Oleh: Siti Maftukhah, SE.
Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku khawatir dengan potensi krisis ekonomi dunia tahun ini. Banyak lembaga internasional yang sudah memprediksi kontraksi ekonomi global tahun ini akan sangat dalam.

Jokowi pun meminta para menterinya untuk bekerja tidak seperti biasanya. Dia ingin semua menteri merasa bekerja seolah-olah sudah dalam kondisi krisis.

Jokowi juga meminta jajarannya untuk memiliki sense of crisis yang sama, regulasi sederhanakan, SOP sederhanakan. (https://m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-5086502/ekonomi-terancam-krisis-jokowi-terus-terang-saya-ngeri)

Setuju! Regulasi sederhanakan untuk rakyat, SOP juga sederhanakan untuk rakyat. Tidak hanya pada pengusaha besar saja. Sense of crisis harus terwujud dalam penerapan kebijakan yang lebih memperhatikan kebutuhan rakyat. Melihat keselamatan rakyat.

Jika Jokowi ngeri melihat potensi krisis ekonomi, Jokowi harusnya juga ngeri dan khawatir akan keadaan rakyat. Rakyat saat ini harus menghadapi wabah yang semakin hari semakin bertambah kasusnya. Rakyat menghadapi kondisi kekhawatiran tertular. Rakyat juga menghadapi sulitnya memenuhi kebutuhan hidup. Rakyat juga dalam keadaan bingung dengan kebijakan yang ditetapkan penguasa hari ini.

Di sisi lain, rakyat butuh bekerja untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Di sisi yang lain, wabah masih mengintai. Rakyat bingung, inginnya new normal tapi keselamatan jiwa jadi taruhannya.

Maka, yang dibutuhkan rakyat saat ini adalah penanganan wabah yang cepat dan tuntas. Tidak setengah hati. Rakyat membutuhkan pemenuhan kebutuhan dasar, terutama pangan dan kesehatan.

Wabah masih bergentayangan. Klaster-klaster baru terus bermunculan. Ini yang harusnya membuat ngeri dan khawatir presiden. Sehingga presiden bisa segera mengambil tindakan untuk mengatasi agar wabah tidak semakin menyebar.

Memang, ekonomi harus diperhatikan. Namun jangan sampai mengorbankan nyawa rakyat untuk menyelamatkan ekonomi.

Yang juga harus menjadi perhatian adalah mengapa krisis ekonomi bisa muncul secara berkala. Krisis ekonomi dunia sudah terjadi sejak 1907 disusul dengan krisis ekonomi tahun 1923, 1930, 1940, 1970, 1980, 1990 dan 1998-2001. Artinya penerapan dari sistem saat ini ternyata menimbulkan krisis ekonomi, yaitu sistem ekonomi Kapitalis.

Sistem ekonomi Kapitalis memang rapuh, karena ditopang oleh perbankan, riba dan mata uang. Perbankan mudah berubah atau terkoreksi tergantung pada kepercayaan masyarakat. Masyarakat tak percaya, maka rush money akan terjadi dan itu akan menimbulkan goncangan.

Perbankan sendiri adalah aktivitas menghimpun dana masyarakat untuk kemudian diputar kembali dengan sistem bunga/riba. Bank akan mendapat bunga dari masyarakat karena sudah meminjamkan dana. Bank juga akan memberi bunga pada masyarakat yang telah mempercayakan dananya dengan menitipkannya ke bank. Besaran bunga yang dikeluarkan bank lebih kecil daripada bunga yang diterima bank dari pengembalian pinjaman.

Sedangkan mata uang yang ada selama ini, baik di Indonesia maupun negara-negara lain di dunia memiliki kelemahan karena tak distandarkan pada sesuatu yang memiliki nilai. Hanya berupa sebuah kertas yang dipercaya masyarakat bisa ditukarkan karena ada undang-undang yang mengukuhkannya sebagai alat tukar. Mata uang akhirnya mudah terkoreksi atau tidak stabil.

Jika sistem Kapitalis dengan sistem ekonominya yang mudah mengalami krisis, kenapa tidak mencari alternatif sistem lain yang telah terbukti membuat sejahtera warga negaranya.

Adalah sistem pemerintahan Islam yang telah terbukti membawa kemajuan dan kesejahteraan kaum Muslim selama hampir 14 abad.

Dalam sistem Islam, perbankan hanya berfungsi untuk memudahkan lalu lintas keuangan seperti penukaran uang dan kebutuhan transfer. Sehingga tidak memunculkan bunga atau riba. Riba dalam Islam adalah sebuah keharaman.

Sedangkan mata uang dalam Islam, distandarkan pada emas dan perak, sesuatu yang bernilai. Sehingga menimbulkan pertukaran yang hakiki karena pertukaran terjadi pada barang yang bernilai dengan sesuatu yang bernilai, sesuatu yang riil, yaitu emas dan perak.

Disamping itu, segala aktivitas ekonomi masyarakat akan disandarkan pada syariat Islam. Wallahu a'lam

YOUR REACTION?

Facebook Conversations