Oleh : Syanti Komala Dewi, Amd. Ak

Di tengah meningkatnya angka penderita Covid-19, muncul klaim bahwa seorang professor di bidang mikrobiologi bernama Hadi Pranoto telah berhasil menemukan obat anti Corona.

Obat ini berbahan dasar herbal dan bisa menyembuhkan seseorang dari penyakit Corona dalam waktu 2-3 hari setelah diminum. Berita ini tentu menuai respon, dari IDI maupun Satgas Covid. Karena berbagai penelitian di laboratorium yang kompeten saja, belum mampu menemukan obat mujarab untuk Covid-19. 

Vaksin yang diimpor dariChina pun masih tahap uji coba kepada manusia. Kemudian dicarilah informasi tentang sang professor oleh lembaga-lembaga yang berkaitan dengan riset Covid. Belakangan diketahui, sang penemu obat bukanlah seorang professor. Gelar itu disematkan oleh teman-temannya sebagai panggilan kesayangan untuknya. Obat yang diklaim mampu menyembuhkan pun ternyata belum pernah diuji coba.

Segera setelah klaim itu tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, IDI dan Satgas Covid-19 mengumumkannya kepada masyarakat. Sayangnya, berita tersebut terlanjur viral dan ditelan mentah-mentah. Masyarakat yang selama ini putus asa karena pandemic yang belum juga usai, begitu gembira ketika mendengar bahwa Covid -19 telah ditemukan obatnya. Wajar saja, Selama pandemic masyarakat merasakan kesulitan di bidang ekonomi. Pertumbuhan ekonomi anjlok, banyak perusahaan collapse, PHK di mana-mana, kebutuhan hidup meningkat bahkan sekolah daring yang diterapkan selama pandemic ikut memberi tekanan psikis pada orangtua dan siswa. Dengan ditemukannya obat Covid-19, masyarakat berharap segala kesulitan hidup pun berakhir.

Selain itu, kepercayaan masyarakat kepada pemerintah terlanjur memudar. Informasi apapun yang diberikan oleh pemerintah, tidak selalu diterima bulat-bulat oleh masyarakat. Ini bukan tanpa sebab. Kiprah pemerintah dalam menangani pandemic ini terbukti belum mampu membawa masyarakat ke kondisi lebih baik. Angka pasien terkonfirmasi semakin meningkat dan ekonomi semakin sulit. Sejak awal kemunculan virus Corona di Wuhan, pemerintah terlihat lamban mencegah masuknya virus tersebut ke Indonesia. Arus lalu lintas mancanegara tanpa pembatasan dan tiada screening yang tepat untuk mendeteksi keberadaan virus dalam tubuh orang yang datang ke Indonesia, baik  melalui udara maupun laut. 

Bukankah pasien nomor 1 dan 2 di Indonesia tertular oleh turis Jepang yang berkunjung? Belum lagi kemudian ujaran-ujaran para petinggi bahwa nasi kucing bisa menghalau Corona, minyak kayu putih bisa mematikan Corona, telur bisa membunuh Corona, suhu tropis Indonesia bisa menghambat perkembangan virus dan lain sebagainya. Namun yang terjadi, korban masih terus berjatuhan. Teori tersebut tak terbukti secara empiris. Kebijakan New normal yang diterapkan dengan dalih menjaga pertumbuhan ekonomi nyatanya pun malah memperburuk keadaan. Angka pasien positif terus naik. Malah diberbagai  tempat muncul Cluster perkantoran. Pertumbuhan Ekonomi pun menuju ke angka minus. 

Lucunya, di tengah kegagalan itu, munculah fitnah terhadap dunia kesehatan yang katanya memanfaatkan pandemic untuk meraih keuntungan. Masih segar dalam ingatan dugaan ketua Banggar DPR RI tentang Rumah Sakit yang meng-Covidkan pasien yang tidak terkena Covid untuk mendapat anggaran (Liputan6.com). Padahal kondisi realnya, banyak RS yang macet operasionalnya semenjak Covid. Selain itu, banyak nakes yang gugur dalam pandemic. Diantaranya karena kelelahan menangani pasien yang terus membludak dengan APD alakadarnya. Alih-alih mengambil keuntungan, banyak nakes yang mengupayakan APD dengan merogoh kocek sendiri dan meminta donasi. Insentif punjumlahnya jauh dari yang dijanjikan. Malah ada juga yang tidak cair karenna berkas laporan yang diajukan tidak lolos verifikasi. Jujur saja, seandainya bisa memilih, para nakes pun tak mau berada dalam kondisi pandemic yang melelahkan jiwa raga ini.

Maka tidak mengherankan apabila masyarakat menjadi tidak mempercayai upaya preventif dan kuratif yang dilakukan nakes untuk mencegah penyebaran Covid. Mereka menganggap Covid hanyalah konspirasi untuk meraup keuntungan. Masker tak lagi dipakai. Social distancing sudah dilupakan. Ditambah lagi di beberapa daerah tak ada sanksi mengikat dari pemerintah daerah setempat. Hal ini semakin mengaminkan keyakinan masyarakat bahwa Covid tak nyata adanya dan bukan sesuatu yang membahayakan.

Sudah saatnya pemerintah serius menangani Covid-19 yang semakin memakan banyak korban. Yaitu dengan Memberi edukasi secara massif kepada masyarakat tentang Covid-19 dan menerapkan aturan yang ketat untuk membuat patuh masyarakat yang tidak menaati protocol kesehatan. Dan yang terpenting adalah meninggalkan ideologi kapitalisme dalam penanganan Covid. Berhentilah menerapkan kebijakan yang hanya menguntungkan kapitalis. Tanpa membawa manfaat kepada rakyat. Semoga hal itu membuat kepercayaan publik kepada pemerintah kembali.

YOUR REACTION?

Facebook Conversations