Oleh : Lilik Yani
Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Pandemi masih terjadi, entah sampai kapan akan berhenti. Perekonomian negeri belum terkendali, banyak pengangguran di sana sini. Bagaimana sikap pemerintah menghadapi hal ini? Masihkah para pekerja yang banyak dirumahkan ini mendapat subsidi?

Dilansir dari Okezone.com, BLT subsidi gaji bagi pekerjadengan pendapatan di bawah Rp 5 juta belum ada kelanjutan pada tahun ini. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengkonfirmasi bahwa tidak ada lagi anggaran BLT subsidi gaji dalam APBN 2021.

Sebenarnya, kata Pengamat Indef Bima Yudhistira, para pekerja idealnya masih diberikan BLT subsidi gaji. Besarannya pun bukan Rp 1,2 juta setiap bulan, minimal lima bulan atau jika ditotal Rp 6 juta per orang.

BLT subsidi gaji pada tahun ini dihilangkan karena pemerintah fokus menyalurkan bantuan sosial (bansos) lainnya. Kebijakan itu dinilai kontra produktif dengan upaya peningkatan daya beli.

"Ke depan sebaiknya stimulus berupa subsidi upah bagi pekerja ditambah bukan malah dihilangkan," kata Pengamat Indef BimaYudhistira.

Namun demikian, Menaker memastikan bagi mereka yang memang telah memenuhi syarat, maka pihaknya akan mengusahakan untuk mendapatkan BLT tersebut. Sehingga, nanti diharapkan mereka yang terdaftar sebagai penerimaakan menerima haknya.

Kewajiban Pemerintah Meriayah Umat

Dalam kondisi pandemi ataupun tidak, kewajiban pemerintah memenuhi kebutuhan umat. Terutama kebutuhan pokok sehari-hari. Apalagi dalam kondisi pandemi, dimana banyak perusahaan yang merumahkan para pekerjanya. Ada yang masih mendapat gaji separo, ada yang kurang dari separo.

Bukan maksud para pemimpin perusahaan itu untuk menzalimi para pekerjanya. Namun karena perusahaan tak beroperasi sehingga tak ada dana untuk membayar karyawan. Maka langkah yang diambil dengan merumahkan para pekerjanya dengan gaji seadanya.

Maka dari itu kewajiban dikembalikan pada pemerintah untuk meriayah umatnya. Menyedikan kebutuhan pokok kepada seluruh umat yang mengalami kekurangan.

Akibat berkurangnya lapangan pekerjaan membuat semakin banyak pengangguran. Hingga bantuan dari pemerintah sangat diharapkan.

Hanya saja pemerintah tidak siap menghadapi kondisi seperti ini. Tidak ada dana cukup untuk membantu umat. Sehingga mengandalkan hutang luar negeri. Hal ini tentulah menjadi beban bagi negara, karena tak bisa mengelola sumber daya alam.

Jika sumber daya alam yang melimpah di negeri ini dikelola dengan baik, maka tidak akan kebingungan dana ketika terjadi pandemi, maupun bencana alam. Semua kebutuhan umat akan terpenuhi. Namun karena dana yang digunakan membantu berasal dari hutang, maka bantuan diutamakan untuk rakyat yang betul-betul kekurangan.

Jika tahun sebelumnya para pekerja yang gajinya dibawah 5 juta mendapat BLT juga. Sekarang masih belum ada pemberitahuan, karena dana digunakan untuk memenuhi bansos lainnya. Begitulah jika tidak menerapkan aturan Allah. Pemerintah  dengan sistemkapitalisme cenderung peduli umat yang memberikan manfaat, daripada mengurusi umat yang dianggap menambah beban.

Bagaimana Islam memberikan solusi masalah ini?

Pemimpin Islam akan mengutamakan kebutuhan umat, keselamatan umat, kesejahteraan umat. Dalam kondisi aman maupun ujian, pemerintahan Islam akan mengutamakan kepentingan umat.

Sudah tersedia dana baitul mal untuk memenuhi kebutuhan umat. Jadi pemerintah Islam tidak bingung mencari hutangan ke luar negeri. Cukup dari baitul mal yang terus mengalir dananya. Hal itu diperoleh dari sumber daya alam yang dikelola dengan maksimal oleh negara dan dikembalikan manfaatnya kepada umat.

Pemerintah Islam juga tak membiarkan pandemi berkepanjangan karena sejak awal sigap terhadap wabah dengan menerapkan lockdown. Wilayah yang aman tetap menjalankan aktivitas normal, termasuk bidang perekonomian. Jadi tidak akan terjadi defisit, apalagi sampai mencari pinjaman ke luar negeri.

Jika pemerintah Islam sedemikian peduli memikirkan kesejahteraan umat. Masih adakah alasan untuk menolak? Alasan apalagi yang diberikan untuk menunda ketaatan dan kembali menerapkan aturan Allah? Jika tidak taat aturan, sudah siapkah menerima peringatan yang lebih keras daripada pandemi covid-19?

Wallahu a'lam bish shawwab

YOUR REACTION?

Facebook Conversations