengan jenjang pendidikan tertentu atau formal.

Pada tingkat perguruan tinggi, kebudayaan asing dapat disampaikan setelah mereka memahami Islam secara utuh. Misalnya, ideologi sosialisme-komunisme atau kapitalisme-sekulerisme.  Materi-materi atau konsepsi selain Islam disampaikan bukan untuk dilaksanakan, melainkan untuk dijelaskan kecacatannya dan ketidaksesuaiannya dengan fitrah manusia. 

Secara struktural, kurikulum pendidikan Islam terdiri atas beberapa tujuan utama, yakni pembentukan kepribadian Islami (integrasi aqliyah dan nafsiyah), penguasaan tsaqafah Islam, penguasaan ilmu kehidupan seperti IPTEK, keahlian, keterampilan, dan kepemimpinan. Pembentukan kepribadian Islami dan tsaqafah Islam akan menjadikan generasi mampu berpikir dan bersikap sesuai dengan syariat Islam. Sehingga para generasi akan sadar untuk senantiasa terikat dengan seluruh kewajiban dan menghindari kemaksiatan kepada Allah swt. Penguasaan ilmu sains dan terapan menjadikan generasi mampu memanfaatkan ilmu-ilmu duniawi untuk keberlangsungan kehidupan mereka sehingga akan terus melakukan inovasi-inovasi serta pengembangan yang manfaatnya bisa dirasakan bagi masyarakat dan membawa kebaikan bagi agama Islam. 

Melalui sistem pendidikan Islam, generasi yang dihasilkan akan berkualitas, baik dari sisi kepribadian maupun dari sisi penguasaan ilmu pengetahuan. Peranannya di tengah-tengah masyarakat dapat dirasakan, baik dalam menegakkan kebenaran maupun dalam menerapkan ilmunya. Maka tidak mengherankan jika di abad pertengahan, islam menjadi pusat peradaban dan ilmu pengetahuan. Bahkan keilmuan kaum muslimin saat itu menjadi dasar pengembangan ilmu modern saat ini. Seperti konsep aljabar yang digagas Al Khawarizmi, ilmu mekanika oleh Al Jazari, ilmu astronomi oleh Mariam al-Asturlabi dan sebagainya. Inilah hasil pendidikan Islam yang tidak memisahkan agama dari kehidupan. Semua bisa diraih dan dirasakan keberkahannya jika Islam dijadikan sebagai aturan yang diterapkan dalam sistem kehidupan bukan hanya sekedar agama spiritual semata.

Penerapan sistem pendidikan yang komperhensif seperti dijabarkan diatas tentu membutuhkan peran Negara. Tanpa peran negara, tentu sangat sulit mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Pada faktanya, kemajuan pendidikan di Barat, sebanding dengan mahalnya biaya pendidikan yang harus dikeluarkan. Dalam negara Islam (Khilafah) nantinya akan ada mekanisme pendanaan khusus yang menjadikan pendidikan dapat diakses oleh seluruh masyarakat dengan pembiayaan yang terjangkau, bahkan gratis. Sebab, Islam memandang bahwa pendidikan merupakan kebutuhan dasar yang wajib dipenuhi oleh Negara. Sungguh, sistem pendidikan Islam telah mencontohkan dengan sangat gamblang cara mewujudkan peradaban manusia yang unggul. Selama belasan abad, Islam menjadi landasan bagi Negara (Khilafah) dalam mengelola dan melayani kebutuhan pendidikan warganya.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations