Oleh : Nabila Zidane
Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Sebelum membuat prank bagi daging kurban isi sampah, YouTuber Edo Putra ternyata pernah membuat video prank amplop tunjangan hari raya (THR) kosong.

Paman Edo, Makmun (38) menyebut keponakannya itu memberi amplop THR kosong kepada warga.

Pihak keluarga pun sudah menasihati Edo agar tak melakukan hal itu. (tribbunnews.com, 3/8/2020)

Baru saja 3 bulan yang lalu publik digegerkan dengan ulah youtuber bagi-bagi sembako isi sampah kini kembali lagi seorang youtuber bersama rekannya demi menambah follower dan eksistensi di dunia maya melakukan prank unfaedah yaitu membagi prank daging sapi isi sampah.

Hal ini wajar, sebab paham sekularisme liberal menjadi arah pandang generasi saat ini. akibatnya para generasi tidak memikirkan benar salah sesuai aturan Allah  Swt. namun eksistensi diri berlandaskan hawa nafsu yang justru diburu.

Sehingga banyak youtuber usia remaja di negeri ini yang menghalalkan segala cara walaupun hal tersebut minim ilmu, minim akhlak dan minim adab.

Liberalisme Melahirkan Generasi Minim Akhlak

Liberalisme yang dijamin sebagai kebebasan berekspresi dalam sistem demokrasilah yang menyuburkan keberadaan para konten kreator sampah. Akibatnya kejadian semacam ini akan terus berulang meski undang-undang telah melarang. Tertangkapnya Ferdian Paleka 3 bulan lalu pun tak mampu memberi hikmah kepada remaja lain agar berfikir terlebih dahulu sebelum membuat konten youtube.

Syariat Islam Menjamin Lahirnya Generasi Berkualitas dan Berakhlak

Sebenarnya generasi sampah tidak akan terlahir jika sistem yang mendidiknya benar yaitu sistem Islam.

Islam memberikan perhatian khusus bagi para generasinya sebab merekalah yang akan mengemban ideologi Islam yang mendasari seluruh cara hidup atau the way of life nantinya.

Oleh karena itu, generasi di dalam Islam ini akan dididik agar memiliki kepribadian Islam, baik dalam pola pikirnya maupun dalam pola sikapnya. Adapun pihak yang bertanggung jawab dalam merealisasikan visi ini adalah keluarga, masyarakat serta negara yakni Khilafah.

Pertama, peran keluarga adalah sebagai wadah pertama pembentukan akidah bagi para generasi melalui didikan orang tua.

Tujuan penanaman akidah pada generasi adalah agar mereka mengenal betul siapa Allah Swt. Pada usia dini pun harus diajak untuk belajar menalar bahwa dirinya, orang tuanya, seluruh keluarganya, manusia di dunia dan seluruh isinya diciptakan oleh Allah Swt. harus beribadah dan taat hanya kepadaNya sebagaimana Firman Allah Swt. dalam Quran surat Adz-dzariyat ayat 56

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ 

Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Diajarkan pula bahwa teladan terbaik adalah Rasulullah Saw. sehingga sejak kecil para generasi Islam akan tumbuh kecintaan kepada Allah Swt. dan rasul Nya dan Inilah yang akan mendorong para generasi menyukai amal yang dicintai Allah Swt. dan rasulNya dan membenci amal yang dilarang Allah Swt. dan rasulNya.

Di dalam keluarga para generasi juga harus ditanamkan rasa tanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan sehingga ketika mereka sudah tamyis akan tumbuh kesadaran dalam diri mereka bahwa segala perbuatan yang mereka kerjakan akan ada pertanggung jawabannya di akhirat. Amal baik akan dibalas kebaikan danamal buruk akan dibalas keburukan. Dengan begitu, mereka akan berhati-hati dalam bertindak dan berucap sejak dini.

Kedua, di dalam masyarakat standar baik dan buruknya adalah Islam sehingga masyarakat yang menjadi lingkungan tempat generasi Islam itu tumbuh dan hidup bersama anggota masyarakat lainnya akan menghasilkan suasana kondusif dan bersih. Dengan kata lain terjadi controlling keimanan yang luar biasa.

Para ulama, tokoh-tokoh masyarakat dan komponen-komponen lainnya yang ada di masyarakat hendaklah bersama-sama dan bersinergi mengontrol setiap kerusakan yang terjadi di tengah-tengah umat. Saling mengingatkan merupakan senjata yang paling ampuh termasuk mengingatkan agar para penguasa tidak lalai dalam menjalankan amanahnya.

Mereka juga berkewajiban untuk mencerdaskan umatnya melalui pembinaan umat secara keseluruhan dan berlangsung terus-menerus tanpa henti demi menjaga "Kesehatan Masyarakat".  Masyarakat yang sehat hanya akan terwujud dengan terlaksananya Amar ma'ruf nahi munkar di tengah-tengah masyarakat oleh seluruh komponen masyarakat, baik rakyat maupun penguasa.

Ketiga, adanya peran negara. Dalam pandangan Islam negara bertanggung jawab untuk memelihara akidah Islam dan melaksanakan hukum-hukum Allah Swt. secara sempurna di tengah-tengah kehidupan. Khilafah sebagai instansi praktis akan menjalankan sistem pendidikan serta sistem sistem sosial lainnya yang terkait. 

Negara menyelenggarakan sistem pendidikan dengan kurikulum yang Islami agar umat tidak mendewakan kebebasan berekspresi dan berperilaku. 

Sebagai pelaksana hukum-hukum Allah Swt. dan rasulNya, negara memberlakukan sanksi tegas terhadap pelaku tindakan yang melanggar aturan Islam.

Adapun tujuan sistem pendidikan Islam adalah untuk menghasilkan generasi yang berkepribadian Islam yang berbekal ilmu-ilmu yang diperlukan dalam kehidupan baik ilmu keislaman atau tsaqofah Islam maupun ilmu dalam cakupan sains dan teknologi. 

Negara menerapkan sistem pendidikan ini melalui sekumpulan undang-undang syariah maupun undang-undang administrasi yang terkait dengan pendidikan. 

Inilah mekanisme penjagaan khilafah terhadap generasi yang telah terbukti menghasilkan generasi cemerlang.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations