Oleh: Via Ulva Hapsari

Korean wave atau gelombang korea adalah istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya korea secara grobal di berbagai negara di dunia sejak tahun 1990-an. Sekarang ini korean wave memicu banyak orang di hampir seluruh dunia untuk belajar Bahasa Korea dan kebudayaannya. (wikipedia.org)

Di Indonesia sendiri sebagian besar kalangan para remaja tergila-gila dengan Korea, menempati urutan ke empat sebagai negara dengan jumlah penggemar K-POP terbanyak di twitter tak heran jika Indonesia menjadi ladang emas bagi industri hiburan Korea. (minews, 22/09/2020)

Boomingnya korean wave ini tak lepas dari peran pemerintah Korea Selatan yang begitu masif  dengan guyura dana yang berlimpah. Badan pemerintah yang langsung menaungi adalah Kementerian Budaya, Olahraga dan Pariwisata Korea Selatan (MCST) yang terdiri dari KOCCA, KOFICE dan KTO.  (era.id, 14/07/18)

Di hari peringatan 100 tahun orang Korea ke Indonesia, wakil presiden KH. Ma’ruf Amin mengapreasi kedatangan orang korea. Namun sayangnya, dalam acara tersebut beliau memberikan pernyataan yang cukup menggelitik. Pasalnya dalam acara tersebut beliau berharap maraknya korean wave dapat menjadi inspirasi kreatifitas anak muda Indonesia  dalam berkreasi dan menggenalkan keragaman budaya Indonesia ke luar negeri.

Padahal jika di amati korean wave ini rentan terhadap kerusakan life style. Mulai dari kasus pemborosan demi seorang idola, kebebasan dalam pergaulan dan banyaknya kasus bunuh diri. Melihat fenomena ini tentunya ancaman bagi generasi Indonesia karena nyatanya walau korean wave menghasilkan devisa bagi negaranya tapi mengekpor budaya kerusakan bagi dunia. Alih-alih menyebarkan keberagaman Indonesia, yang ada generasi Indonesia semakin lupa akan identitasnya. Jadi, bukan terinspirasi yang ada terkikis jadi diri. Masihkah berpikir korean wave bisa jadi panutan?

Bukankah sepatutnya generasi Indonesia sebagai negara penduduk terbesar muslim di dorong untuk lebih mengenal, meneladani dan terinspirasi dengan tokoh-tokoh muslim di masa kegemilangan Islam seperti Salahuddin Al-Ayyubi, Muhammad Al –Fatih, Mush’ab bin Umair yang nyata-nyata telah memberikan kontribusi besar terhadap peradaban manusia dalam meningkatkan kemajuan berpikir dan ketaqwaan terhadap Sang Pencipta serta terbukti mewujudkan rahmatan lil alamin dalam kehidupan.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations